sectio caesarea

PENDAHULUAN

 Istilah sectio caesarea berasal dari perkataan Latin caedere yang artinya memotong. Pengertian ini semula dijumpai dalam Roman Law (Lex Regia) dan Emperor’s Law (Lex Caesarea) yaitu undang-undang yang menghendaki supaya janin dalam kandungan ibu-ibu yang meninggal harus dikeluarkan dari dalam rahim. Jadi sectio caesarea tidak ada hubungannya sama sekali dengan Julius Caesar.

            Operasi pertama kali terhadap pasien yang hidup (yang meninggal pada hari ke-25 post operasi) dilakukan pada tahun 1610. Sectio caesarea pertama yang sukses di Amerika dilakukan di daerah Virginia pada tahun 1794, ibu dan bayinya berhasil bertahan hidup.

Indikasi seksio sesarea yang paling sering ditemukan antara lain adalah  plasenta previa, terutama plasenta previa totalis; panggul sempit, CPD, kelainan letak, serta gawat janin. Sedangkan kontraindikasi dilakukannya pada hakekatnya tidak ada, tetapi jarang dilakukan pada janin mati dan adanya gangguan pada mekanisme pembekuan darah ibu.

Angka persalinan dengan seksio sesarea bertambah dengan pesat kira-kira sejak 20 tahun yang lalu di Amerika Serikat dan di negara berkembang lainnya. Di Amerika Serikat, angkanya bertambah dari 4,5% pada tahun 1965 menjadi 23% pada tahun 1985 dan kenaikan ini tercatat di semua negara bagian untuk wanita segala usia. Sedangkan di Indonesia didapatkan survei tentang seksio sesarea oleh  Biro Pusat Statistik (BPS)  pada tahun 1997 adalah 4,3 %,  dengan angka yang lebih tinggi di perkotaan.  Di RSCM angka ini mencapai 20,7 % pada tahun 1992.

Saat ini mulai dikembangkan persalinan pervaginam pada bekas seksio, berdasarkan hasil penelitian Flamm dkk yang menyatakan keberhasilan persalinan pervaginam setelah seksio sebanyak 74 % dengan kejadian ruptur 0,2 %.

 

 DEFINISI

Seksio sesarea atau persalinan sesarea, didefinisikan sebagai melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerotomi). Dewasa ini cara ini jauh lebih aman daripada dahulu berhubung dengan adanya antibiotika, transfusi darah, teknik operasi yang lebih sempurna, dan anestesia yang lebih baik. Karena itu kini ada kecenderungan untuk melakukan seksio sesarea tanpa dasar yang cukup kuat. Dalam hubungan ini perlu diingat bahwa seorang ibu yang telah mengalami pembedahan itu merupakan seorang yang mempunyai parut dalam uterus, dan tiap kehamilan serta persalinan berikut memerlukan pengawasan yang cermat berhubung dengan bahaya ruptura uteri.

 FREKUENSI

            Angka persalinan dengan seksio sesarea bertambah dengan pesat kira-kira sejak 20 tahun yang lalu di Amerika Serikat dan di negara berkembang lainnya. Di Amerika Serikat, angkanya bertambah dari 4,5% pada tahun 1965 menjadi 23% pada tahun 1985 dan kenaikan ini tercatat di semua negara bagian untuk wanita segala usia. Alasan terjadinya kenaikan yang mencolok ini tidak diketahui sepenuhnya, tetapi beberapa penjelasan mencakup :

  1. Adanya pengurangan paritas dan hampir separuh dari wanita yang hamil adalah nullipara. Oleh karena itu, peningkatan jumlah seksio sesarea dapat diperkirakan pada beberapa keadaan yang lebih lazim dijumpai untuk wanita nullipara, khususnya distosia dan kehamilan dengan hipertensi.
  2. Wanita cenderung mempunyai anak pada usia yan lebih tua. Pada tahun 1980 kurang lebih 20% dari kelahiran di Amerika Serikat terjadi di antara wanita yang berusia 30 tahun atau lebih, tetapi pada tahun 1985 angka tersebut naik menjadi 25%. Frekuensi seksio sesarea meningkat bersama dengan peningkatan usia bagi wanita.
  3. Pemantauan janin secara elektronik kemungkinan meningkatkan peluang untuk mendeteksi gawat janin dan mungkin mengakibatkan kenaikan jumlah seksio sesarea.
  4. Bayi dengan presentasi bokong lebih sering dilahirkan dengan seksio sesarea.
  5. Sekarang ini persalinan dengan forseps semakin jarang dilakukan. Di antara tahun 1972 dan 1980, persalinan dengan forseps menurun dari 37% menjadi 18%, yang sesuai dengan kenaikan angka seksio sesarea dari 7% menjadi 17%.
  6. Seksio sesarea berulang secara bermakna turut menyebabkan peningkatan total jumlah persalinan sesarea.
  7. Ada peningkatan keprihatinan mengenai masalah malpraktek. Menurut Huynes de Regt dkk. (1986), pasien pribadi nullipara tampaknya jauh lebih banyak menjalani seksio sesarea daripada pasien rumah sakit jika didiagnosis distosia, malpresentasi, atau gawat janin.

INDIKASI

            Seksio sesarea digunakan pada kasus di mana persalinan pervaginam tidak mungkin dilakukan atau memiliki resiko tinggi terhadap ibu dan bayi. Beberapa indikasi adalah mutlak (seperti plasenta previa totalis, cephalopelvic-disproportion), dan sebagian yang lain adalah relatif. Pada beberapa kasus, keputusan yang tepat sangat diperlukan untuk menilai apakah suatu persalinan dapat dilakukan secara pervaginam atau harus melalui seksio sesarea. Berikut ini adalah indikasi-indikasi untuk melakukan suatu seksio sesarea yang paling sering ditemukan :

Indikasi Ibu :

1.Plasenta previa, terutama plasenta previa totalis

2.Panggul sempit

3.Tumor – tumor jalan lahir/obstruksi

4.CPD

5.Stenosis serviks dan vagina

6.Ruptur uteri imminens

7.Partus lama (prolonged labor)

8.Partus tidak maju

9.Sudah pernah SC 2 kali

Indikasi Janin :

  1. Kelainan letak
  2. Gawat janin

KONTRAINDIKASI

Dalam praktek obstetri modern, pada hakekatnya tidak terdapat kontraindikasi untuk seksio sesarea. Meskipun demikian, seksio sesarea jarang diperlukan bila janin sudah mati atau terlalu prematur untuk bisa hidup. Pengecualian untuk pemerataan tersebut mencakup panggul sempit pada tingkatan tertentu di mana persalinan per vaginam dalam keadaan apapun tidak mungkin dilakukan, sebagian besar kasus plasenta previa, dan sebagian besar kasus letak lintang kasep. Sebaliknya, bilamana mekanisme pembekuan darah ibu mengalami gangguan yang serius, persalinan dengan insisi yang seminimal mungkin, yaitu persalinan per vaginam, lebih disukai untuk sebagian besar keadaan.

 TEKNIK SEKSIO SESAREA

TIPE INSISI UTERUS

Yang disebut insisi sesarea klasik adalah suatu insisi vertikal pada korpus uteri di atas segmen bawah uterus sampai ke fundus uteri. Insisi ini jarang digunakan. Insisi pada seksio sesarea hampir selalu dilakukan pada segmen bawah uteri secara transversal atau kadang-kadang secara vertikal. Insisi segmen bawah yang melintang mempunyai keuntungan karena hanya memerlukan pemisahan vesika urinaria dari miometrium yang ada di bawahnya. Jika insisi diperpanjang ke arah lateral, dapat terjadi laserasi cabang-cabang besar arteri dan vena uterina. Insisi vertikal yang rendah dapat diperlebar ke atas sehingga pada keadaan yang sangat membutuhkan banyak ruang, insisi dapat dilakukan sampai ke korpus uteri; kalau tidak, cara insisi tersebut merupakan tindakan yang kurang disukai. Penyayatan yang lebih luas pada vesika urinaria harus dilakukan agar insisi vertikal tetap terletak pada segmen bawah uterus. Lebih lanjut, jika insisi vertikal diperlebar ke bawah, peluasan ini dapat menimbulkan robekan dari serviks ke dalam vagina dan mungkin meliputi pula vesika urinaria. Di lain pihak, jika diperlebar ke atas sampai korpus uteri, penjahitan luka insisi, termasuk reperitonealisasi yang memuaskan, lebih sulit dikerjakan. Yang penting, para dokter kebidanan mempunyai pengalaman bahwa dalam kehamilan berikutnya insisi vertikal tampaknya jauh lebih banyak menyebabkan ruptur daripada insisi transversal pada segmen bawah, khususnya saat persalinan.

 Insisi Transversal Segmen Bawah

Pada presentasi kepala, insisi transversal melalui segmen bawah uterus seringkali merupakan operasi terpilih. Pada umunya, insisi transversal akan (1) mengurangi jumlah darah yang hilang, (2) lebih mudah diperbaiki, (3) terletak pada lokasi yang sangat kecil kemungkinan untuk mengalami ruptur dengan penonjolan janin ke dalam kavum abdomen selama kehamilan berikutnya, dan (4) tidak menyebabkan perlekatan usus atau omentum pada garis insisi.

JENIS-JENIS OPERASI SEKSIO SESAREA

Seksio Sesarea Klasik (Korporal)

Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm.

Kelebihan :

  • Mengeluarkan janin lebih cepat
  • Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik
  • Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal

Kekurangan :

  • Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karean tidak ada reperitonealisasi yang baik
  • Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri spontan

Seksio Sesarea Transperitonealis Profunda

Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim (low cervical transversal) kira-kira 10 cm.

Kelebihan :

  • Penjahitan luka lebih mudah
  • Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik
  • Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum
  • Perdarahan kurang
  • Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptura uteri spontan lebih kecil

Kekurangan :

  • Luka dapat melebar ke kiri, kanan, dan bawah, sehingga dapat menyebabkan arteri uterina putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak
  • Keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi

Seksio Sesarea Ekstraperitonealis

Dilakukan tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal, adalah suatu metode untuk menangani kehamilan dengan isi uterus yang terinfeksi. Tujuan operasi adalah untuk membuka uterus secara ekstraperitoneal dengan pembedahan melalui spasium Retzius dan kemudian di sepanjang salah satu sisi dan di bawah vesika urinaria untuk mencapai segmen bawah uterus.

Histerektomi Sesarea

Adalah seksio sesarea yang dilanjutkan dengan histerektomi. Indikasinya antara lain infeksi intra uterin, jaringan parut yang menimbulkan cacat yang nyata, uterus hipotonik yang mencolok serta tidak bereaksi terhadap oksitosin, prostaglandin dan pemijatan, laserasi yang tidak disengaja pada pembuluh darah besar uterus, mioma yang besar, displasia berat atau karsinoma serviks in situ, dan plasenta akreta atau inkreta. Penghalang utama dalam melakukan histerektomi sesarea adalah bertambahnya kehilangan darah dan frekuensi kerusakan traktus urinarius dalam bentuk trauma pada ureter atau pada vesika urinaria.

KOMPLIKASI

  • Infeksi puerperal (nifas)
    • Ringan; dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
    • Sedang; dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung
    • Berat; dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik.

Penanganannya adalah dengan pemberian cairan, elektrolit dan antibiotika yang adekuat dan tepat.

  • Perdarahan, disebabkan karena :
    • banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
    • atonia uteri
    • perdarahan pada placental bed
  • Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonealisasi terlalu tinggi
  • Kemungkinan ruptura uteri spontan pada kehamilan mendatang
  • Komplikasi pada janin, umumnya berupa depresi susunan saraf pusat akibat penggunaan obat-obatan anestesia (fetal narcosis).

PROGNOSIS

Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang, oleh karena kemajuan yang pesat dalam teknik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika, angka ini sangat menurun.

Angka kematian ibu pada rumah sakit-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000.

Nasib janin yang ditolong secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7%.

 NASEHAT PASCA OPERASI

  • Dianjurkan jangan hamil selama lebih kurang satu tahun, dengan memakai kontrasepsi
  • Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan antenatal yang baik
  • Dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit yang besar
  • Apakah persalinan yang berikut harus dengan seksio sesarea bergantung dari indikasi seksio sesarea sebelumnya dan keadaan kehamilan berikutnya
  • Hampir di seluruh institut di Indonesia tidak dianut diktum “once a caesarean always a caesarean”
  • Yang dianut adalah “once a caesarean not always a caesarean”, kecuali pada panggul sempit atau disproporsi sefalo-pelvik.

 

BEKAS SECTIO CAESAREA

Pada tahun 1988, Flamm dkk melaporkan suatu seri kasus yang terbesar tentang keberhasilan persalinan pervaginam pada bekas Sectio Cesarea (SC). Penelitian dilakukan  selama 2 tahun dari 1984-1985, dari 4929 pasien yang telah menjalani SC,  1776 orang bersedia untuk menjalani persalinan pervaginam dan 1314 orang berhasil. Penelitian ini memperlihatkan bahwa keberhasilan persalinan pervaginam setelah SC sebesar 74% dengan kejadian ruptur 0,2%.

Bulan September tahun 1980, Institut Nasional Kesehatan Anak dan Pembangunan Manusia bersama dengan  Pusat Teknologi Kesehatan mengeluarkan suatu konsensus bersama yang merekomendasikan tiga hal berkaitan dengan manajemen pasien dengan riwayat SC3, yaitu :

  1. Di RS dengan fasilitas yang memadai untuk melakukan SC emergensi, maka pada kasus-kasus yang memenuhi syarat dapat dilakukan percobaan untuk persalinan pervaginam,inform consent harus diperoleh sebelum tindakan dilakukan.
  2. Dengan insisi T, insisi vertikal rendah dan pada kasus yang tidak didokumentasikan atau diketahui jenis insisi pada SC terdahulu.
  3. Di RS yang tidak tersedia fasilitas yang memadai, maka percobaan persalinan pervaginam pada bekas SC mungkin dapat meningkatkan risiko baik untuk ibu maupun janin. Oleh karena itu pasien harus dijelaskan mengenai kondisi tersebut dan bahwa tersedia institusi lain dengan fasilitas yang lebih baik sehingga pasien dapat membuat pilihan.

Setelah publikasi ini, perhatian  komunitas para ahli obstetri terhadap persalinan pervaginam pada bekas SC (PPBS) muncul dan meningkatkan aktivitas mereka untuk  mempraktekkannya pada kasus yang sesuai. Jika persalinan pervaginam dilakukan  pada pasien bekas SC akan meningkatkan angka persalinan pervaginam sebesar 5 %. Hasilnya adalah penghematan biaya, morbiditas lebih rendah, lama perawatan lebih singkat serta penurunan infeksi postnatal.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, tidak semua pasien  bekas SC yang bisa dilakukan PPBS ini. American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG)3 telah merekomendasikan beberapa kriteria yang dapat dipakai dalam seleksi pasien bekas SC untuk menjalani persalinan pervaginam , yaitu :

  • Satu atau dua SC sebelumnya dengan insisi transversal rendah
  • Pelvis yang adekuat secara klinis
  • Tidak ada parut uterus lain dan riwayat ruptur uteri

Sedangkan kontraindikasi PPBS (ACOG): riwayat insisi klasik, operasi uterus, panggul sempit atau makrosomia, komplikasi medis, ketidakmampuan melaksanakan seksio sesarea segera karena tidak ada operator, anestesia dan fasilitas pendukung.

Untuk memprediksi keberhasilan PPBS dibuat suatu komponen/sistem penilaian dengan mengacu pada beberapa variabel yaitu skor bishop, persalinan pervaginam sebelum SC, dan indikasi SC sebelumnya. Prediksi keberhasilan ini dibuat oleh Weinstein dkk serta Alamia dkk. Namun belum ada metode yang memuaskan untuk memperkirakan keberhasilan PPBS (ACOG).

Ruptura uteri merupakan komplikasi langsung yang dapat terjadi pada PPBS, meskipun kejadiannya kecil, tapi dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas bagi ibu dan janin. Untuk menghindari terjadinya komplikasi ini, kita harus dapat mengenali faktor resiko yang terdapat pada pasien sebelum dilakukannya PPBS. Perbandingan angka komplikasi pada PPBS dengan pasien yang langsung menjalani SC elektif kedua telah diteliti oleh McMahon dkk. Hasilnya tidak ada perbedaan komplikasi minor pada kedua kelompok tersebut. Frekuensi ruptura uteri hanya 0,3 %. Angka histerektomi dan komplikasi mayor juga relatif tidak berbeda diantara kedua kelompok.

Ketika ruptura uteri terjadi, histerektomi, transfusi darah masif,  asfiksia neonatus, kematian  janin dan ibu dapat terjadi. Tanda ruptura uteri yang paling sering terjadi adalah pola denyut jantung janin yang tidak baik, dengan deselerasi memanjang. Deselerasi lambat, variabel, bradikardi, atau denyut jantung hilang sama sekali juga dapat terjadi. Gejala dan tanda lain termasuk nyeri uterus atau perut, hilangnya stasion bagian terbawah janin, perdarahan pervaginam, hipotensi.

Angka ruptura uteri pada PPBS < 1%, pada wanita yang menjalani seksio elektif ulang tanpa persalinan masih mempunyai risiko 0,03-0,2 %. Dari wanita yang menjalani PPBS, angka ruptura uteri sangat bervariasi tergantung faktor risiko yang ada. Untuk menghindari terjadinya komplikasi ini, kita harus mengenali faktor risiko pada pasien.

Adapun faktor risiko itu adalah:

  1. Riwayat Persalinan , meliputi :

Jenis parut

Insisi transversal rendah risikonya, kira-kira 1 % sedangkan insisi klasik 12%. Kepustakaan lain menyatakan bahwa resiko terjadinya ruptura uterus pada bekas SC dengan insisi klasik adalah 4-9 %, T-shaped 4-8%, low vertikal 1-7% dan transversal 0,2-1,5%.

Jumlah SC sebelumnya

Berapa jumlah SC yang masih dianggap aman untuk PBBS sampai saat ini masih belum jelas, karena terdapatnya hasil yang berbeda dari berbagai penelitian. Phelan dkk 7 tidak menemukan satu kasus ruptura uteri pun pada 501 pasien dengan riwayat SC 2 kali dan menjalani PBBS pada persalinan ketiganya. Sedangkan Miller dkk menemukan resiko ruptura uterus  tiga kali lebih tinggi pada jumlah parut yang lebih dari satu.

Riwayat persalinan pervaginam

Suatu penelitian yang sangat besar menunjukkan efek protektif yang signifikan dari riwayat persalinan pervaginam pada bekas SC satu kali, dan mungkin merupakan faktor protektif juga pada bekas SC dua kali. Penelitian kohort yang besar oleh Zelop dkk menemukan bahwa riwayat persalinan pervaginam pada bekas SC menurunkan resiko terjadinya ruptura uterus. Ruptura 1,1% terjadi pada wanita tanpa riwayat persalinan pervaginam dan hanya 0,2% pada wanita yang pernah mengalami persalinan pervaginam setelah SC.

Interval persalinan

Shipp dkk menyatakan bahwa waktu yang pendek antara SC dan percobaan persalinan pervaginam berikutnya dapat meningkatkan resiko terjadinya ruptura uterus karena tidak tersedia waktu yang adekuat untuk penyembuhan luka. Wanita dengan interval persalinan kurang dari 18 bulan, mempunyai resiko 2,3% dibandingkan dengan yang intervalnya lebih dari 18 bulan yaitu 1%.

Demam post partum setelah SC

Demam post partum SC merupakan suatu predisposisi penyembuhan luka yang jelek dan pada beberapa tempat hal ini merupakan kontraindikasi untuk dilakukannya PBBS.

 

  1. Faktor Ibu, meliputi

Umur

Suatu studi oleh Shipp dkk menyakan bahwa usia diatas 30 tahun mungkin berhubungan dengan kejadian ruptura yang lebih tinggi, dengan membandingkan insidens ruptura uteri pada wanita <30 tahun 0,5% dengan wanita >30 tahun 1,4%.                   Wanita >30 tahun berisiko 3,2 kali mengalami ruptura uteri dibandingkan dengan <30 tahun ( OR ; 3,2 angka kepercayaan 95 %).

Anomali uterus

Terdapat kejadian ruptur yang lebih tinggi pada wanita dengan anomali uterus.

  1. Karakteristik kehamilan saat ini

Makrosomia

Risiko ruptura uteri akan meningkat dengan meningkatnya berat badan janin karena terjadinya distensi uterus.

Kehamilan ganda

Hanya satu penelitian mengenai hal ini dan ternyata dari 92 wanita, tidak terjadi ruptura uteri.

Ketebalan segmen bawah rahim (SBU)

Risiko terjadinya ruptura 0% bila ketebalan SBU > 4,5 mm, 0,6% bila 2,6-3,5 mm dan 9,8  %.

Bila tebalnya < 2,5 mm diperlukan upaya untuk mengantisipasi terjadinya komplikasi ruptura uteri, yaitu : ( Ash,1993)

  1. Anamnesis yang teliti mengenai riwayat persalinan sebelumnya, jumlah SC, riwayat persalinan pervaginam, jarak antar kehamilan, riwayat demam pasca SC serta usia ibu.
  2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kehamilan sekarang : makrosomia, usia kehamilan, kehamilan ganda , ketebalan SBU, presentasi janin.
  3. Faktor –faktor yang berhubungan dengan tatalaksana persalinan, seperti induksi dan augmentasi.
  4. Pemantauan dan observasi ketat persalinan.
  5. Kemampuan mengadakan operasi dalam waktu kurang lebih 30 menit bila terjadi ancaman ruptura uteri.

Malpresentasi

Flamm dkk melaporkan tidak terjadi ruptura pada 56 pasien yang dilakukan versi luar pada presentasi bokong saat hamil aterm, namun karena tidak ada data yang definitif, prosedur ini mungkin bisa berhubungan dengan terjadinya ruptura uteri.

Keberhasilan PPBS dapat diprediksi sebelumnya berdasarkan data-data yang diperoleh baik dari anamnesis maupun pemeriksaan fisik terhadap pasien. Terdapat dua metode yang bisa digunakan untuk memprediksi hal ini, yaitu Skor dari Weinstein dan Alamia.

Manajemen Persalinan pada bekas SC

Persalinan spontan lebih diharapkan pada wanita dengan riwayat SC, namun penelitian yang telah dilakukan selama ini menyatakan bahwa induksi persalinan aman selama terdapat indikasi pada ibu dan janin serta pasien merupakan kandidat yang memenuhi syarat untuk PPBS. Obat yang dapat digunakan untuk pematangan serviks pada bekas SC adalah Prostaglandin E2 gel, yang pemberiannya bisa langsung pada forniks posterior vagina atau dioleskan pada kanal serviks. Kedua metoda ini tampaknya cukup aman dan efektif pada pasien yang akan menjalani PPBS. Misoprostol yang saat ini sangat banyak digunakan untuk pematangan serviks pada wanita tanpa riwayat SC ternyata tidak boleh digunakan untuk tujuan yang sama pada bekas SC karena tingginya kejadian robeknya parut.

Infus Oksitosin merupakan metode yang dominan untuk menginduksi ataupun augmentasi persalinan, dan dari hasil metaanalisis ternyata kejadian ruptura uterus pada bekas SC dibandingkan tanpa riwayat SC yang mendapat infus Oksitosin adalah seimbang, kira-kira 0,5 –0 1 % pada kedua kelompok.

Tabel 1

Skor Weistein :                                                Tidak                            Ya

Nilai Bishop >                                                      0                                4

Indikasi SC yang lalu

Grade  A                                                          0                                 6

Malpresentasi

PIH

Gemelli

Grade  B                                                            0                                5

Plasenta previa atau Solusio

Prematur

Ketuban pecah

Grade C                                                           0                                    4

Gawat janin

CPD atau Distosia

Prolaps tali pusat

Grade D                                                           0                                    3

Makrosomia

PJT

Jika Skor  >  4 keberhasilan  > 58%

Skor  >  6 keberhasilan   > 67%

Skor  >  8 keberhasilan   > 78%

Skor  >  10 keberhasilan   > 85%

Skor  >   12 keberhasilan   > 88%

Tabel 2

Skor Alamia                                                                                      Nilai

Riwayat persalinan pervaginam sebelumnya                                       2

Indikasi SC sebelumnya

Sungsang, gawat janin, plasenta previa, elektif                                2

Distosia pada pembukaan < 5 cm                                                     1

Distosia pada pembukaan > 5 cm                                                     0

Dilatasi serviks

> 4 cm                                                                                        2

> 2,5  < 4 cm                                                                                           1

< 2,5 cm                                                                                     0

Station dibawah –2                                                                         1

Panjang serviks < 1 cm                                                                   1

Persalinan timbul spontan                                                               1

Skor  7 – 10, keberhasilan 94,5%

4 – 6 ,   keberhasilan 78,8%

0 – 3 ,   keberhasilan 60,%

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Obstetri Ginekologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s