Mioma Uteri

PENDAHULUAN

          Myoma uteri merupakan jenis tumor uterus yang paling sering ditemukan. Diperkirakan bahwa 20% dari wanita berumur 35 tahun penderita myoma uteri walaupun tidak disertai gejala-gejala atau sekitar 20-25% terdapat pada wanita usia reproduktif dan 3-9 kali lebih banyak terdapat pada wanita berkulit hitam daripada berkulit putih. Di Indonesia myoma uteri  ditemukan  2,39 – 11,7%  pada  semua  penderita  ginekologi  yang dirawat. Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang-sarang myoma. Mioma uteri lebih sering didapati pada wanita nullipara atau yang kurang subur. Faktor keturunan juga memegang peran.

          Etiologi dari myomenerasia uteri tidak diketahui, tapi ada juga yang mengemukakan teori patogenesis myoma yaitu Meyer dan Desnoo, Lipschutz, Puukka dan kawan-kawan. Puukka dkk., menyatakan bahwa reseptor estrogen pada mioma lebih banyak didapati daripada miometrium normal. Sedangkan menurut Meyer asal mioma adalah sel imatur, bukan dari selaput otot yang matur.

          Myoma uteri tidak terjadi sebelum menars/pubertas dan di bawah pengaruh hormon, myoma biasanya tumbuh pada masa reproduktif. Myoma uteri tidak pernah terjadi setelah menopause bahkan yang telah ada pun biasanya mengecil bila mendekati masa menopause. Setelah menopause, hanya kira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh. Bila myoma uteri bertambah besar pada  masa  post  menopause,  harus  dipikirkan  degenerasi  maligna (Sarcoma).

          Jika myoma tumbuh secara mikroskopik dan terisolasi, myoma biasanya multiple dan biasanya berukuran kurang dari 15 cm tapi bisa mencapai ukuran yang sangat besar dengan berat lebih dari 45 kg (100 pon).

          Myoma uteri berasal dari otot polos uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya sehingga dalam kepustakaan dikenal juga sebagai fibrimioma, fibroid, leiomyoma.

          Walaupun biasanya asimptomatik, leiomyomata dapat menyebabkan banyak problema termasuk metrorrhagia dan menorrhagia, rasa sakit bahkan infertilitas. Memang, perdarahan uteri yang sangat banyak merupakan indikasi yang paling banyak untuk dilakukan histerektomi di USA.

Definisi dan Klasifikasi Myoma Uteri

          Myoma uteri adalah neoplasma jinak yang tersusun dari otot polos uteri dan jaringan ikat yang menumpangnya dan sering juga disebut sebagai fibromioma, leiomyoma, fibroid. Dapat bersifat tunggal atau multipel dan mencapai ukuran besar (100 pon). Konsistensinya keras, dengan batas kapsel yang jelas sehingga dapat dilepaskan dari sekitarnya.

Menurut lokalisasi, myoma uteri terdapat di  :

  1. cervical (1-3%)
  2. corporal

Cervical lebih jarang tetapi bila mencapai ukuran besar dapat menekan kandung kencing dan menyebabkan gangguan miksi dan juga secara teknik operasinya lebih sukar.

Menurut posisi myoma terhadap lapisan-lapisan uterus, dapat dibagi dalam 3 jenis :

  1. mioma submukosa
  2. mioma intramural/interstitial
  3. mioma subserosa/subperitonal

Myoma Submukosa.

          Tumbuh tepat di bawah endometrium dan menonjol ke dalam cavum uteri. Sering juga tumbuh bertangkai yang panjang dan menonjol melalui serviks menuju ke vagina sehingga dapat terlihat secara inspekulo dan disebut sebagai Myom Geburt. Myom pada serviks dapat menonjol ke dalam saluran serviks sehingga OUE berbentuk bulat sabit.

          Karena tumbuh di bawah endometrium dan di endometriumlah pendarahan uterus yang paling banyak, sehingga myoma submukosa ini paling sering menyebabkan perdarahan uteri yang banyak dan iregular (menometrorrhagia). Akibatnya diperlukan tindakan histerektomi pada kasus myoma dengan perdarahan yang sangat banyak walaupun ukurannya kecil.

          Myoma submukosa yang bertangkai sering terinfeksi (ulserasi) dan mengalami torsi (terpelintir) ataupun menjadi nekrosis dan apabila hal ini terjadi maka kondisi ini menjadi perhatian utama sebelum mengatasi myoma itu sendiri (sindrom mirip dengan akut abdomen).

          Kemungkinan terjadi degerasi sarkoma juga lebih besar pada jenis myoma submucosa ini.

          Adanya myoma sub mucosa dapat dirasakan sebagai suatu “curet bump” (benjolan waktu kuret).

Myoma Intramural atau Interstitial.

Tumbuh di dinding uterus di antara serabut miometrium. Ukuran dan konsistensinya bervariasi, kalau besar atau multipel dapat menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol.

Myoma Subserosa atau Subperitoneal

Tumbuh di bawah tunica serosa (tumbuh keluar dinding uterus) sehingga menonjol keluar pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa.

Myoma jenis ini juga dapat bertangkai. Jika myoma subserosa yang bertangkai ini mendapat perdarahan extrauterine dari pembuluh darah omentum, maka tangkainya dapat atrofi dan diserap sehingga terlepas sehingga menjadi “parasitic myoma”.

Kadang-kadang vena yang ada di permukaan pecah dan menyebabkan perdarahan intra abdominal. Malah myoma subserosa ini juga dapat tumbuh diantara kedua lapisan peritoneal dari ligamentum latum menjadi “myoma intraligamenter” yang dapat menekan ureter dan A. iliaca, sehingga menimbulkan gangguan miksi dan rasa nyeri.

Patogenesis Myoma Uteri

Penyebab myoma uteri tidak diketahui. Ada bukti bahwa setiap sel myoma adalah uniselular yang berasal (monoclonal) dari penelitian glukosa-6-fosfat dehidrogenase. Hal ini sesuai dengan teori dari Meyer dan De Snoo bahwa asal sel myoma adalah sel imatur, bukan dari sel otot yang matur (teori cell nest atau teori genitoblast).

Walau tidak ada bukti bahwa estrogen menyebabkan mioma uteri, tetapi estrogen jelas berpengaruh terhadap pertumbuhan myoma (menjadi lebih besar). Hal ini juga sesuai dengan percobaan Lipschutz yang memberikan estrogen pada kelinci percobaan yang ternyata dapat menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen. Efek fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progesteron atau testosteron.

Sel-sel myoma mempunyai reseptor estrogen yang lebih banyak daripada sel-sel myometrium yang normal dan hal ini sesuai yang ditemukan oleh penelitian Puukka dan kawan-kawan, tapi sel-sel myoma yang tumbuh di endometrium mempunyai reseptor estrogen yang rendah. Sel-sel myoma tidak mempunyai reseptor progesteron. Estrogen mungkin memperbesar ukuran myoma dengan peningkatan produksi matriks ekstraseluler. Leiomyoma mungkin bertambah besar dengan terapi estrogen dan selama kehamilan, tetapi hal tersebut tidak selalu terjadi.

Hipotesis yang menyatakan HGH (Human Growth Hormon) berhubungan dengan pertumbuhan myoma telah secara luas dibuktikan tidak berhubungan dengan penelitian radioimunoassay dari HGH pada wanita hamil dan wanita yang menggunakan estrogen tapi terdapat spekulasi bahwa pertumbuhan myoma pada kehamilan berhubungan sinergis dengan aktivitas estradiol dan HPL (Human Placental Lactogen).

Patologi Anatomi Myoma Uteri

Myoma uteri biasanya multipel, terpisah dan sferis atau berlobulasi yang tidak teratur. Walaupun myoma mempunyai pseudocapsule, myoma ini dapat jelas dibedakan dari myometrium yang normal dan dapat dienukleasi secara mudah dari jaringan sekitarnya.

Secara makroskopis pada potongan melintang, myoma itu berwarna lebih pucat, bulat, licin dan biasanya padat  dan jika myoma yang baru saja diangkat tersebut dibelah, permukaan tumor terpisah dan mudah dibedakan dari pseudocapsulenya.

Secara mikroskopik, myoma uteri terdiri dari berkas otot polos dan jaringan ikat, yang tersusun seperti konde/pusaran air (Whorled like appearrance).

Perubahan Sekunder pada Myoma Uteri

Perubahan sekunder pada Myoma Uteri ini didasarkan atas gambaran histopatologi dan terbagi menjadi 2 bagian besar  :

  1. Degenerasi jinak, yang terbagi lagi menjadi 7.
  2. Atrofi

Tanda dan gejala-gejala berkurang atau menghilang sesuai dengan ukuran myoma yang mengecil pada saat menopause atau sesudah kehamilan.

  1. Degenerasi Hialin.

                    Perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita usia lanjut karena myoma telah menjadi matang. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen dimana tumor ini tetap berwarna putih tapi di dalamnya berwarna kuning, lembut bahkan seperti gel/agar-agar (bergelatin). Tumor ini biasanya asimtomatik.

  1. Degenerasi Kistik (Likuifikasi).

Merupakan kelanjutan dari degenerasi hialin yang ekstrim sehingga seluruh tumor menjadi mencair seolah-olah menyerupai uterus yang gravid atau kista ovarium.

Stress fisik dapat menyebabkan pecahnya tumor ini sehingga menyebabkan evakuasi secara mendadak isi cairan tersebut ke dalam uterus, rongga peritoneum dan ruang retroperitoneal. Dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma.

  1. Kalsifikasi (Degenerasi membatu)

Myoma jenis subserosa yang tersering mengalami kalsifikasi ini karena sirkulasi darah yang terganggu dan terutama pada wanita berusia lanjut. Hal ini terjadi karena presipitasi CaCO3 (calcium carbonate) dan fosfat sebagai kelanjutan dari sirkulasi darah yang terganggu itu. Dengan rontgen, dapat terlihat dengan jelas (opak) dan dikenal sebagai “ Womb Stone”.

  1. Septik atau infeksi dan supurasi.

Sirkulasi yang tidak adekuat menyebabkan nekrosis sentralis dari tumor yang kemudian terinfeksi terutama terjadi pada jenis submukosa akibat adanya ulserasi. Hal ini menyebabkan nyeri perut bawah yang akut disertai demam.

  1. Degenerasi merah (Red or Carneous).

Terutama terjadi pada kehamilan dan nifas dikarenakan trombosis vena dan kongesti dengan perdarahan interstitial (nekrosis sub akut) sehingga pada irisan melintang tampak seperti daging mentah dan merah yang diakibatkan penumpukan pigmen hemosiderin dan hemofusin. Selama kehamilan, ketika degenerasi merah ini terjadi juga diikuti edema dan hipertrofi myometrium.

Degenerasi merah ini merupakan degenerasi dan infark yang aseptik. Biasanya pada degenerasi merah juga menimbulkan rasa sakit yang biasanya akan sembuh sendiri dan tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Tanda dan gejala ini mirip dengan torsi tumor ovarium dan torsi mioma yang bertangkai.

Komplikasi potensial dari degenerasi dalam kehamilan meliputi kelahiran preterm dan sangat jarang mencetuskan DIC (Disseminated Intravascular coagulation).

  1. Degenerasi Lemak (myxomatous or fatty)

Merupakan degenerasi asimtomatik yang jarang terjadi dan merupakan kelanjutan dari degenerasi hialin dan kistik.

  1. Degenerasi malignansi/Sarcomatosa/Ganas.

Myoma uteri yang menjadi leiomyosarkoma ditemukan hanya 0,32 – 0,6% dari seluruh myoma serta merupakan 50-75% dari semua jenis sarkoma uteri. Kecurigaan malignansi apabila myoma uteri cepat membesar dan terjadi pembesaran myoma pada menopause.

 

Gejala-Gejala Myoma Uteri

Gejala-gejala myoma hanya terdapat pada 35-50 % pasien dengan myoma uteri. Malah kebanyakan myoma ini tidak memberikan gejala (kebetulan ditemukan) dan bahkan myoma yang sangat besar dapat tidak terdeteksi terutama pada pasien yang gemuk. Gejala myoma uteri tergantung dari :

  1. Jenis myoma (subserosa, intramural, submukosa)
  2. Besarnya myoma
  3. Lokalisasi myoma
  4. Perubahan (degenerasi) dan komplikasi yang terjadi

Gejala-gejala myoma uteri sebagai berikut :

  1. Perdarahan yang abnormal (menometrorhagia, dismenorrhae).
  2. Nyeri.
  3. Akibat tekanan (pressure effect).
  4. Tumor/massa di perut bawah.
  5. Gejala-gejala sekunder.
  6. Infertilitas.
  7. Abortus spontan.

Perdarahan yang abnormal

Merupakan gejala yang tersering (+ 30%) dan manifestasi klinik yang paling penting pada leiomyoma. Biasanya dalam bentuk menorrhagia, metrorrhagia, dysmenorrhea. Jenis myoma yang sering menyebabkan perdarahan adalah myoma submukosa. Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah :

  1. Pengaruh ovarium sehingga terjadi hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma endometrium.
  2. Permukaan endometrium di atas myoma submukosa
  3. Atrofi endometrium di atas myoma submukosa
  4. Myometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang myoma diantara serabut myometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.

Nyeri

Gejala ini tidak khas untuk myoma. Nyeri timbul karena gangguan sirkulasi darah pada myoma, infeksi, nekrosis, torsi myoma yang bertangkai atau karena kontraksi myoma subserosa dari cavum uteri. Rasa nyeri yang diakibatkan infark dari torsi atau degenerasi merah dapat menyerupai Akut Abdomen (disertai enek dan muntah-muntah).

Myoma yang sangat besar dapat menyebabkan “sensasi berat (penuh)” pada daerah panggul, sensasi massa dalam pelvis, atau sensasi massa yang dapat diraba melalui dinding perut . Punggung yang pegal atau sakit adalah gejala yang umum karena penekanan terhadap urat saraf yang menjalar ke punggung, pinggang dan tungkai bawah .

Pada myoma Geburt menyebabkan kanalis servikalis sempit sehingga timbul dysmenorrhae.

Akibat Tekanan

Bila menekan kandung kemih, akan menimbulkan kerentanan kandung kemih (Bladder Irritability), pollakisuria dan dysuria. Bila urethra tertekan, bisa timbul retentio urine. Bila berlarut-larut dapat menyebabkan hydroureteronephrosis. Tekanan pada rektum tidak begitu besar, kadang-kadang menyebabkan konstipasi dan kadang-kadang sakit pada waktu defekasi. Tumor dalam cavum Douglasi dapat menyebabkan retensio urine. Kalau besar sekali, mungkin ada gangguan pencernaan, kalau terjadi tekanan pada Vena Cava Inferior akan terjadi oedema tungkai bawah.

Myoma pada cervical dapat menyebabkan sekret vaginal yang serosanguineous, perdarahan vaginal, dyspareunia dan infertilitas.

Gejala Sekunder

Akibat perdarahan yang hebat :

  • Anemia
  • Lemah
  • Pusing-pusing
  • Erythrocytosis pada myoma yang besar

Infertilitas

Myoma yang menyebabkan infertilitas primer hanya 2-10% dari pasien. Jenis myoma yang berhubungan dengan infertilitas adalah myoma submukosa yang bertangkai dan myoma yang terletak di dekat cornu.

Infertilitas sekunder yang disebabkan myoma dikarenakan perdarahan uteri abnormal, motilitas uterine atau tuba yang berpengaruh dengan transport sperma.

Abortus Spontan

Insidens abortus spontan yang secara sekunder berhubungan dengan myoma tidak diketahui tapi insidens ini 2 x lebih banyak daripada wanita hamil normal. Contohnya, kejadian abortus spontan sebelum myomectomi kira-kira 40% dan sesudah myomektomi kira-kira 20%.

Pemeriksaan Fisik Pada Myoma Uteri

Myoma dapat secara mudah ditemukan dengan pemeriksaan rutin bimanual dari uterus atau kadang-kadang dengan palpasi pada abdomen bawah.

Pemeriksaan Bimanual akan mengungkapkan tumor padat, keras, teraba berbenjol-benjol, gerakan bebas, tidak sakit, umumnya terletak di garis tengah atau agak ke samping dan harus dipastikan bahwa tumor merupakan bagian dari rahim.

Myoma submukosa kadang kala dapat teraba dengan jari yang masuk ke dalam kanalis servikalis dan terasanya benjolan pada permukaan kavum uteri.

Dengan sondase, cavum uteri menjadi luas dan tidak rata yang terutama terdapat pada myoma intramural.

Retroflexi uterus dan retroversi mungkin menyulitkan pemeriksaan diagnosis fisis walaupun tumor itu merupakan suatu myoma yang berukuran sedang. Apabila servix ditarik ke atas dan ke belakang simfisis, biasanya ditemukan suatu jaringan fibroid yang besar.

Pencitraan Pada Myoma Uteri

USG pelvik umumnya dapat membantu diagnosis dan menyingkirkan kehamilan sebagai pembesaran hamil. USG pelvik merupakan pemeriksaan pencitraan yang paling utama pada kasus myoma tapi bukan berarti USG pelvik merupakan pengganti pemeriksaan bimanual dari uterus dan pemeriksaan abdomen.

Leiomyoma yang besar terlihat sebagai massa jaringan yang lunak pada rontgen abdomen bawah dan pelvik terutama akan memberikan diagnosis yang kuat bila myoma mengalami kalsifikasi (gambaran rontgen pada kasus ini radioopak). Histerosalpingografi mungkin berguna pada kasus leiomyoma intrauteri pada pasien dengan infertilitas.

MRI (Magnetic Resonans Imaging) sangat tinggi akurasinya dalam menunjukkan jumlah, besar dan lokasi leiomyoma.

 Penemuan Laboratorium Pada Myoma Uteri

Anemia merupakan tanda umum dari myoma uteri. Anemia ini terjadi karena perdarahan uteri yang banyak dan penurunan kadar zat besi. Kadang-kadang didapatkan eritrositosis pada pasien. Hematokrit akan menjadi normal setelah rahim diangkat dan terjadi peningkatan erithropoetin.

Selain itu, polisitemia dan kelainan ginjal mengarah pada spekulasi bahwa leiomyoma mungkin menekan ureter menyebabkan tekanan balik ureter dan kemudian merangsang produksi eritropoeitin ginjal. Leukositosis, panas dan kenaikan sedimentasi mungkin timbul bila terdapat degenerasi atau infeksi akut pada myoma.

Pemeriksaan Khusus Pada Myoma Uteri

Histeroskopi mungkin dapat membantu dalam identifikasi dan juga untuk mengangkat myoma submukosa. Laparaskopi lebih jelas dalam menentukan asal dari leiomyoma dan lebih banyak digunakan untuk myomektomi.

Diagnosis Banding Myoma Uteri

Pada myoma subserosa, diagnosa bandingnya adalah :

  1. Tumor ovarium yang solid
  2. Kehamilan uterus gravidus

Pada myoma submukosa yang dilahirkan diagnosa bandingnya adalah :

  1. Inversio uteri

Pada myoma intramural, diagnosa bandingnya adalah :

  1. Adenomiosis
  2. Khoriokarsinoma
  3. Karsinoma korporis uteri atau sarcoma uteri

Penatalaksanaan Pada Mioma Uteri

Pilihan pengobatan myoma tergantung umur pasien, paritas, status kehamilan, keinginan untuk mendapatkan keturunan lagi, keadaan umum dan gejala serta ukuran lokasi serta jenis myoma uteri itu sendiri.

Disini akan dibahas penatalaksanaan myoma uteri pada wanita yang tidak hamil. Penatalaksanaan myoma uteri pada wanita hamil akan dibahas tersendiri.

  1. Konservatif dengan pemeriksaan periodik

Tidak semua myoma uteri memerlukan pengobatan bedah ataupun medikamentosa terutama bila myoma itu masih kecil dan tidak menimbulkan gangguan atau keluhan. Walaupun demikian myoma uteri memerlukan pengamatan 3-6 bulan, maksudnya setiap 3-6 bulan pemeriksaan pelvik dan atau USG pelvik seharusnya diulang.

Pada wanita menopause, myoma biasanya tidak memberikan keluhan. Bahkan pertumbuhan myoma dapat terhenti pertumbuhannya atau menjadi lisut. Estrogen harus digunakan dengan dosis yang terkecil-kecilnya pada wanita post menopause dengan myoma atau mengontrol gejala-gejala dan ukuran myoma harus diperiksa dengan pemeriksaan pelvik dan USG pelvik setiap 6 bulan. Perlu diingat bahwa penderita myoma uteri sering mengalami menopause yang terlambat. Bila didapatkan pembesaran myoma pada masa post menopause, harus dicurigai kemungkinan keganasan dan pilihan terapi dalam hal ini adalah histerektomi total.

  1. Pengobatan Medikamentosa dengan GnRHa (Gonadotropin Releasing Hormone Antagonist)

Hal ini didasarkan atas pemikiran myoma uteri terdiri atas sel-sel otot yang diperkirakan dipengaruhi oleh estrogen. GnRHa yang mengatur reseptor gonadotropin di hipofisis akan mengurangi sekresi gonadotropin yang mempengaruhi mioma.

Pemberian GnRHa (buseriline asetate) selama 16 minggu pada mioma uteri menghasilkan degenerasi hialin di miometrium hingga uterus dalam keseluruhannya menjadi lebih kecil. Oleh karena efek inilah, GnRHa dapat berguna mengontrol perdarahan (kecuali pada polypoid submucous yang malah dapat memperburuk perdarahan), terapi pengganti untuk bedah dimana bedah dalam masalah ini tidak bisa dilakukan, untuk vaginal histerektomi.

Menurut literatur terakhir, pemakaian GnRHa lebih dari 3 bulan menyebabkan miomektomi lebih sulit. Pemakaian GnRHa hanya boleh digunakan sementara karena GnRHa menyebabkan menopause yang palsu. Bila pemakaian GnRHa dihentikan maka myoma yang lisut itu tumbuh kembali di bawah pengaruh estrogen oleh karena myoma itu masih mengandung reseptor estrogen dalam konsentrasi yang tinggi.

  1. Pengobatan Operatif

Myomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Myomektomi dilakukan bila masih menginginkan keturunan dan syaratnya harus dilakukan dilatasi kuretase dulu untuk menghilangkan kemungkinan keganasan. Myomektomi cukup berhasil untuk mengontrol perdarahan kronik akibat myoma.

Tindakan myomektomi dapat dikerjakan misalnya dengan extirpasi melalui vagina pada myom geburt. Malah sekarang ini myomektomi dapat dikerjakan dengan histeroskopi untuk kasus myoma submukosa dan dengan laparaskopi untuk kasus myoma subserosa. Angka kemungkinan terjadi kehamilan setelah myomektomi adalah 30-50%.

Perlu diingat untuk dilakukan pemeriksaan patologi anatomi segera setelah dilatasi kuretase dan myomektomi untuk menyingkirkan myosarcoma atau mixed mesodermal sarcoma.

Kerugian myomectomi adalah :

  1. melemahkan dinding uterus – ruptura uteri pada waktu hamil
  2. menyebabkan perlekatan
  3. residif

Histerektomi masih diperlukan oleh 25-35% penderita tersebut. Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang umumnya merupakan tindakan terpilih. Histerektomi dapat dilaksanakan perabdominam atau per vaginam. Histerektomi pervaginam sulit karena uterus harus lebih kecil dari telur angsa dan tidak ada perlekatan dengan sekitarnya. Histerektomi pervaginam diperlukan bila ada perbaikan cystocele, rectocele atau enterocele dan akan lebih mudah bila disertai prolapsus uteri.

Histerektomi secara umum dilakukan pada myoma yang besar dan multiple. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya karsinoma servisis uteri. Histerektomi supra vaginal (sub total) hanya dilakukan apabila terdapat kesukaran teknis dalam mengangkat uterus keseluruhannya  dan bila histerektomi supravaginal ini dilakukan maka pemeriksaan paps smear harus dilakukan 1 tahun sekali.

Pada wanita muda sebaiknya ditinggalkan 1 atau ke-2 ovarium, maksudnya untuk :

  1. menjaga jangan terjadi menopause sebelum waktunya
  2. menjaga gangguan koroner atau aterosklerosis umum

 

Radioterapi

Tindakan ini bertujuan untuk agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga penderita mengalami menopause dan diharapkan akan menghentikan perdarahan nantinya.

Syarat-syarat dilakukan radioterapi adalah :

–   hanya dilakukan pada wanita yang tidak dapat dioperasi (bad  riskpatient)

–   uterus harus lebih kecil dari kehamilan 3 bulan

–   bukan jenis submukosa

–   tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum

–   tidak dilakukan pada wanita muda sebab dapat menyebabkan menopause

–   tidak ada keganasan uterus

Myoma Uteri dan Kehamilan

          Pengaruh mioma uteri pada kehamilan adalah  :

  • Kemungkinan abortus lebih besar karena distorsi cavum uteri khususnya pada myoma submukosum.
  • Dapat menyebabkan kelainan letak janin
  • Dapat menyebabkan plasenta praevia dan plasenta akreta
  • Dapat menyebabkan HPP akibat inersia maupun atonia uteri akibat gangguan mekanik dalam fungsi miometrium
  • Dapat mengganggu proses involusi uterus dalam masa nifas
  • Jika letaknya dekat pada serviks, dapat menghalangi kemajuan persalinan dan menghalangi jalan lahir.

Pengaruh kehamilan pada myoma uteri adalah  :

  • Myoma membesar terutama pada bulan-bulan pertama karena pengaruh estrogen yang meningkat
  • Dapat terjadi degenerasi merah pada waktu hamil maupun masa nifas seperti telah diutarakan sebelumnya, yang kadang-kadang memerlukan pembedahan segera guna mengangkat sarang myoma. Anehnya, pengangkatan sarang myoma demikian itu jarang menyebabkan perdarahan.
  • Meskipun jarang, mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi dengan gejala dan tanda sindrom akut abdomen.

Terapi myoma dengan kehamilan adalah konservatif karena myomektomi pada kehamilan sangat berbahaya disebabkan kemungkinan perdarahan hebat dan dapat juga menimbulkan abortus. Operasi terpaksa dilakukan kalau ada penyulit-penyulit yang menimbulkan gejala akut atau karena myoma sangat besar. Jika myoma menghalangi jalan lahir, dilakukan SC (Sectio Caesarea) disusul histerektomi tapi kalau akan dilakukan enukleasi (myomektomi) lebih baik ditunda sampai sesudah masa nifas (12 minggu setelah melahirkan).

Prognosis Myoma Uteri

Histerektomi dengan mengangkat seluruh myoma adalah kuratif. Myomektomi yang extensif dan secara signifikan melibatkan myometrium atau menembus endometrium, maka diharuskan SC (Sectio caesarea) pada persalinan berikutnya. Myoma yang kambuh kembali (rekurens) setelah myomektomi terjadi pada 15-40% pasien dan 2/3-nya memerlukan tindakan lebih lanjut.

KESIMPULAN

  • Myoma merupakan tumor jinak ginekologik paling sering ditemukan pada wanita usia > 30 th, nullipara, faktor keturunan juga berperan. Penyebab pasti tidak diketahui tetapi jelas bahwa estrogen mempengaruhi terhadap pertumbuhan myoma.
  • Gejala klinis sebagian besar asimptomatik. Tergantung dari lokasi, besar, perubahan dan komplikasi.
  • Pemeriksaan fisik yang penting dalam mendiagnosa myoma adalah pemeriksaan abdomen dan anogenital. Pemeriksaan penunjang seperti USG merupakan pemeriksaan yang sangat penting.
  • Penatalaksanaan myoma uteri tergantung pada keadaan umum pasien, beratnya keluhan, karakteristik myoma, faktor usia, keinginan untuk memiliki anak.
  • Histerektomi dilakukan pada myoma yang besar dan multipel. Myomektomi dilakukan bila masih menginginkan keturunan dan syaratnya harus dilakukan dilatasi kuretase dulu untuk menghilangkan kemungkinan keganasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Obstetri Ginekologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s