Penentuan Jenis Kelamin Pada Manusia

Pada banyak organisme yang bereproduksi secara seksual, termasuk manusia, satu pasang kromosom yang terdapat pada spesies yang jantan tidak cocok dengan penjelasan tentang kromosom-kromosom homolog. Anggota-anggota pasangan kromosom unik ini tidak sama satu dengan yang lain, dan juga tidak mengandung gen-gen yang alelik. Namun demikian sepasang kromosom ini  sangat penting karena eksistensi spesies tergantung dari adanya kromosom ini, karena kromosom ini menentukan jenis kelamin (seks) individual : kromosom ini adalah kromosom seks.

1763241123Jika kita teliti baik-baik kariotipe seorang laki-laki, kita akan melihat bahwa pada grup-grup C dan G terdapat kromosom-kromosom yang ganjil jumlahnya yang menunjukkan bahwa satu dari kromosom-kromosom pada setiap grup tidak bisa dipasangkan dengan kromosom lain. Sebenarnya, grup C terdiri atas 7 pasang homolog dan satu kromosom seks, yaitu kromosom X dan grup G terdiri atas 2 pasang homolog dan satu kromosom seks lain, yakni kromosom Y, yang jelas lebih kecil daripada kromosom X. Kromosom-kromosom lain selain kromosom-kromosom seks disebut autosom.

PENENTUAN JENIS KELAMIN PADA MANUSIA
Kromosom Y yang kecil inilah yang menentukan kelamin jantan pada manusia. Jika kromosom Y ini tidak ada, maka individual itu adalah perempuan.
Perhatikan grup C mempunyai 8 pasang kromosom, termasuk 2 kromosom dan tidak ada kromosom Y pada grup G. Meskipun mereka secara fisik tidak sama, kromosom-kromosom X dan Y itu berpisah sebagai pasangan homolog pada waktu gametogenesis. Menyusul spermatogenesis, setengah dari sperma-sperma dewasa sebab itu membawa kromosom Y, dan setengahnya lagi kromosom X. Karena ovum dewasa, atau sel telur, hanya mempunyai kromosom X, maka sperma yang membuahi telur akan menentukan kelamin anak yang dilahirkan. Sperma yang membawa kromosom Y menentukan anak itu menjadi laki-laki, dan sperma yang membawa kromosom X menentukan anak itu menjadi perempuan. Ini berarti bahwa bapaklah dengan sel-sel benihnya yang menentukan kelamin dari anak-anaknya.

Sangat menarik di sini untuk dikemukan bahwa ada pendapat yang salah pada beberapa kultur bangsa bahwa ibulah yang menentukan kelamin keturunannya. Pada masyarakat yang kuat orientasi laki-lakinya, seperti bangsa Cina beberapa dekade yang lampau, harga seorang ibu sering dinilai atas banyaknya anak laki-laki yang dapat dipersembahkan kepada suaminya. Dan pada waktu-waktu dahulu, untuk tetap menjadi ratu, istri Shah Iran harus melahirkan anak laki-laki; tidak mampu untuk melakukan ini dipandang sebagai suatu kegagalan istri.

Satu bidang aktif dari riset medis menyangkut usaha untuk membedakan sperma yang mengandung X dari sperma yang mengandung Y. Ada laporan tentang dampak dari lingkungan uterus yang alkalis atau asam yang menyokong yang satu atau yang lain, dan pemindahan diferensial sperma yang mengandung X atau Y dalam medan listrik.

Banyak sekali teori yang diajukan yang didasarkan pada cerita rakyat. Misalnya seorang petani ternak pada suatu waktu melaporkan bahwa ia berhasil memperoleh kelamin yang diinginkan lebih dari 90% pada anak-anak sapi dengan menghadapkan sapi induk atau ke arah matahari atau membelakangi matahari pada waktu diinseminasi. Sebuah teori pada penentuan kelamin manusia menyatakan bahwa orang tua mana yang bertindak dengan cara dominan pada waktu konsepsi praktis yang dikembangkan yang memungkinkan orang tua memilih laki-laki atau perempuan. Jika ini dimungkinkan, maka akan merupakan keuntungan besar untuk membantu mengendalikan eksplosi populasi kita.

Kita masih belum tau bagaimana kromosom Y menentukan kelamin laki-laki. Yang kita tahu ialah bahwa dalam embrio manusia ada 2 perangkat struktur yang timbul secara dini pada perkembangan setiap embrio. Salah satu perangkat berkembang menjadi saluran sistem reproduksi laki-laki, dan yang lain menjadi tuba telur (oviduk) dan uterus dari sistem reproduksi wanita. Yang mana dari saluran-saluran ini berkembang terus sedang yang lain mengalami degenerasi, tergantung dari pengembangan gonad-gonad (kelamin) embrionis,, yang rupanya ditentukan oleh kromosom seks dalam sel embrio. Sebab itu, haruslah ada gen-gen pada kromosom Y yang pengembangan testis (atau menekan pengembangan ovaria), tetapi kita belum dapat mengidentifikasi gen-gen individual itu dan peranannya dalam penentuan kelamin. Hormon-hormon, zat kimia yang kuat yang disekresi oleh gonad, menyebabkan pengembangan ciri-ciri kelamin sekunder yang menentukan fenotipe seksual dari individual.

Advertisements