SKIN PRODUCT FOR DRY SKIN, NORMAL SKIN AND GREASY SKIN

PENDAHULUAN
Kulit merupakan organ terbesar tubuh, dengan berat± 16% dari berat badan (BB), dan luas permukaan 1,8 m2, memproteksi seseorang terhadap lingkungan, dan pada saat yang bersamaan melakukan interaksi dengan lingkungan, susunan yang terintegrasi dari sel,
jaringan, dan matriks yang sesuai dengan fungsinya, seperti pertahanan permeabilitas fisikterhadap agen infeksi, radiasi ultraviolet, berperan dalam pengaturan suhu, alat sensasi, proses penyembuhan luka dan regenerasi, serta penampilan fisik. Organ ini terdiri dari tiga lapisan, yaitu epidermis, dermis dan subkutis (hypodermis), dengan variasi morfologis daerah anatomi, dan usia serta fungsinya. Apendiks kulit terdiri dari rambut, kuku, kelenjar sebasea,ekrin dan apokrin.

Produk perawatan kulit memiliki bahan-bahan biologis aktif dengan manfaat obat ataupun manfaat seperti obat. Selain itu, juga untuk memenuhi kebutuhan kecantikan dan
kesehatan. Banyak zat, baik sintetis kimia atau ekstrak dari tanaman atau hewan, dapat digunakan sebagai bahan fungsional. Saat ini, banyak produk dengan bahan-bahan biologis aktif telah dikembangkan dan dipasarkan. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan produk perawatan kulit sebagai pelindung,pemutih, tanning, anti keriput, deodoran, antipenuaan, dan perawatan rambut dan kuku. Namun produk perawatan kulit dapat menyebabkan beberapa masalah yang tidak diinginkan. Umumnya adalah iritabilitas pada kulit, dermatitis kontak, fotosensitivitas, komedogenisitas, kerusakan rambut dan kuku, hiperatau hipopigmentasi, infektivitas, karsinogenisitas, dan bahkan efek samping sistemik.
Kemajuan elektronik dan komputerisasi memungkinkan perkembangan instrumen pengukur parameter tertentu pada kulit. Kuantifikasi parameter ini telah memungkinkan evaluasi, perbandingan dan peningkatan efektivitas produk perawatan kulit.

 TIPE  KULIT

Kulit digolongkan menjadi tujuh jenis, yaitu : kulit normal, kering, berminyak, berminyak sensitive (sensitife oily skin), kombinasi (campuran), kering sensitive dan kulit gersang (yuswati, 1996), yaitu :

  1. Kulit Normal

Kulit normal didefinisikan sebagai kulit yang tidak terlihat sebagai lesi  atau sensasi tidak nyaman. Merupakan hasil dari keseimbangan berbagai proses biologis seperti keratinisasi, deskuamasi, kehilangan air, ekskresi sebum dan keringat. Dalam keseimbangan yang sempurna antara produksi dan pengeluaran sebum, kulit nampak nyaman, kelembapan baik, kenyal, elastis, bersih, dan tidak begitu mudah iritasi. Akibat penuaan, kulit mengalami perubahan tertentu yang timbul dari penyebab eksternal, misalnya akibat radiasi sinar ultraviolet (UV)  serta proses penuaan umum yang mempengaruhi seluruh organisme.

Kulit jenis ini merupakan kulit yang sehat dimana kelenjar lemak memproduksi minyak tidak berlebihan, sehingga tidak menimbulkan penyumbatan pada pori-pori kulit. Tanda-tanda kulit normal antara lain : kulit lembut, halus, segar, bercahaya, sehat, poripori tidak kelihatan, tonus (daya kenyal) kulit bagus. Kulit normal biasanya dijumpai pada anak-anak sampai menjelang remaja.

Berdasarkan beberapa penulis, perubahan terkait dengan usia dimanifestasikan sebagai perubahan struktur kimia, kualitas dan kuantitas protein struktural, proteoglikan dan asam hialuronat 1. Selain itu,  kolagen kulit semakin lama dapat menurun, berhubungan dengan penurunan ketebalan kulit. Penurunan simultan dalam jumlah proteoglikan dan asam hyaluronic juga terlihat 1. Di tempat lain, perubahan hormonal terjadi selama masa remaja dan kemudian seiring penuaan terjadi peningkatan sekresi sebum yang terlihat pada masa pubertas, namun hal ini menurun progresif saat dewasa,dan penurunan tajam pada wanita pascamenopause. Seiring  penuaan, penurunan tingkat deskuamasi korneosit juga terlihat.

  1. Kulit Kering

Istilah kulit kering atau xerosis didefinisikan sebagai integumen  kering, kasar, bersisik atau  kemungkinan adanya kemerahan, pecah-pecah, atau gatal. Kulit kurang fleksibel dari biasanya, sehingga pada perabaan nampak berkerut. 2,3

2017-01-17-22_32_35-skin-product-edit2-microsoft-word

Gambar 1 . Ketika kulit kekurangan air dan / atau kadar lemak, atau ketika stratum korneum rusak, kulit  menjadi kering, bersisik, gatal, nyeri dan mudah terinfeksi

Kulit kering sering terdapat pada orang dewasa dan orang-orang yang telah lanjut usianya. Penyebabnya adalah akibat ketidakseimbangan sekresi sebum. Ciri-ciri kulit kering antara lain : bagian tengah muka normal, disekitar pipi dan dahi kering,tidak Universitas Sumatera Utaralembab dan tidak berminyak, halus, tipis dan rapuh. Kulit kering cepat menjadi tua karena kelenjar lemak tidak berfungsi dengan baik.

Penyebab kulit kering berasal dari banyak faktor :

  • Kadar air dalam stratum korneum berkurang (13% air untuk kulit normal dan kurang dari 10% untuk kulit kering).
  • Keratinisasi abnormal yang memodifikasi keseimbangan stratum korneum (antara deskuamasi dan proliferasi) dan kohesi korneosit (kompartemen lipid yang abnormal).
  • Penurunan fungsi barrier, yang meningkatkan kehilangan air transepidermal secara pasif.

Dua jenis kulit kering dapat dibedakan1: kulit kering  yang didapat dan kulit kering konstitusional.

Kulit kering yang didapat  dapat berasal dari kulit normal, atau kulit berminyak, yang menjadi kulit kering sementara disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti radiasi matahari, paparan iklim yang ekstrim (dingin, panas, angin, kering), dan paparan bahan kimia atau terapi (lithium, retinoid). Kulit kering konstitusional dapat non-patologik (kulit karena penuaan, kulit rapuh) atau patologis (iktiosis, kulit kering pada dermatitis atopik, hipotiroid, uremia).

Kulit kering adalah gejala umum dari sejumlah kondisi kulit, seperti dermatitis atopik/ eksim, iktiosis, dermatitis kontak iritan, psoriasis dan eczema asteatotic. Kulit kering dapat diperburuk oleh faktor lingkungan seperti sering mencuci, penggunaan deterjen yang keras dan paparan lembab (misalnya udara) lingkungan. Kulit kering bisa kurang menarik di lihat, dan dapat efek buruk pada kualitas hidup pasien karena menyebabkan gatal, ketidaknyamanan dan penampilan tidak menarik.11

  1. Kulit Berminyak

Kulit berminyak biasanya melibatkan tubuh bagian atas, dimana ditemukan kelenjar sebaseous dalam jumlah besar.

Kulit berminyak umumnya terjadi pada remaja dan dewasa muda. Ditandai dengan penebalan kulit dan peningkatan ekskresi sebaseous, penampilan wajah  mengkilap, terutama pada hidung dan dahi, sering terdapat jerawat atau acne, kulit terlihat pudar dan kusam. Dalam kasus ekstrim, saluran folikel sering melebar (kerosis). Namun, dapat juga timbul spikula cornified yang sangat kecil,  menonjol dan memberikan sensasi kasar saat perabaan. Kulit berminyak disebabkan oleh sekresi kelenjar sebasea yang berlebihan.

Beberapa parameter dapat menginduksi produksi sebum oleh kelenjar sebaseous, terutama oleh androgen. Pada pria, kadar sebum lebih tinggi sejak lahir, namun terbalik selama prepubertas, dimana timbul lebih awal pada anak perempuan. Pada wanita, terjadi penurunan selama fase estrogenik dari siklus menstruasi dan peningkatan selama fase luteal masih diamati.1

Beberapa jenis komplikasi dapat dikaitkan dengan kulit berminyak, terutama berikut ini :

  • Jerawat : Komplikasi ini ditandai dengan adanya komedo (blackheads) dan komedo tertutup (microcysts). Beberapa penyebab bisa berasal dari infeksi oleh Propionibacterium acnes, yang menghasilkan asam bebas akibat hidrolisis enzimatik trigliserida; iritasi pada dermis oleh keratin dan asam lemak bebas yang dikeluarkan oleh komedo; dan reaksi imun tubuh terhadap acne.
  • Dermatitis seboroik : Merupakan masalah tersering, dimana masih belum banyak diketahui, tetapi penyebab mungkin termasuk ragi Pityrosporum (Pityrosporum ovale), bahan kimia (deterjen), atau faktor saraf (stres, kecemasan). Hal ini ditandai dengan adanya plak eritematosquamousa, terdiri dari skuama berminyak, lokal terutama pada rambut dan alis, lipatan hidung, dagu dan daerah presternal. Kulit kepala sering terkena, dengan pembentukan plak berkerak meliputi basis poros rambut. Lesi ini sering sedikit gatal.
  1. Kulit Berminyak Sensitif

Kulit Berminyak Sensitive (sensitive oily skin) Kulit jenis ini tanda-tandanya sama dengan kulit berminyak hanya terdapat pembuluh darah yang melebar dan rusak, sehingga terlihat garis-garis atau guratanguratan merah disekitar hidung dan pipi. Penyebab kulit berminyak sensitive adalah kelenjar lemak sangat berlebihan dalam memproduksi lemak sehingga kadang berkomedo dan bereaksi cepat terhadap panas, dingin dan iritasi.

  1. Kulit Kombinasi

Kulit kombinasi merupakan gabungan lebih dari satu jenis kulit seperti kulit kering dan berminyak. Tanda-tandanya kulit kelihatan mengkilat pada bagian tengah muka, di sekitar hidung, pipi dan dagu. Kulit jenis ini umumnya terdapat pada usia dewasa.

  1. Kulit gersang ( Dehydrated Skin)

Kulit gersang adalah kulit yang sangat kering. Penyebabnya zat cair atau pelembab didalam kulit sangat terbatas. Umumnya terdapat pada usia remaja, dewasa ataupun usia lanjut.

  1. Kulit Kering Sensitive

Jenis kulit ini sama dengan kulit kering hanya terdapat pembuluh darah yang melebar disekitar hidung dan pipi sehingga timbul garis-garis atau guratan didaerah tersebut.

 Homeostasis barrier kulit

Barrier kulit memenuhi berbagai fungsi defensif  :

  1. perlindungan dari faktor lingkungan (fisik, kimia, biologi)
  2. perlindungan antimikroba
  3. mengatur transportasi air dan pertukaran zat dengan lingkungan (ekskresi, sekresi, resorpsi)
  4. perlindungan terhadap stress oksidatif

Sebuah regulasi yang tepat diperlukan untuk implementasi yang tepat dari fungsi tersebut.

Konsep barrier kulit telah terus berkembang secara paralel dengan kemajuan metode penelitian. Saat ini, dianggap bahwa lebih dari 90 % dari fungsi barrier kulit berada pada epidermis dan khususnya di lapisan korneous terluar (stratum korneum). Struktur morfologi, yang menyusun barrier kulit berkembang relatif lambat dalam ontogenesis (sekitar 34 minggu kehamilan). Barrier kulit tidak sepenuhnya segera kompeten setelah lahir dan berkembang dalam tahap awal dari periode neonatal. Pemahaman dasar morfologi dan biokimia dari barrier epidermal sangat penting untuk memahami fungsi utamanya. Awalnya, stratum korneum (SC) dianggap sebagai lapisan inert sel-sel mati yang terbentuk pada proses keratopoesis, yang saling berhubungan melalui lapisan lipid interseluler.21

2017-01-17-22_33_37-skin-product-edit2-microsoft-word

Gambar 2 . Saat kulit terluka, stratum korneum mengirim sinyal untuk memperbaiki kerusakan  barrier10

Dalam beberapa dekade terakhir, pemahaman struktur SC telah diperbarui dan model klasik (semen dan beton) kini telah berkembang menjadi konsep bahwa SC adalah sistem dinamis dengan aktivitas metabolik, yang merespon pengaruh eksternal melalui proses regulasi dalam sintesis DNA dan protein struktural, proteolisis dan transportasi ion.21,22

SC dengan konstituen utamanya yaitu korneosit dan lipid bilayer lamelar interseluler, dianggap sebagai struktur utama yang menentukan kecepatan pertukaran substansi transkutan. Resistensi  mekanik barrier epidermis terutama disebabkan oleh korneosit yang tertanam dalam apa yang disebut cornified envelope. Ini terdiri dari protein seperti loricrin, involucrin dan filaggrin yang terkait secara dinamis. Lapisan lipid yang berdekatan bertanggung jawab terhadap permeabilitas air dan pertukaran zat dengan lingkungan eksternal. Komponen biokimia utama barrier kulit adalah lemak dan protein.22

METODE UNTUK EVALUASI KARAKTERISTIK KULIT (BIOENGINEERING)

Parameter utama pada jenis kulit yang berbeda yang dapat digunakan untuk mengevaluasi efikasi produk adalah yang berkaitan dengan morfologi permukaan kulit, hidrasi stratum korneum dan ekskresi sebum. Karena variasi parameter antara zona anatomis yang berbeda pada subjek yang sama dan yang berbeda, teknik ini digunakan terutama untuk mengukur perubahan dalam parameter dengan waktu, di zona yang sama. Misalnya, perbandingan dapat dibuat antara keadaan awal (pre-treatment) dan keadaan akhir (post-treatment).1

  1. Evaluasi Morfologi Permukaan Kulit

D-Squames dan Corneofix F20 digunakan untuk mendeteksi dan menilai beberapa kerusakan lapisan kulit dan perubahan perilaku epidermis. Prinsip-prinsip pengukuran dilakukan dengan pita perekat khusus yang transparan, mengumpulkan korneosit dari lapisan atas kulit selama lima detik. Kemudian pita dilepaskan, taruh di slide kaca, dimasukkan ke dalam penampil mikrofilm, dan dilakukan pengukuran kepadatan optik. Dengan probe, informasi yang tepat mengenai deskuamasi dapat diperoleh : jumlah, ukuran dan ketebalan korneosit atau stratum korneum yang kasar dapat dievaluasi.

PROBE LAINNYA

Visioscan VC98 (Jerman) adalah kamera video yang memonitor permukaan kulit diterangi di bawah sumber cahaya UVA. Interpretasi gambar dengan perangkat lunak yang disediakan memberikan informasi tentang kulit yang kasar, kulit halus, dan kulit keriput.1

Gambar 3. Visioscan

Tomografi koherensi optik (OCT) pada awalnya digunakan untuk diagnosis oftalmologi tetapi kemudian digunakan dalam penyelidikan dermatologi. OCT didasarkan pada prinsip interferometri Michelson dan menggunakan sumber cahaya dengan panjang koherensi pendek. Sumber cahaya dibagi dan difokuskan pada kulit. Informasi struktural  morfologi dan ketebalan dapat dengan mudah diperoleh, dan informasi kadar air atau hidrasi juga tersedia melalui perhitungan profil indeks bias.

       Confocal laser scanning microscopy (Vivascope 1500)1 memungkinkan visualisasi instan struktur kulit pada resolusi histolopatologik dan merupakan pendekatan non-invasif baru untuk studi in vivo fisiologis dan kondisi patologis kulit.

                                           Gambar 4. Laser scanning microscopy dari Carl Zeiss

Mikroskop confocal terdiri dari sumber cahaya kecil, yang menerangi spot kecil dalam objek; spot yang diterangi kemudian dicitrakan ke detektor melalui lubang kecil. Spot yang diterangi dan detektor aperture ditempatkan dalam konjugat optik pesawat fokus. Gambar diperoleh dengan lapisan horisontal ketebalan 5 mm.1

Laser panjang gelombang inframerah dekat (830 nm), dimana benar-benar berbahaya bagi pengguna dan pasien.

  1. Pengukuran Hidrasi Kulit

Penilaian objektif hidrasi kulit merupakan kegiatan utama para ilmuwan kosmetik dan dermatologis. Metode dan teknik yang digunakan bervariasi dalam kompleksitas dan telah sepenuhnya dijelaskan 1.

  1. Mengukur Elektrik Kulit

Konstanta dielektrik keratin dan lipid epidermal sangat kecil bila dibandingkan dengan air. Oleh karena itu, konstanta dielektrik stratum korneum prinsipnya ditentukan oleh tingkat hidrasi : semakin besar kadar air, semakin besar konstanta dielektrik.

Corneometer CM 825 (Koln, Jerman)1 adalah suatu alat dengan probe yang dilekatkan dengan kulit. Probe bertindak sebagai kapasitor. Kapasitansi diukur sebanding dengan konstanta dielektrik kulit, bervariasi sesuai dengan keadaan hidrasi dan dinyatakan dalam satuan unit. Langkah-langkah perangkat kapasitansi sehingga diukur sebanding dengan konstanta dielektrik kulit, dan bervariasi sesuai dengan keadaan hidrasi. Data pada lengan bawah diperoleh sebagai berikut 1:

< 75   : kulit dehidrasi

75–90 : kulit mengarah ke dehidrasi

>90    : kulit normal

Gambar 5. Corneometer CM 825 dan Sebumeter SM 810

Instrumen lainnya dapat mengevaluasi keadaan hidrasi kulit dengan menilai sifat listrik :

  • DermaLab diproduksi oleh Teknologi Cortex (Hadsund, Denmark) dan mengukur impedansi kulit.
  • MoistureMeter SC-4 (Delfin Technology, Kuopio, Finlandia) adalah perangkat kapasitif baru. Instrumen menunjukkan unit kapasitansi berubah-ubah.
  • Nova Dermal Phase Meter DPM 9003 (Nova teknologi Corporation, Porthsmouth, New Hampshire, AS) mengukur berbasis impedansi kapasitif reaktansi kulit. Pembacaan akhir diberikan dalam satuan DPM, yang berkaitan dengan kapasitansi.
  • Skicon 200, berdasarkan alat eksperimen yang dikembangkan oleh Tagami dan rekan kerjanya, diproduksi oleh Perusahaan ISBS (Hamamatsu, Jepang). Instrumen mengukur konduktansi mikro siemens.1
  1. Spektroskopi inframerah

Air menyerap radiasi inframerah. Peralatan ini telah digunakan untuk mengukur hidrasi stratum korneum  secara non invasive menggunakan spektroskopi inframerah reflektansi total yang dilemahkan. Dibuktikan bahwa absorbans pada 3400 /cm OH  meregangkan getaran meningkat pada lapisan dalam stratum korneum, menunjukkan peningkatan yang sesuai pada kadar air sebagai fungsi stratum korneum.

  1. Pengukuran Passive Transepidermal Water Loss 6

Transepidermal Water Loss (TEWL) menunjukkan fluks terus-menerus penyebaran uap air di stratum corneum. TEWL tidak mengukur hidrasi kulit, tetapi  mengevaluasi fungsi barrier dan efikasi produk hidrating dimana aksi tergantung pada occlusivity. TEWL diukur menggunakan evaporimeter (Swedia). Perangkat ini dilekatkan pada permukaan kulit, yang dibangun sebagai ruang silinder terbuka ke udara sekitar dan menentukan fluks terus-menerus uap air menyebar di stratum korneum. Juga mengukur tekanan uap air parsial di dua titik, masing masing 3 dan 9 mm di atas permukaan kulit, dengan bantuan dua alat transduser kelembaban dan termistor. Nilai normal TEWL antara 2 hingga 5 g/m2/jam.

  1. Mengukur Kelembaban

Kelembaban  merupakan interaksi antara cairan dan kulit. Setetes air ditempatkan pada kulit dan menyatu dengan kulit dengan sudut kontak setengah hidrofobik. Penurunan diamati dengan mikroskop operasi dilengkapi dengan cermin miring, yang memberikan pandangan profil tetesan air, merekam profil gambar menggunakan kamera video yang terhubung ke komputer. Sudut kontak air dapat diukur dan digunakan sebagai indikator kecenderungan kulit hidrofobik atau hidrofilik  atau untuk melihat efek dari produk pada kulit berminyak atau kering. Untuk kulit normal, y (dahi) adalah antara 578 dan 738. Dalam kasus kulit kering, afinitas dengan air menurun dan sudut kontak antara kulit dan air meningkat..1

  1. Evaluasi Koefisien Gesekan

Gesekan adalah interaksi antara dua permukaan. Banyak faktor yang mempengaruhi nilai koefisien gesekan hidrasi atau sebum. Studi hidrasi memiliki korelasi kenaikan dan penurunan hidrasi kulit dengan perubahan koefisien gesekan.

  1. Pengukur Sebum
  2. Pengukuran Ekskresi Sebum
  • Sebumeter SM 810 ( Koln, Jerman) menggunakan pita plastik yang dilekatkan pada kulit selama 30 detik. Lipid sebum diserap pada film dan menjadikannya transparan. Selanjutnya, probe dimasukkan ke dalam Sebumeter, menyinarkan sinar cahaya ke film. Sebuah pelat logam reflektif di belakang film mereflekskan cahaya, lewat untuk kedua kalinya melalui film, sebelum memasuki photomultiplier. Perangkat secara otomatis menentukan peningkatan transparansi film berdasarkan sebum permukaan kulit dan memberikan indeks lipid dalam satuan mikrogram per sentimeter persegi.1
  • Lipometer (L-Ore’al, Paris), fungsinya mirip dengan Sebumeter. Perbedaan utamanya adalah:
  • Film plastik digantikan oleh disc kaca dipasang pada dinamometer untuk membakukan tekanan aplikasi;
  • Serangkaian nilai kalibrasi standar digunakan untuk mengkonversi pembacaan menjadi data absolut (misalnya, mg lipid/cm2).
  1. Kuantifikasi Output Sebum, Densitas, dan Aktivitas Kelenjar Sebaseous 7

Komponen utama Sebutape (Cutoderm, Dallas, Texas, AS) adalah sebuah film polimer hidrofobik berpori, yang translucent menjadi transparan ketika diresapi dengan minyak. Alat ini akan tertahan pada kulit karena memiliki lapisan perekat atau hanya cukup dilekatkan (Sebufix F16). Film ini menyerap sebum yang berasal dari folikel, yang membentuk bintik-bintik transparan yang mudah terlihat pada latar belakang gelap dan luasnya sebanding dengan volume yang dikumpulkan. Metode ini menghitung distribusi topografi kelenjar fungsional dan output nya di permukaan kulit dengan menggunakan analisis citra komputerisasi. Ukuran tempat sebanding dengan aktivitas ekskresi folikel. Dengan aplikasi Sebufix F16 yang berkelanjutan, pembesaran progresif tempat sebum dapat dipantau menggunakan kamera video sinar UV (Visioscan VC98) dan akhirnya gambar 3-D yang diperoleh.1

  1. Pengukur Kecerahan Kulit

Glossmeter adalah instrumen baru untuk mengukur speculary pemantulan cahaya dari kulit. Alat ini dapat digunakan untuk mengevaluasi perawatan kulit seperti kecerahan kulit.  Alat ini bisa digunakan untuk mengevaluasi pengaruh produk matting atau hydrating. Dua Glossmeter telah dikembangkan tahun 2009: Glossymeter GL 200 (Jerman) dan Skinglossmeter (Finlandia) 1.

Gambar 6. Glossmeter

PRODUK KULIT NORMAL

Perawatan Kulit Normal 1

Matriks stratum korneum  kaya akan ceramide, asam lemak bebas dan kolesterol, yang berfungsi untuk mengurangi air dan memberikan barrier yang efektif. Integritas stratum korneum juga dihasilkan oleh zat dalam korneosit dikenal sebagai faktor pelembab alami, campuran kompleks asam amino bebas, turunan asam amino dan garam, yang menarik dan menahan air. Hal ini juga membantu untuk mempertahankan fleksibilitas dan elastisitas kulit dengan menyerap air dari atmosfer, yang memungkinkan lapisan terluar kulit tetap terhidrasi. Perawatan kulit dasar terdiri dari : pembersihan, pelembaban dan perlindungan.

  1. Produk Pembersih

Mencuci wajah menghilangkan kotoran dari permukaan kulit. Sabun dan air sering digunakan bersama-sama untuk tujuan ini karena caranya yang mudah dan efektivitas biaya. Sabun dibuat dengan hidrolisis trigliserida alami dan netralisasi asam lemak yang dikeluarkan oleh natrium. Sabun merupakan  pengemulsi yang baik, sebagai emolien dan meningkatkan daya penyabunan. Namun, ada kelemahan sebagai berikut1 :

  • Aksi deterjen yang kuat dapat sepenuhnya menghilangkan permukaan pelindung film lipid, yang membantu menjaga keseimbangan fisiologis kulit, namun demikian dapat menimbulkan iritasi.
  • Sabun memiliki sifat yang sangat alkali (pH 10). Penggunaan sabun berulang dapat menggeser pH kulit sehingga lebih alkali, dengan demikian meniadakan pengaruh perlindungan asam, dan mengganggu keseimbangan flora kulit 1.

 Cleanser (pembersih) merupakan aspek penting pada perawatan kulit, selain menghilangkan kotoran, debu, dan bakteri dari kulit, namun juga dapat mengangkat sel kulit mati, mempersiapkan kulit untuk dapat mengabsorbsi zat topical yang akan diaplikasikan. Perawatan harus dilakukan untuk meminimalisasi kerusakan barier stratum korneum yang dapat ditimbulkan oleh proses pencucian. Pembersih dengan bahan dasar surfaktan yang ringan dan/atau emolien dapat meminimalisasi kerusakan barier ini. Pencucian wajah dengan sabun bayi yang lembut dapat digunakan dengan cara bilas secara menyeluruh dan mengeringkan wajah dengan menepuk kulit dengan handuk lembut, jangan menggunakan handuk kasar. Pencucian wajah maupun tubuh (mandi) yang terlalu sering dan lama, serta penggunaan air hangat sebaiknya dihindari, karena akan meningkatkan evaporasi dan menurunkan kelembaban alami kulit. Sebaiknya digunakan pelembab setelah proses pencucian/mandi.9

Tabel 1. Macam macam Pemberih untuk Berbagai Tipe Kulit

Macam macam Pembersih Tipe Kulit
–          Bar soaps

–          Liquid cleanser

–          Lipid free cleanser

–          Cleansing cream

–          Cleansing cloth

–          Kulit berminyak

–          Kulit kering kasar

–          Kulit kering

–          Kulit kering kasar

–          Kulit kering dan atau sensitif

 

  1. Produk Pelembab

Penggunaan pelembab pada kulit sangat disarankan. Pemilihan pelembab yang tidak mengandung bahan iritatif dan sebaiknya tidak mengandung parfum dan mentol. Produk yang mengandung bahan anti inflamasi dan menghaluskan seperti ekstrak chamomile dan aloe sangat disarankan. Emolien seperti lanolien, petrolatum, mineral oil, glyceryl stearates baik digunakan pada kulit kering. Setiap malam disarankan menggunakan pelembab pada wajah sebelum tidur.

Emolien saat ini tersedia dalam bentuk spray, lotion, krim dan salep.1 Meskipun pengembangan produk emolien sudah sangat maju, namun prinsip dasar tetap sama, yaitu merupakan variasi emulsi minyak (lipid) dan emulsi air. Secara teknis emulsi ini dapat berupa minyak dalam air atau air dalam minyak, dengan emulsi minyak dalam air merupakan yang paling umum. Dengan demikian, emolien yang modern tidak hanya dapat membantu  mempertahankan hidrasi kulit, tetapi juga dapat membantu membuat lipid barrier kulit juga.

Penggolongan pelembab berdasarkan atas mekanisme hidrasi langsung dan tidak langsung.

  1. Tidak langsung
  1. Bahan oklusi : sebagai pelembab, anti inflamasi, anti mitotik, anti pruritus
  2. Bahan pembentuk lipofilik : asam lemak esensial, seramid
  1. Langsung
  1. Bahan pembentuk lapisan hidrofilik : glikosaminoglikan (asam hialuronat, kondroitin sulfat), kolagen, khitin dan khitosan, polimer hidrofilik.
  2. Humektan : bahan higroskopis yang menyebabkan lapisan epidermis mampu menyerap dan menyimpan air, contoh nya gliserin, sorbitol, propilen glikol, ester poligliseril, asam laktat
  3. Natural moisturizing factor (NMF) : natrium pirolidon karboksilat, urea, asam amino, asam alfa hidroksi.
  4. Produk Fotoprotektif

Radiasi ultraviolet dapat menyebabkan inflamasi, eritema, kemudian pigmentasi, mendorong penuaan dini kulit dan risiko kanker. Di semua musim, fotoproteksi memiliki peran penting untuk semua jenis kulit, termasuk kulit normal. Fotoprotektor yang ideal harus efektif menyerap radiasi berbahaya (UVB dan UVA); substantif terhadap stratum korneum dan tahan  air dan keringat; stabil pada siang hari, udara, panas dan air; dan benar-benar tidak berbahaya.1, 17,18

Gambar 6. Perbedaan Tabir Surya Fisik dan Kimia12

Tabir surya kimia komersial pertama kali diperkenalkan tahun 1928, yang mengandung benzyl salisilat dan benzyl sinamat. Tahun 1942 salep p-aminobenzoic acid (PABA) memperlihatkan efektif memproteksi sunburn. Tahun 1999, FDA menyetujui 14 bahan tabir surya yang dianggap aman dan efektif yang digunakan dalam produk OTC. Bahan aktif tabir surya ini berfungsi menyerap, menrefleksikan, atau menghamburkan radiasi UV pada panjang gelombang 290-400 nm.

Sebuah produk tabir surya yang tepat harus memberikan perlindungan terhadap paparan UV akut dan jangka panjang  yang menginduksi kerusakan kulit dan stabil terhadap panas dan radiasi UV. Derajat dimana tabir surya melindungi kulit dari sinar UV ditandai dengan sun protection factor (SPF). SPF dapat digunakan sebagai panduan untuk memilih tabir surya untuk menghindari sengatan matahari. SPF menunjukkan waktu seseorang yang menggunakan  tabir surya dapat terkena sinar matahari sebelum mendapatkan sengatan matahari terhadap waktu seseorang tanpa tabir surya.1,17

Gambar 7. Rekomendasi SPF pada Tabir Surya12

Kemampuan fotoprotektif tabir surya ditentukan oleh dua jenis zat : filter kimia dan filter fisika.

Filter kimia 1 adalah zat kimia sintetis dengan sifat sebagai berikut:

 Relatif stabil, sehingga energi yang diserap dilepaskan perlahan-lahan

 Penyerapan radiasi UV sangat kuat karena ukuran rantai ganda.

Filter fisika adalah partikel mineral, menyerap sinar UV, bekerja seperti cermin. Mineral utama yang digunakan adalah  titanium dioksida (TiO2) ultrafine, terdiri dari partikel ukuran 20-30 nm 1. Berkurangnya ukuran partikel ultrafine memberikan refleksi gelombang UVB dan gelombang pendek UVA yang lebih baik, dan transparansi yang lebih baik dalam panjang gelombang terlihat.

Bahan aktif tabir surya kimia (disebut juga organic atau soluble) mencegah sunburn dengan menyerap radiasi UV sebagai foton dari energy cahaya yang diubah menjadi gelombang panjang yang tidak berbahaya dan kemudian dipancarkan kembali sebagai panas. Bahan aktif tabir surya kimia, dengan konsentrasi maksimal : aminobenzoic acid (PABA) 15%, avobenzone 3%, cinoxate 3%, dioxybenzone 3%, ecamsule 10%, homosalate 15%, methyl anthranilate 5%, octocrylene 10%, actyl methoxycinnamate 10%, octyl salicylate 5%, oxybenzone 6%, padimate O 8%, phenylbenzimidazole sulfonic acid 4%, sulisobenzone 10% dan trolamine sakicylate 12%. 1,17,18

Tabel 2. Berbagai macam Kandungan Tabir Surya12

Tabir surya fisika, bahan topical ini opak, dioleskan tebal pada kulit untuk mencegah sunburn. Bahan lain yang telah dikembangkan yaitu titanium dioksida dan zinc oksida. Umumnya bahan fisik digunakan untuk mencegah sunburn disebut “sunblock” sedangkan bahan kimia disebut “sunscreen”. Bahan fisik (juga disebut inorganic atau insoluble). Titanium dioksida dan zinc oksida juga bekerja semi konduktor yang menyerap radiasi UV dan melepaskannya sebagai panas. Bahan aktif tabir surya fisik dengan konsentrasi maksimum : titanium dioxide 25% dan zinc oxide 25%.

Konsumen saat ini lebih perhatian terhadap bahan kimia sintesis dan racun lainnya dan mencari produk-produk alami untuk digunakan pada kulit mereka. Antioksidan dapat memiliki efek mendalam pada jalur sinyal intraseluler yang terlibat dalam kerusakan kulit dan dengan demikian dapat melindungi kulit terhadap cahaya serta dapat mencegah keriput dan inflamasi. Tubuh memiliki antioksidan fisiologis, seperti vitamin, glutathione, ubiquinon 10 (CoQ10) dan asam lipoic. Penggunaan antioksidan eksogen dapat menambah cadangan fisiologis antioksidan endogen tubuh dan meningkatkan pembersihan enzimatik oksigen reaktif (ROS) 1.

Standard FDA untuk aplikasi tabir surya adalah 2 mg/cm2, belum ada studi yang menyarankan pemakaian yang sebenarnya. Beberapa pengguna tabir surya merasa kurang nyaman pada dosis yang direkomendasikan. Produk terasa tebal, oklusi, tampak opaque. Schneider menyarankan ‘teasoon rule’, orang dewasa harus mengoleskan ke seluruh wajah dan leher atau setengah sendok teh untuk masing masing lengan. Umumnya direkomendasikan untuk mengoleskan kembali tabir surya setiap 2 jam setelah berenang, mengeringkan dengan handuk atau berkeringat. Diffey menyarankan tabir surya dioleskan 15-30 menit sebelum paparan matahari dan dioleskan kembali 15-30 menit setelah paparan matahari dimulai.1

Berikut, ada banyak contoh komponen alami yang memiliki sifat antioksidan. Vitamin A, C dan E alami ada pada kulit manusia. Vitamin ini merupakan bagian dari sistem antioksidan enzimatik dan nonenzimatik yang kompleks yang melindungi kulit dari ROS berbahaya 1. Namun, kulit mengalami stres radikal bebas lingkungan yang besar dari sinar matahari, polusi, dan rokok yang dapat mengurangi cadangan antioksidan alami kulit. Untuk memperbaiki kekurangan vitamin, banyak produk topikal yang mengandung vitamin 1.

Kedelai mengandung bahan aktif : pitosterol dan inhibitor protease serin protein ( inhibitor Bowman-Birk dan inhibitor tripsin kedelai). Kedelai memiliki sifat antioksidan dan efek antiinflamasi 1. Kedelai  merangsang sintesis kolagen, memulai proses perbaikan elastin kulit, menghambat pigmentasi dan mengontrol produksi minyak dan melembabkan kulit.

Teh putih, hijau, oolong dan teh hitam yang berasal dari daun dan tunas tanaman teh (Camellia sinensis), dengan varietas yang berbeda tergantung pada jenis pengolahan dan oksidasi atau fermentasi. Bahan aktif utama adalah polifenol yang meliputi catechin, epicatechin-3-gallate, epigallocatechin dan epigallocatechin-3-gallate. Polifenol ini memiliki sifat antioksidan yang sangat ampuh, anti-inflamasi, dan sifat anti kanker, membuat teh berguna dalam pencegahan / pengobatan photodamage.1

Ekstrak delima (Punica granatum) terutama terdiri dari alkaloid dan polifenol, konstituen aktif menjadi asam ellagic dan menunjukkan berbagai fungsi yang bermanfaat termasuk antioksidan dan aktivitas antivirus. Fraksi minyak biji delima dapat memfasilitasi regenerasi epidermal.1

Ectoin, sebuah zat penting alami dikembangkan untuk digunakan dalam aplikasi kosmetik. Zat ini ditemukan pada bakteri halofilik, bertahan hidup dan tumbuh di bawah kondisi ekstrim di danau garam, air laut dan gurun garam. Studi khasiat in vitro menunjukkan bahwa Ectoin melawan efek UVA penginduksi dan akselerasi penuaan kulit pada tingkat sel yang berbeda dan memiliki potensi untuk melindungi mitokondria fibroblast manusia in vitro terhadap radiasi UVA induksi mutagenik.1

Sesamol adalah antioksidan yang sangat diakui. Sebuah percobaan pada kulit tikus menunjukkan bahwa sesamol memiliki efek yang baik pencegahan pada photodamage, diamati pada perubahan biokimia dan histopatologis.1

 PRODUK KULIT KERING

Perawatan kulit kering ditujukan untuk pemulihan barrier air epidermis. Hal ini dapat dicapai dengan mengunakan pelembab yang dioleskan topical ke kulit. Mandi berlebihan atau penggunaan air panas harus dikurangi dan penggunaan sabun yang ringan harus ditingkatkan.1

Pengganti sabun seperti cetyl alcohol dapat membantu pengobatan kulit kering. Hidrasi stratum korneum oleh balneotherapy diikuti dengan penambahan minyak ke air mandi atau emolien (agen oklusi) pada kulit setelah mandi dapat meningkatkan hidrasi stratum korneum.1,19

Hydratation dapat dilakukan dengan dua cara :

  1. Dengan memasukan air, disimpan dalam stratum korneum dengan penambahan humektan.1
  2. Dengan memperlambat kehilangan air stratum korneum akibat penguapan (mengurangi TEWL), melalui sebuah film lipid oklusi.

Stratum korneum adalah barrier utama kulit yang fungsi utamanya adalah untuk menjaga kulit bagian dalam dan luar. Barrier ini kaya akan kolesterol, asam lemak bebas, dan ceramides. Banyak produk kulit berminyak yang digunakan untuk mempertahankan fluiditas kulit (minyak mineral, Lanolin, cyclomethicone, dll). Kandungan air pada stratum korneum akan menguap sangat cepat sehingga menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi kulit dapat dihindari dengan menggunakan pelembab yang memberikan fleksibilitas untuk kulit. Humektan adalah bahan utama dari formulasi pelembab.13

Humektan membantu dalam mencegah kulit kering. Ketika pelembab diolekan pada kulit, lapisan tipis humektan mempertahankan kelembaban dan memberikan penampilan yang lebih baik untuk kulit. Formulasi  yang mengandung lipid bio-mimesis memudahkan dalam menormalkan kulit yang rusak. Air dapat menyebabkan ekskresi sitokin jika dioleskan pada kulit untuk jangka waktu lama. Hal ini dapat menyebabkan edema, vasodilatasi, dan peradangan. Pelembab melembabkan kulit, membuat stratum korneum lebih lembut & bahkan dapat mengubah fisiologi kulit. Ceramide yang mengandung pelembab sangatlah populer karena mengandung keseimbangan lipid yang sama dengan kulit kita. Ada sembilan jenis ceramides di stratum korneum yaitu ceramide 1- 9. Mengandung 40-50% lipid pada lapisan terluar. Telah terbukti bahwa zat ini membantu mengobati eksim, dan bahkan dapat digunakan untuk kulit kering. Fluocinolide yang mengandung ceramides telah ditemukan mengurangi eczema. Selain ini, black cohosh, ekstrak kedelai, dan vitamin A dan E juga membantu dalam menambah keseimbangan kelembaban alami kulit. Campuran kompleks asam hyaluronic dan ekstrak daun teh hijau, dan glutathione juga menjanjikan salah satu bahan pelembab. 13

  1. Komposisi Pelembab Humektan

Humektan adalah senyawa yang menarik air dari dermis ke stratum korneum. Jumlahnya banyak dan beragam. Ketika kelembaban lebih tinggi dari 70%, humektan juga dapat menarik air dari atmosfer ke dalam epidermis. Humektan dapat dianggap setara dengan kosmetik NMF. NMF merupakan komponen alam substansi higroskopis dan hydrosoluble di stratum korneum yang diselimuti oleh lipid membran sel. Zat ini memainkan peran penting dalam retensi air, karena dibuktikan bahwa hasil ekstraksi humektan menunjukkan hilangnya 25% kadar air pada stratum korneum dan 66% hilangnya elastisitas.1

Agen NMF adalah sebagai berikut :

Poliol adalah molekul dengan berbagai kelompok hidroksil (zat hidrofilik dan higroskopis). Gliserol dan sorbitol merupakan humektan yang sangat baik dan digunakan pada konsentrasi antara 2% dan 10%. Propylene glycol memiliki kemampuan hidrating yang baik  pada konsentrasi rendah (lebih rendah dari 10%) dan aktivitas keratolitik pada konsentrasi tinggi (lebih dari 40%). Poliol lain yang digunakan seperti manitol tetapi kurang  melembabkan.1

Asam karboksilat pirolidon adalah salah satu komponen utama NMF (sekitar 12%). Zat ini ditemukan dalam bentuk garam dan memiliki efek hidrating pada konsentrasi 3% sampai 5%.1

Urea hidrat pada konsentrasi kurang dari 10%. Selama konsentrasi ini, urea memiliki kekuatan keratolitik. Molekul ini sangat larut dalam air dan cepat terhidrolisis dan membusuk.1   

Asam laktat dan sodium lactate dapat menangkap konsentrasi tinggi air. Zat Ini memiliki efek sejak konsentrasi 3%. Makromolekul tertentu memiliki kandungan hidrofilik yang tinggi, namun dengan ukuran tersebut, mereka tidak dapat menembus stratum korneum dan terbentuk film higroskopis di permukaan.

Kategori ini meliputi :

Glikosaminoglikan seperti asam hialuronat dan kondroitin sulfat adalah polisakarida. Senyawa ini ditemukan dalam substansi dasar semua jaringan ikat dan memiliki serapan dan retensi air yang cukup, karena banyaknya gugus hidroksil.1

Kolagen dan elastin adalah dua protein struktural utama dari jaringan ikat dan memiliki sifat higroskopis. Dengan air, mereka membentuk gel air. Protein ini biasanya digunakan dalam bentuk denaturasi atau hidrolisis.

DNA memiliki sejumlah besar kelompok fosfat dan memiliki sifat higroskopik yang baik. DNA digunakan dalam bentuk terdenaturasi dan sebagian bentuk terhidrolisis pada kosmetik.1

  1. Komposisi Pelembab Oklusi

Bahan Pelembab Oklusi

Oklusi meningkatkan kadar air kulit dengan memperlambat penguapan air dari permukaan kulit. Bahan-bahan ini sering berminyak dan yang paling efektif bila diterapkan pada kulit lembab. Minyak mineral sering digunakan karena teksturnya yang menguntungkan, tetapi tidak efektif untuk mencegah penguapan air dibandingkan oklusi lainnya. 1

Sebenarnya, produk filmogenic membentuk emulsi. Emulsi air dalam-minyak sangat oklusi. Petrolatum, minyak hidrokarbon, adalah oklusi pelembab yang paling efektif.

Hidrokarbon lainnya meliputi minyak mineral, parafin, dan squalene. Dalam bahan pelembab oklusi, kategori senyawa lain meliputi lemak nabati, alkohol lemak, wax ester, wax nabati, fosfolipid, sterol, silikon dan minyak kaya asam lemak tak jenuh ganda (PUFA). 1

PUFA menempati tempat khusus dalam tata rias. Walaupun oklusi namun memiliki kandungan PUFA yang tinggi. PUFA adalah asam lemak rantai panjang tak jenuh pada o-3 atau o-6, yang beberapa diklasifikasikan dalam asam lemak esensial (asam linoleat, asam arakidonat, asam linolenat). PUFA ini ditemukan dalam jumlah besar pada minyak hewan tertentu (minyak ikan) dan tanaman (evening primrose, borage, biji anggur). Mereka terlibat dalam beberapa fungsi fisiologis penting seperti metabolisme prostaglandin dan leukotrien, inflamasi dan pemeliharaan hidrasi stratum korneum.1,19

  1. Zat tambahan untuk pelembap

Sekarang banyak zat tambahan lain dimasukkan ke dalam moisturizer. Zat ini memiliki fungsi yang berbeda dari sekedar mengurangi TEWL atau membangun kembali komponen lipid dari stratum korneum. Bahan pelembab khusus seperti asam α- atau β-hidroksi dapat membantu deskuamasi korneosit dan mengurangi kulit kasar. 1

α-Hydroxy acids (laktat, glikolat, malat, tartric, sitrat, glukonat, dan asam mandelic) telah terbukti melindungi penampilan kulit akibat photodamaged dan merupakan keratolitik yang efektif dalam konsentrasi serendah 10 %, dan memiliki kecenderungan untuk mengurangi kohesi korneosit di dasar stratum korneum. Pada konsentrasi tinggi (30-70%), aktivitas keratolitik sangatlah dominan : α-Hydroxy acid bertindak pada lapisan epidermis lebih dalam, dan bahkan lapisan papiler dan retikuler dermis. Pada konsentrasi ini sangat baik untuk pengobatan hiperkeratosis. 1

α-Hydroxy acids merupakan asam karboksilat organik diklasifikasikan menjadi asam alphahydroxy (AHA), asam beta-hidroksi (BHA), asam polihidroksi, dan asam bionik berdasarkan struktur molekul. α-Hydroxy acids ditemukan di sebagian besar produk kulit yang dipasarkan tetapi digunakan dalam konsentrasi yang sangat rendah. AHA terdiri dari senyawa alifatik sederhana hingga molekul kompleks. Produk dapat  alamia atau non-alami, produk yang berasal dari alam dikenal sebagai fruit acid.  α-Hydroxy acids ditemukan dalam formulasi anti penuaan, pelembab, dan peeling wajah, dan produk-produk perawatan untuk mengurangi hiperpigmentasi dan jerawat. Kulit tampak lebih halus dan merata.13,20

Kemungkinan penyebab dari efek ini adalah  AHA meningkatkan epidermal shedding. Beberapa menyatakan bahwa AHA meningkatkan sintesis glikosaminoglikan (GAG), meningkatkan kualitas serat elastis, dan meningkatkan kepadatan kolagen. BHA adalah senyawa aromatik. Asam salisilat merupakan derivat BHA; memiliki sifat dermatolytic dan membantu dalam berbagai gangguan  xerotic  dan  ichthyotic. BHA lainnya termasuk 2-hidroksi-5-octanoyl asam  benzoat, juga dikenal sebagai betalipohydroxyacid (B-LHA), dan asam tropik.13,20

Mekanisme kerja α-Hydroxy acids tidak diketahui namun salah satu temuan biologis disebabkan karena sifat asam yang melekat pada senyawa. Kemampuan AHA untuk meningkatkan kepekaan terhadap radiasi UV telah terbukti dan dengan demikian aplikasi tabir surya mungkin dianjurkan ketika produk ini digunakan. Beberapa AHA terdiri dari : asam lactobionic, asam glikolat, asam laktat, asam sitrat, asam mandelic, asam malat, tartarat.13

Salicylic acid adalah satu-satunya asam β-hidroksi. Mekanisme kerjanya seharusnya pada disolusi semen antara korneosit berdekatan, mengurangi adhesi korneosit. Hal ini unik karena asam salisilat bisa masuk ke unit pilosebaseous dan meningkatkan pengelupasan kulit di area wajah yang berminyak. Karena efek pengelupasan ini, asam salisilat bermanfaat pada kulit yang menua karena peningkatan deskuamasi stratum korneum. 1

Gambar 8. α-Hydroxy acids

Asam salisilat merupakan bahan larut dalam minyak dan dapat berpenetrasi ke dalam lingkungan yang banyak sebum pada pori. Di dalam pori bahan ini bisa menghilangkan sumbatan oleh komedo (komedolitik) dan juga mempunyai efek anti inflamasi ringan. Asam salisilat merupakan bahan yang bermanfaat untuk mengobati akne dan dapat dimasukkan ke dalam cleanser, pelembab dan alas bedak. Bahan ini mempunyai kemampuan untuk menimbulkan pengelupasan pada permukaan kulit dan ostia folikel. Salisilat juga berfungsi sebagai antiaging/antiakne bagi wanita yang menginginkan keduanya dan komedolitik poten yang aman bagi kulit sensitif. Asam salisilat 2% dapat ditemukan sebagai cleanser maupun scrub. Pada suatu penelitian dikatakan bahwa krim yang mengandung asam salisilat 0.5%, chlorhexidine digluconate 0,25% dan 3% niasinamid dapat memperbaiki akne vulgaris. Penelitian lain mengungkapkan efektifitas formula asam lipofilik hidroksi dan benzoil peroksida 5% dalam pengobatan akne vulgaris. Terdapat pengurangan yang signifikan pada lesi jerawat yang inflamasi dan non-inflamasi oleh kedua produk di atas. Juga disimpulkan bahwa formulasi asam lipofilik hidroksi dapat dijadikan sebagai pilihan untuk mengobati akne vulgaris yang ringan sampai sedang pada seseorang yang tidak tahan terhadap benzoil peroksida. 9

Urea juga dapat ditambahkan ke dalam pelembab dan meningkatkan kapasitas pengikat air dari stratum korneum dengan mengganggu ikatan hidrogen. Urea memaparkan area pengikat air pada korneosit dan  deskuamasi dengan mengurangi zat penyemenan intraseluler di antara korneosit. Juga, pengobatan jangka panjang dengan urea telah menunjukkan pengurangan TEWL. 1

Strategi meresepkan Emolien11

  • Pasien harus diberi kesempatan untuk mempertimbangkan berbagai emolien dari seluruh spektrum produk yang tersedia, dan untuk mengidentifikasi produk yang paling cocok untuk kulit mereka.
  • Pilihan emolien mungkin didorong oleh kecocokan formulasi kosmetik, krim atau salep, kandungan minyak, dan sifat adjuvant seperti humektan dan / atau sifat anti-gatal.
  • Aqueous cream tidak boleh digunakan, baik sebagai produk leave-on atau pencuci wajah, karena komponen sodium lauryl sulfate.
  • Jumlah emolien yang diresepkan harus memadai untuk efek yang optimal (250-500 g / minggu).
  • Pasien harus ditawarkan jumlah yang lebih kecil terlebih dahulu.
  • Pasien mungkin memerlukan lebih dari satu produk emolien, tergantung pada gaya hidup, jumlah hari kerja, musim atau berat ringannya penyakit.
  • Emolien memiliki efek steroid-sparing, dan harus diberikan dalam perbandingan emolien steroid 10: 1 untuk mencapai manfaat penuh.
  • Emolien harus diresepkan sesuai dengan efikasi klinis.

Tabel 3. Produk Emolien11

PRODUK KULIT BERMINYAK
Perawatan kulit berminyak yang paling penting adalah untuk mengurangi kelebihan sebum permukaan kulit tanpa  mengurangi lipid total. Pengobatan kulit berminyak yang berlebihan dapat menyebabkan eksaserbasi sekresi sebaseous. 1

Mencuci wajah dapat dilakukan juga dengan sabun kulit berminyak. Namun harus diikuti dengan pembilasan berulang kali. Dalam cuaca dingin, perlindungan yang diberikan dengan produk yang mengandung air, dan emulsi cahaya (minyak dalam air). Namun, produk yang digunakan untuk jenis kulit ini harus nonkomedogenik. 1

Pengobatan Akne

Produk kulit yang cocok untuk pasien akne, rosasea atau kulit sensitive harus memenuhi beberapa kriteria :

  1. Volatile vehivles (light weight alcohols) dan bahan penyebab stimulasi kulit (menthol, kampora) termasuk vasodilatation, harus dieliminasi atau dikurangi.
  2. Solvents yang meningkatkan penetrasi kulit (propylene glycol, ethanol) harus dihindari. Jika diperlukan bahan higher glycols (polyethylene glycols) yang tidak menembus stratum korneum dan dapat membentuk ikatan hydrogen dengan penetrants harus dipilih.
  3. Surfactans yang sering digunakan untuk pembersih atau emulsifiers harus dipilih dengan hati hati. Anionic surfactans (sodium lauryl sulfate) adalah bahan iritan kuat karena kemampuannya berpenetrasi ke stratum korneum dan meningkatkan penetrasi substansi lain (antimikroba). Cationic surfactans memiliki daya penetrasi sedang dan nonionic surfactans memiliki daya penetrasi rendah. Meskipun demikian nonionic surfactans dapat merubah rerata biosintesis, komposisi, dan kandungan epidermal phospholipids.
  1. Produk Pembersih

Pembersihan kulit adalah bagian penting dari perawatan kulit. Prosedur pembersihan ini dengan menghilangkan kotoran yang liposoluble, hydrosoluble, dan insoluble melalui surfaktan alami atau sintetis. Beberapa jenis pembersih yang tersedia dengan mekanisme yang berbeda seperti surfaktan, makeup remover, pembersih astringent, dan pembersih abrasive. Surfaktan bisa alami (dari hewan atau lemak tumbuhan dan dibagi menjadi anionic, aktionik, amfolitik dan nonionic) atau sintetis (syndet) dan tersedia secara kkomersial sebagai sabun, sabun kulit batangan atau cair, cairan atau gel atau busa pembersih, superfatted soaps dan pembersih yang bebas lemak.23

Pembersih ideal untuk pasien akne harus yang tidak komedogenik, tidak aknegenik, tidak mengiritasi dan tidak alergenik. Yang disebut “sabun alami” (pembersih anionic alami padat atau cair) harus dihindari pada pasien akne karena pH basanya yang kuat. Penggunaan pembersih syndet lebih disukai karena pH nya yang mendekati kulit normal sehingga memberikan efek pembersihan yang ringan. Sabun kulit batangan dan pembersih akne khusus yang dirancang dalam bentuk cairan, gel atau busa, umunya termasuk surfaktan sintetis, bahan kimianya berbeda dengan sabun alami, yang diperoleh melalui proses manufaktur canggih di mana asam organic lemah ditambahkan ke formulasi untuk mendapatkan pH yang mendekati kulit normal sehingga memberikan efek pembersihan yang ringan. Efeknya dapat ditingkatkan dengan agen akne seperti benzoyl peroxide (BPO), pengontrol minyak atau zat korneolitik serta pelembab dan agen penyejuk. Produk produk tersebut lebih mahal daripada sabun alami. Di antara formulasi yang berbeda, cairan umumnya lebih disukai daripada yang padat karena mereka lebih ringan dan tidak menyebabkan iritasi; formulasi gel dan busa pada umumnya sangat disukai oleh anak-anak.23

  1. Pelembab

Pelembab merupakan produk kulit yang dirancang untuk hidrat stratum korneum dan membuat kulit lembut dan halus. Hidrasi merupakan isu penting pada pasien akne mengingat banyaknya terapi, seperti retinoid topical dan sistemik serta BPO, dapat menyebabkan kulit kering. Pelembab untuk pasien akne sebagian besar berasal dari bahan humektan dan emolien. Pelembab jenis tertentu diindikasikan untuk pasien yang menerima isotretinoin oral. Beberapa dari mereka dirancang untuk memperbaiki cheilitis, mata kering atau perdarahan hidung.23

  1. Agen Komedolitik

Asam salisilat, asam laktat, asam glikolat, dan benzoil peroksida  dapat menurunkan impaksi folikel dan telah terbukti baik digunakan pada manusia dan hewan. Kelompok produk ini terutama diindikasikan untuk akne komedonal,membuat komedo lebih dangkal dan pada saat yang bersamaan dapat menghaluskan kulit. Kosmetik jenis ini merupakan pilihan yang tepat dan berguna bagi pasien yang tidak toleran terhadap pengobatan retinoid topical dan selama terapi pemeliharaan. Senyawa asam salisilat paling banyak digunakan. Telah terbukti aman dan efektif dalam mengurangi komedo bila diterapkan pada sediaan 0,5% dan 2%.1

Penggunaan topikal benzoil peroksida memang memiliki beberapa keterbatasan. Hal ini tidak efektif sebagai monoterapi untuk jerawat yang berat.  Benzoil peroksida krim dan gel memiliki potensi sebagai pemutih pakaian dan seprai, seperti semua obat topikal, memiliki risiko menyebabkan dermatitis kontak alergi. 1

Gambar 9. topikal benzoil peroksida

Beberapa inovasi yang terbaru dari formulasi benzoil peroksida meliputi teknologi microsphere, gel berbasis air, pengiriman liposom dan mikroemulsi. Inovasi terbaru melibatkan penggunaan mikronisasi untuk menghasilkan partikel benzoil peroksida yang mudah larut, yang memungkinkan partikel berukuran lebih kecil  menembus ke dalam folikel.

Selain itu, iritasi akibat benzoil peroksida dapat diminimalisir, dengan tetap mempertahankan khasiat yang sama, dengan menggunakan formulasi benzoil peroksida 2.5 %  dan media seperti mononitrate dimetil mengandung base hydrophase dan 10% urea. 1

Dengan kemajuan teknologi terapi dengan benzoyl peroxide, sebagai monoterapi atau terapi tambahan, untuk acne vulgaris ringan hingga menengah.

  1. Antibiotik topikal

Penggunaan antibiotik topikal (makrolida seperti klindamisin atau eritromisin) sangatlah sering digunakan. Aktivitas bakterisida antibiotik tersebut menghambat sintesis protein bakteri P.acnes. 1

Masalah munculnya resistensi antibiotik terhadap P.acne ditemui dengan penggunaan klindamisin topikal monoterapi dan nyata berkurang dengan penambahan benzoil peroksida sebagai formula kombinasi. Produk kombinasi tetap klindamisin 1% dan benzoil peroksida 5% umum digunakan dalam pengobatan akne vulgaris. Meskipun produk jerawat topikal yang diberikan untuk terapi sangatlah efektif, tanda dan gejala kulit yang membaik pada pasien dapat menyebabkan penghentian terapi, kurangnya kepatuhan terhadap terapi. Benzoil peroksida dapat menyebabkan iritasi kulit dan kulit kering, dimana tergantung pada dosis. Saat ini, terdapat klindamisin dan benzoil peroksida 2,5% sediaan gel untuk memberikan khasiat sebanding dengan konsentrasi yang lebih tinggi (5%) kombinasi  klindamisin-benzoil peroksida dan harus tetap mengoptimalkan kepatuhan pasien. 1

  1. Azelaic Acid

Merupakan asam dikarboksilat alami yang diproduksi oleh ragi dari genus Pityrosporum ovale. Azelaic acid adalah senyawa signifikan yang langsung melawan aktivitas P.acne dan juga antikomedo. Senyawa ini tidak berpengaruh pada ukuran kelenjar sebaseous, produksi sebum atau komposisi sebum, bahkan setelah aplikasi jangka panjang. Azelaic acid adalah bakteriostatik pada konsentrasi rendah dan bakterisida pada konsentrasi yang lebih tinggi. 1

Gambar 10.  Azelaic Acid 14

Asam azelaik mempunyai efek antiproliferatif dan sitotoksik terhadap melanosit. Efek selanjutnya terjadi karena penghambatan yang agak kuat dari retioreduksin reduktase, enzim yang terlibat dalam aktivasi oksireduktase mitokondria dan sintesi DNA. Walaupun asam azelaik pada awalnya digunakan untuk pengobatan akne, ternyata juga berhasil pada pengobatan lentiginosis, rosasea dan hiperpigmentasi paska inflamasi. Selain berfungsi sebagai antibakteri, keratolitik, komedogenik dan anti inflamasi. Asam azelaik juga mampu mengurangi pigmentasi pada kulit terutama bagi mereka yang berkulit gelap dan bekas jerawat warna coklat atau untuk kasus melasma. Asam azelaik 20% dilaporkan mempunyai efektivitas yang sama dengan HQ 4 % dalam mengatasi kulit gelap tersebut. Efek samping dari bahan ini berupa iritasi kulit, rasa gatal, dan terbakar hingga pengelupasan kulit (James, 2009).

  1. Tretinoin topikal

Tretinoin topikal digunakan pertama kali oleh Stuttgen untuk mengobati gangguan keratinisasi epidermal pada 1960-an. Namun, karena menimbulkan iritasi yang dihasilkan oleh konsentrasi dan formulasi, sehingga dalam studi ini kurang banyak diterima oleh masyarakat. Selanjutnya, Kligman membuktikan efikasi terapi tretinoin topikal pada acne vulgaris, dan selanjutnya penggunaan retinoid menjadi popular pada dermatologi kosmetik karena dampaknya pada kulit menua. 15

Tretinoin, yang merupakan bentuk asam dari vitamin A dan dikenal sebagai all-trans retinoic acid, bekerja baik  sebagai komedolisis dan menormalisasi pematangan epitel folikel sehingga menghentikan pembentukan komedo. Tidak memiliki aktivitas antiseboroik atau bakterisida. 1

Tabel 4.  Klasifikasi Retinoid15

Semua konsentrasi tretinoin berguna dalam mengatasi komedo dan peradangan akibat jerawat (krim 0,05% atau 0,1%).

Karena manfaatnya, tretinoin, seperti retinoid topikal lainnya, memiliki potensi untuk menyebabkan iritasi lokal. Untuk meminimalkan respon  dengan tetap menjaga efikasi klinis, tretinoin diformulasikan seperti mikrosfer polimer dimana terdapat bahan aktif dan secara bertahap  mengarah ke folikel selektif. Dibandingkan dengan krim konsentrasi 0,025%, gel tretinoin microspher 0,1% telah terbukti kurang iritan untuk kulit normal dan  kurangnya eritema dan kulit kering secara signifikan pada pasien dengan jerawat ringan sampai sedang  selama 12 minggu. 1

Gambar 11.  sediaan tretinoin topical dan struktur molekul all-trans retinoic acid 16

Retinoid telah berevolusi penggunaannya pada dermatologi dan kosmetik selama 2 dekade terakhir. Kesuksesan uji coba tretinoin topikal telah mengilhami untuk mengejar retinoid topikal lainnya yang efektif pada photoaging dengan efek samping yang lebih sedikit. Tidak diragukan lagi, akan ada turunan baru dengan profil efek samping yang lebih aman. Secara khusus, dua retinoid baru, adapalene dan tazarotene, memiliki  indikasi untuk pengobatan jerawat dan psoriasis.1

  1. Sebum Regulator

Minyak merupakan hasil sekresi androgen dari kelenjar sebasea. Kelebihan produksi minyak sering terlihat pada pasien akne. Obat-obatan seperti retinoid sistemik, pil KB dan spironolakton yang menyebabkan produksi minyak beelebih. Agen pengontrol minyak topical merupakan produk kulit yang digunakan untuk menyerap dan mempertahankan minyak. Aksi mereka tampaknya sebagian besar disebabkan oleh agen “matifiant” seperti methacrylate copolymer microsphere. Telah diklaim bahwa mereka berperan pada 5α-redukatase atau aktivitas kelenjar sebasea, tapi masalah ini masih perlu dikonfirmasi.23

 Toksin Botulinum Intradermal

Penggunaan toksin botulinum intradermal tipe A merupakan teknik baru yang digunakan saat ini. Mekanisme yang diduga mengurangi pori pori dapat didasarkan oleh efek neuromodulator dari botulinum. A. Shah menerangkan bahwa toksin botulinum intradermal dapat disuntikkan dengan aman di daerah dahi, pipi bagian medial, dan hidung tanpa komplikasi. Penggunaan toksin botulinum intradermal mengurangi kulit berminyak dan ukuran pori pada 17/20 pasien 1 bulan setelah injeksi 1. Peran toksin botulinum dalam terapi tanpa efek samping sistemik menjadikannya sebagai alternatif dari isotretinoin dalam pengobatan kulit berminyak dan kulit berjerawat. 1

   Gambar 12.  Toksin Botulinum

  1. Kamuflase

Kamuflase, atau maquillage korektif, adalah teknik makeup yang dapat menimimalkan beberapa gangguan post inflamasi yang unestetik seperti pada jenis akne dengan hiperpigmentasi. Manfaat menutupi lesi inflamasi dengan desain kosmetik yang korektif secara ilmiah telah terbukti. Makeup kosmetik generic dan komersial tidak diindikasikan untuk pasien akne karena perannya yang komedogenik. Pendekatan untuk kosmetik penutup korektif (CCC) terdiri dari dua langkah. Yang pertama adalah evaluasi klinis awal, dalam rangka untuk mengevaluasi kebutuhan dan harapan yang realistis untuk CCC. Yang kedua yaitu penerapan penutup dasar hiaju atau kuning, digunakan, masing masing untuk meminimalkan lesi inflamasi dan bintik bintik hiperpigmentasi kecoklatan. Warna dasar yang paling sesuai (formulasi cair atau krim) kemudian diaplikasikan dan setelah itu bedak ditekankan perlahan. Kemudian penggunaan kosmetik berwarna pada wajah, seperti eye shadow, eyeliner dan mascara dapat diterapkan untuk memperbaiki penampilan akhir. 23,24

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under ilmu penyakit kulit, tropikal infeksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s