TRAKTUS KORTIKOBULBAR

 Untuk mencapai otot tubuh, pusat perintah motorik di sistem saraf pusat harus melewati upper motor neuron dan bersinaps dengan lower motor neuron.

 Upper Motor Neuron (UMN) merupakan sistem descending yang menyalurkan impuls dari korteks motorik serebri ke kornu anterior dari medulla spinalis. UMN terdiri atas sistem piramidal dan ekstrapiramidal. Lower Motor Neuron (LMN) menyalurkan impuls dari kornu anterior medulla spinalis atau sel motor nervi kranialis ke motor end plate. LMN terdiri dari saraf-saraf kranial dan saraf-saraf spinal.

Traktus piramidalis merupakan kelompok serabut yang membawa pesan untuk pergerakan motor volunter ke lower motor neuron di batang otak dan korda spinalis.

Impuls dalam sel piramida korteks motorik, berjalan dalam dua jaras :

  • Traktus kortikonuklear atau kortikobulbar berakhir pada nuklei saraf kranialis motorik dalam pusat otak.
  • Traktus kortikospinalis yang jauh lebih tebal berakhir pada kornu anterior medulla spinalis (motorneuron)2015-11-28 18_34_02-TRAKTUS KORTIKOBULBAR (jo).doc [Compatibility Mode] - Microsoft Word

Traktus piramidalis berasal dari korteks sensorimotor di sekitar sulcus sentralis. Sekitar 55% berasal dari lobus frontalis yaitu pada girus presentralis pada area sitoarsitektonik Broadmann 4 yang memanjang sepanjang fisura sentralis dari lateral atau fisura sylvii ke arah dorsomedial ke tepi dorsal hemisfer lalu ke bagian anterior lobulus parasentralis pada sisi medial hemisfer dan berjalan tepat di depan korteks sensorik girus postsentralis,  dan area 6, sekitar 35% berasal dari area 3,1 dan 2 pada girus postsentralis dari lobus parietalis. Sekitar 10% serat-serat yang berasal dari area lain selain frontal dan parietal. Akson-akson yang berasal dari sel piramida raksasa dari Betz (area 4) dengan selubung myelin tebal hanya mewakili 3,4 -4% dari semua serat yang membuat traktus piramidalis. Kebanyakan serat traktus piramidalis berasal dari sel piramida kecil atau sel fusiformis dalam area motorik 4 dan 6. Serat yang berasal dari area 4 mewakili sekitar 40% dari serat traktus, sisanya berasal dari daerah region sensorimotor lainnya.

Serabut-serabut traktus kortikobulbar bersama-sama dengan traktus kortikospinalis meninggalkan kortek motorik lalu bergabung melewati korona radiata substansia alba serebrum ke arah ekstremitas posterior kapsula interna. Kemudian memasuki bagian tengah pedunkulus mesensefalon. Pada mesensefalon ini serabut-serabut traktus kortikobulbar meninggalkan traktus piramidalis dan berada di pertengahan pedunkulus serebri. Jaras kortikobulbar terletak pada bagian medial. Kemudian di pons, serabut ini berputar sehingga jaras kortikobulbar berada di dorsal. Serabut ini berakhir di nuklei motor nervi kranial setinggi medula oblongata.

Traktus kortikobulbar berakhir di inti saraf kranial secara :

  1. Bilateral, nuclei oculomotorius (III), Nuclei Troklearis (IV), nuclei trigeminus (V), nuclei Abdusen (VI), pars kaudal nucleus fascialis (VII), Nuclei Ambigus (X)
  2. Menyilang kontralateral, pars rostralis nucleus fascialis (VII) dan nucleus hipoglossus (XII)
  3. Tidak menyilang, nuclei Accesorius (N XI)2015-11-28 18_34_30-TRAKTUS KORTIKOBULBAR (jo).doc [Compatibility Mode] - Microsoft Word

Gangguan pada traktus kortikobulbar :

  1. Korteks Serebri (Tumor, infark, hematom)

Kerusakan pada seluruh korteks piramidalis sesisi menimbulkan kelumpuhan UMN pada belahan tubuh sisi kontralateral (hemiparalisis atau hemiplegi), sindrom sensorik Dejerine atau afasia. Kerusakan yang menyeluruh tapi belum meruntuhkan semua neuron korteks piramidalis sesisi, menimbulkan kelumpuhan pada belahan tubuh kontralateral (hemiparesis).

Pada hemiparesis karena lesi kortikal sesisi, otot-otot wajah diatas fisura palpebrae masih dapat digerakkan secara wajar, lidah menunjukkan kelumpuhan pada sisi kontralateral, kesukaran menelan (karena kelumpuhan sesisi pada otot-otot yang dipersarafi oleh N.X dan N.IX).

Jika terdapat tumor di sekitar falks serebri maka akan menekan kedua sisi korteks piramidalis sehingga kedua daerah somatotopik kedua tungkai dapat mengalami gangguan sehingga terjadi kelumpuhan UMN pada kedua tungkai (paraplegia).

Bila lesinya kecil maka dapat timbul suatu monoplegia di sisi kontralateral (atau mis: paralysis pada kaki kanan dan paresis pada lengan kanan)

Iritasi pada korteks serebri dapat menimbulkan suatu bangkitan kejang tonik-klonik.

Gejala lain    :   Hipestesia (gyrus presentralis) dan gangguan berbahasa (temporal), deviasi konjugae (area 8), hipertonia, forced crying atau forced laughing (korteks motorik primer)

  1. Kapsula Interna

Gejala       :  Kelumpuhan otot kontralateral.

Karena berdekatan dengan sistem ekstrapiramidalis maka dapat terjadi hipertonia (spastisitas) dan dapat terjadi hemiplegi spastis kontralateral. Hemiplegi akibat lesi kapsular (nucleus kaudatus dan putamen) juga memperlihatkan tanda-tanda kelumpuhan UMN yang dapat disertai oleh rigiditas, atetosa, distonia dan tremor. Jika mengenai radiatio optik maka akan terjadi hemianopia. Lidah juga ikut terkena hemiparesis sehingga artikulasi kata-kata terganggu (disartria)

Bila lesinya kecil (misalnya infark lakunar) dapat timbul pure motor hemiplegia. Bila lesinya cukup besar maka dapat timbul hemiplegi dan hemianestesia. Pada lesi yang luas dapat dijumpai trias kapsula interna yaitu hemiplegia, hemianestesia, dan hemianopia.

  1. Batang Otak (Hemiplegic Alternans Syndrome, Sindrom Batang Otak)

Dapat terjadi pada:

Lesi pada Pedunkulus serebri dan N.III yang berjalan di sebelah ventralnya yang menyebabkan Weber’s Syndrome (Sindrom hemiplegic alternans N.Oculomotorius )

Gejala yang ditemukan :

  • Paralisis N.III ipsilateral: rektus medialis, m. rektus superior, m. rektus inferior, m. oblikus inferior serta m. levator palpebra (strabismus divergen, diplopia jika melihat ke seluruh jurusan mata dan ptosis), m.Sfingter pupilae (midriasis).
  • Hemiplegi spastic kontralateral
  • Rigor kontralateral (Parkinsonisme, substansia nigra)
  • Distaksia kontralateral (traktus kortikopontin)
  • Kemungkinan terlibatnya saraf kranialis karena interupsi jaras supranuclear ke saraf VII,IX, X dan XII

Penyebab :  –    stroke (perdarahan atau infark) di pes pedunkuli

  • hematoma epiduralis
  • tumor lobus temporalis

Sindrom Benedikt dapat terjadi jika salah satu cabang dari rami perforantes paramedialis a. basilaris tersumbat, sehingga infark akan ditemukan di daerah yang mencakup dua pertiga bagian lateral pedunkulis serebri dan daerah nucleus ruber. Gejala yang ditemukan :

  • Paralisis N.III ipsilateral
  • Gerakan involunter pada lengan dan tungkai yang paretic ringan di sisi kontralateral (hemikorea, hemiatetosis, sewaktu-waktu ada pula Parkinson)

Sindrom Claude, gejala-gejalanya :

  • paralisis N.III ipsilateral
  • hemiataksia kontralateral (karena adanya lesi dari traktus dentato rubro talamikus)
  • sewaktu-waktu ada pula hemihipestesia di sisi kontralateral

.Pons

Sindrom hemiplegi alternans di pons disebabkan oleh lesi vascular unilateral.

Lesi vascular di pons dapat dibagi dalam :

  1. lesi paramedian akibat penyumbatan salah satu cabang dari rami perforantes medialis a. Basilaris

→ bersifat unilateral dan luas : jaras kortikobulbar/kortikospinal berikut dengan inti-inti pes pontis serta serabut-serabut pontoserebelar akan terusak. Tegmentum pontis tidak terlibat. Manifestasinya ialah hemiplegia kontralateral yang pada lengan lebih berat daripada tungkai

→ bersifat bilateral : kelumpuhan pada kedua tubuh.

  1. lesi lateral, sesuai dengan kawasan perdarahan cabang sirkumferens yang pendek
  2. lesi di tegmentum bagian rostral pons akibat penyumbatan a. Serebeli superior
  3. lesi di tegmentum bagian kaudal pons, sesuai dengan kawasan perdarahan cabang sirkumferens panjang.

Sindrom Hemiplegic Alternans N.Abdusen

Lesi paramedian pada bagian kaudal pons, sehingga akar N. VI terlibat

Gejala:

  • kelumpuhan UMN anggota gerak atas dan bawah kontralateral dengan otot-otot yang dipersarafi oleh : N.VII, IX, X, XI, XII
  • kelumpuhan LMN N.VI (strabismus konvergen ipsilateral)

Sindrom Millard Gubler

Lesi unilateral di pes pontis yang meluas ke samping sehingga melibatkan daerah yang dilintasi N.VII. Gejala :

  • kelumpuhan LMN (ipsilateral) yang melanda otot-otot yang dipersarafi oleh N.VI dan N. VII
  • hemiplegi kontralateral

Sindrom Foville

Lesi pons di daerah paramedian dimana serabut-serabut kortikobulbar untuk nucleus N.VI ikut terlibat. Gejala –gejala :

  • hemiplegi sisi kontralateral
  • deviation conjugee pontin
  • hemihipestesi di sisi kontralateral

Sindrom Raymond-Cestan

Lesi pada tegmentum pontis di daerah rostral nuclei N.VI dan VII (di sisi kanan atau kiri). Gejala yang timbul :

  • ataksi serebellar ipsilateral (karena lesi di brachium pontis)
  • hemihipestesia di sisi kontralateral. Perasa propioseptif di sisi kontralateral terganggu (lesi lemniskus medialis)
  • deviation conjugee pontin

Hemiplegi alternans nervus abdusens et fasialis yang disertai sindrom foville disebut sindrom foville-millard-gubler.

Medula Oblongata

Sindrom Medular medial (Sindrom Hemiplegic Alternans Nervus Hipoglossus)  Lesi unilateral kawasan piramis sesisi yang dilintasi oleh radiks N.XII, dengan gejala:

  • Kelumpuhan UMN anggota gerak atas dan bawah kontralateral dibawah tingkat leher
  • Kelumpuhan LMN N.XII (paralisis flaksid) ipsilateral

Sindrom Medular lateral (Sindrom Wallenberg)

Karena penyumbatan sesisi pada a. Serebeli posterior inferior terjadi infark di korpus restiforme ipsilateral berikut kawasan lintasan spinotalamik dan traktus spinalis nervi trigemini. Gejala yang tampak :

  • hemihipalgesi dan hemitermestesia alternans (karena lesi traktus spinotalamikus dan traktus spinalis nervi trigemini)
  • paresis dari lengkung langit-langit (dan otot-otot laring) ipsilateral (lesi N.IX dan N.X) sehingga terjadi kesulitan menelan.
  • Gangguan vestibular (lesi nukleus vestibularis) sehingga terjadi vertigo
  • Ataksia ipsilateral (lesi pada traktus spinoserebellaris)
  • Tanda-tanda Horner ipsilateral (akibat kerusakan pada substansia retikularis lateralis yang mengenai jaras simpatik sentralis) gejalanya :
    • miosis (paralisis dilator pupil, predominasi dari persarafan parasimpatikpada sfingter pupil)
  • enoftalmus (paralisis otot-otot orbita)
  • anhidrosis
  • ptosis (fissura palpebrae menyempit karena paralisis dari otot trasalis superior dan inferior)
  • vasodilatasi separuh wajah yang berkaitan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Duus P. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala; Edisi ke 2;

EGC; Jakarta, 1994; hal 31-41.

  1. Waxman, Stephen G. Correlative Neuroanatomy; Edisi ke 24; McGraw-Hill; New

York, 2000; hal 189- 190.

  1. Mardjono, Mahar. Neurologi Klinis Dasar; Edisi ke 11; Dian Rakyat; Jakarta,2006; hal

1-5, 26-35.

Leave a comment

Filed under Ilmu saraf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s