Bila anak susah makan karena GTM

shutterstock_326350967
Sebab Terjadinya GTM
Biasanya GTM terjadi di rentang umur 6 bulan – 12 bulan, tetapi sebetulnya sangat mungkin terjadi di seluruh jenjang usia balita. Secara umum, penyebab GTM dapai dikategorikan atas dua aspek: organik dan anorganik. Sebab organik terkait organ makan si kecil, misalnya karena tumbuh gigi, sariawan, sakit, dan sebagainya. Sementara sebab anorganik terkait dengan keadaan psikologis anak, kondisi lingkungan dan sekitarnya seperti trauma makan atau trauma sendok, perubahan pengasuh, kebosanan dengan suatu tekstur makanan, kebosanan terhadap makanan tertentu, dan sebagainya. Mari kita bahas sebab-sebab GTM di atas beserta penanganannya.

Masa Tumbuh Gigi
Biasanya gigi bayi mulai tumbuh di 6-9 bulan di masa ketika si kecil sedang dalam tahap belajar mengenal berbagai macam makanan. Jika bayi dalam usia-usia ini menolak makanannya coba cek gusinya. Apakah ada yang kemerahan? Bila YA, maka cobalah membuat makanan yang lebih encer. Berikan makanan yang membuat gusinya nyaman seperti buah dingin yang bisa digigit-gigit, momsicle alias es loli dari ASI berikan jus/puree buah manis dan dingin. Jika si kecil kelihatan kesakitan, bisa diberikan paracetamol untuk meredakan sakitnya.

Sariawan
Biasanya tanda-tanda sariawan lebih jelas, seperti nampaknya bintik-bintik putih di mulut bagian dalam atau luar dan juga lidah. Jika bintik-bintik putih ini sukar dihilangkan setelah diusap dengan kain kasa yang dicelup air hangat, ini tandanya Anda harus membawa si kecil ke dokter untuk mendapatkan obat anti jamur sesuai dosis yang diperlukan.

Tidak enak badan
Sama seperti halnya orang dewasa yang sedang tidak enak badan, si kecil pun akan mengalami hal yang sama. Jika dia kesulitan menelan karena tenggorokannya sakit, bisa dibuatkan makanan dengan tekstur yang lebih lembut serta perbanyak jus buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C. Memberikannya makanan berkuah hangat seperti sup ayam hangat bisa membantu meredakan ketidaknyamanannya.

Bosan dengan Tekstur Makanan
Perlu kejelian Ibu untuk mengetahui hal ini. Biasanya terjadi di usia 7 bulan menuju 8 bulan atau pada usia ketika si kecil mau beralih ke makanan keluarga. Coba untuk meningkatkan tekstur makanan, siapa tahu si kecil sudah bosan dengan tekstur yang terlalu “bayi”. Selama tidak ada masalah pencernaan seperti sembelit parah atau diare, tidak perlu khawatir dengan proses peningkatan tekstur ini.

Perbedaan Tekstur Makanan Yang Drastis
Ini kebalikan dengan yang atas, kalau yang ini biasanya ibunya yang bernafsu ingin mengenalkan tekstur baru pada bayi padahal si bayi masih ingin menikmati tekstur lama makanannya yang lebih lembut dan lebih cair. Misalnya : Bayi 8 bulan dan masih menikmati makanan tim saring 2 kali-nya, tiba-tiba diberi nasi tim utuh. Ini bisa mengakibatkan GTM juga. Perubahan tekstur makanan selain harus mengecek ‘pertanda’ dari bayi, juga harus dilakukan bertahap. Misalnya untuk kasus di atas : dari saring 2 kali menjadi saring 1 kali, lalu di sekedar ditekan-tekan di mangkuk, hingga akhirnya nasi tim . Jangan merasa gagal jika tiba-tiba bayi meminta mundur-tekstur. Mungkin memang sedang merasa tidak nyaman/bosan, mengalah sebentar tidak masalah, asal tetap dilatih untuk mencintai tekstur baru-nya yang lebih padat.

Bosan Dengan Suasana Makan
Anak kadangkala bosan dengan ritual makan-nya. Bisa bosan tempat, suasana, cara, dan sebagainya. Memang yang paling ideal adalah membiasakan anak makan di kursi makan atau high chair, tetapi hal ini kadang kala bisa sangat membosankan baginya. Sesekali penting untuk memberinya kesempatan makan di tempat lain, misalnya di lantai atau di karpet. Tetapi tetap tanamkan kebiasaan makan yang di tempatnya. Kadang anak juga bosan disuapi, jika demikian biarlah anak bereksplorasi dengan alat-alat makannya sendiri. Kuncinya, jangan takut kotor dan berantakan. Jika mereka mulai ingin makan sendiri, itu sebetulnya pertanda bagus untuk kemandiriannya.

Trauma makan atau trauma sendok
Ini sering terjadi di periode awal perkenalan MPASI karena kadang ibu ingin proses MPASI lancar sehingga di awal-awal sering sedikit memaksa si kecil untuk makan. Saat masa memperkenalkan MPASI, usahakan jangan sampai si kecil mengalami trauma makan atau trauma kepada sendok. Jangan memberikan kesan pada si kecil bahwa makan adalah sebuah proses yang menakutkan. Coba ingat kembali bagaimana ketika Anda dan si kecil saat masa awal menyusui. Butuh belajar dan penyesuaian kan? Sama juga ketika proses MPASI dimulai. Anda dan si kecil sama-sama butuh waktu untuk belajar. Belajar menemukan pola makan yang tepat, cara makan yang tepat, waktu makan yang tepat, tekstur yang tepat dan sebagainya. Berikan kesempatan si kecil untuk memegang makanannya sendiri dengan memberikan finger food. Siapa tahu dia lebih suka dilibatkan secara total dalam proses makan, ketimbang hanya disuapin secara pasif. Kunci-kunci utama mengatasi GTM adalah:

  1. Identifikasi penyebabnya, dari situlah ibu biasanya bisa menemukan solusi yang paling tepat
  2. Saat GTM terjadi, lebih fleksibel-lah dalam jadwal pemberian makanan. Jangan paksa si kecil menghabiskan porsi besar makanan. Lebih baik memberikan makan sedikit2-sedikit tetapi lebih sering daripada memberikan makanan dalam porsi yang besar tetapi tidak habis atau tidak masuk sama sekali karena si kecil keburu stress melihat porsi makanan yang diberikan.
  3. Variasikan menu sebisa mungkin, buat makanan yang sederhana namun variatif. Anak tidak perlu ibu yang brilian dalam memasak, tetapi lebih membutuhkan ibu yang paham bagaimana proses makan yang sesuai baginya.
  4. Tetap batasi waktu makan, maksimum 30 menit. Karena setelah 30 menit, rasa makanan sudah berubah dan si anak sudah mulai bosan dengan acara makan. Jadwalkan makan di saat yang tepat, jangan terlalu dekat dengan jadwal minum ASI, jangan terlalu dekat dengan jadwal tidurnya atau jangan memberinya makan terlalu pagi. Kita sendiri kadang suka malas kalau makan terlalu pagi kan?
  5. Ajak si kecil makan bersama-sama dengan keluarga. Kadang melihat orang lain makan bersamanya bisa memancing keinginan makannya. Berikan dia piring dan sendok sendiri, siapa tahu dia mulai ingin belajar makan sendiri. Arahkan pelan-pelan dengan sabar.
  6. Susu bukanlah pengganti makanan. Untuk yang masih ASI, ASI bisa tetap diberikan, tetapi ASI bukan menjadi satu-satunya sumber asupan si kecil. Saat usia 6 bulan-1 tahun, ASI hanya bisa memenuhi 70% kebutuhan asupan harian dan angka ini mengecil menjadi 30% ketika si kecil mencapai usia 1 tahun lebih. Setelah usia 1 tahun, susu adalah pelengkap gizi si anak. Jika anak sedang GTM jangan memberikan susu jika si ekcil lapar. Tetap tawarkan makanan dan berikan pengertian padanya pelan-pelan bahwa jika lapar dia harus tetap makan.
  7. Ciptakan waktu makan yang menyenangkan. Mulailah dengan senyuman, jaga kontak mata dengan anak, penuh dengan kesabaran dan ketelatenan. Selingi dengan nyanyian dan cerita yang terkait dengan makanan yang diberikan.
  8. Berikan pilihan makanan. Karena kadangkala GTM terjadi karena si kecil bosan terhadap suatu bahan makanan, berikan dia peluang untuk memilih makanan apa yang ingin dimakan. Tetapi jangan katakan “X, mau makan apa?”. Berikanlah pilihan: ‘X ingin makan bayam dengan tempe atau sayur buncis dengan ayam?” Ibu tetap harus yang memegang kendali apa saja yang boleh atau tidak boleh dimakan oleh si kecil.
  9. Tidak perlu memberikan suplemen vitamin atau penambah nafsu makan. Jika penyebabnya sudah ditemukan, biasanya GTM akan dapat diatasi
  10. Tetap membiasakan makan di tempatnya. Tidak perlu digendong keliling kompleks atau sambil menonton TV agar si kecil tetap terbiasa makan dengan perilaku yang benar.
  11. Biasakan untuk mempunyai food diary atau jurnal makanan si kecil. Catat makanan-makanan apa yang dia suka dan tidak suka dan pengolahan makanan yang bagaimana yang si kecil inginkan. Ini berguna untuk mengkombinasikan makanan si kecil dan jadi acuan utama ketika si kecil sedang GTM.
  12. Jangan jadikan kenaikan berat badan anak sebagai obsesi. Yang paling penting adalah menciptakan suasana makan yang nyaman bagi anak dan memperkenalkan anak terhadap berbagai jenis makanan yang bergizi.
  13. Yang terakhir, jangan lupa berikan pujian jika si kecil bagus makannya dan jangan mengancam bila si kecil sedang tidak mau makan.
Bahan bacaan lain:
Diambil dari : AIMI (Lianita Prawindarti)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s