Infeksi HIV AIDS pada SSP

PENDAHULUAN

Ensefalitis merupakan suatu proses peradangan/inflammasi pada jaringan otak. Ensefalitis pada infeksi HIV (Human  Immunodeficiency Virus) merupakan peradangan  pada parenkim otak akibat komplikasi dari infeksi  HIV, baik komplikasi primer oleh karena infeksi HIV itu sendiri ataupun komplikasi sekunder oleh  karena keadaan immunodefisiensi (infeksi opportunistik). AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) didefinisikan sebagai suatu sindrome atau kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik defisiensi immun yang berat, dan merupakan manifestasi stadium akhir infeksi HIV.

Pada bulan Desember 2002, WHO (World Health Organization) memperkirakan sebanyak 42 juta penduduk mengidap HIV. Pada tahun 2002 dijumpai 5 juta penduduk yang baru terinfeksi dengan HIV dan 3,1 juta penduduk yang meninggal akibat HIV. Tanpa adanya upaya pencegahan global yang lebih efektif, diperkirakan antara tahun 2002 dan 2010, 45 juta penduduk akan terinfeksi oleh HIV. Di Indonesia, kasus pertama HIV/AIDS ditemukan pada tahun 1987 di Bali. Akan tetapi penyebaran HIV di Indonesia meningkat setelah tahun 1995. Dalam Laporan Eksekutif Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang ancamanHIV/AIDS di Indonesia (2002), dinyatakan bahwa pada tahun 2002, jumlah orang yang rawan tertular HIV di Indonesia diperkirakan antara 13 juta sampai 20 juta orang. Sedangkan jumlah orang dengan HIV/AIDS diperkirakan antara 90.000-130.000 orang.  Pada seluruh dunia, aktivitas heteroseksual merupakan cara penyebaran yang paling sering. Di Indonesia, sejak tahun 1999 infeksi HIV mulai terlihat pada para pengguna Narkotik suntikan (Injection Drug User/IUD). Pada tahun 1999 hanya 18% IDU yang dirawat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, terinfeksi HIV. Tetapi pada tahun 2000 meningkat cepat menjadi 40% dan pada tahun 2001 menjadi 48%. 

  1. Definisi

      HIV merupakan suatu virus ribonucleid acid (RNA) yang termasuk retrovirus (famili lentivirus). HIV mempunyai enzim reverse transcriptase yang terdapat di dalam inti HIV dan akan mengubah informasi genetika dari RNA virus menjadi deoxy-ribonucleid acid (DNA). HIV mempunyai target sel utama yaitu sel limfosit T4, yang mempunyai reseptor CD4. Beberapa sel lain yang juga mempunyai reseptor CD4 adalah: sel monosit, sel makrofag, sel folikular dendritik, sel retina, sel leher rahim, dan sel langerhans. Infeksi limfosit CD4 oleh HIV dimediasi oleh perlekatan virus ke permukaan sel reseptor CD4, yang menyebabkan kematian sel.

          Gambar 1. Gambaran Virus Human Immunodeficiency Virus

Definisi WHO untuk AIDS di Asia Tenggara adalah pasien yang memenuhi kriteria A dan B dibawah ini :

  1. Hasil positif untuk antibodi HIV dari dua kali test yang menggunakan dua antigen yang berbeda.
  2. Salah satu dari kriteria yang dibawah ini :
  • – Berat badan menurun 10% atau lebih yang tidak diketahui sebabnya.

– Diare kronik selama 2 bulan terus menerus atau periodik.

  • Tuberkulosis milier atau menyebar
  • Kandidiasis esophagus yang dapat didiagnosis dengan adanya kandididiasis mulut yang disertai disfagia/odinofagia
  • Gangguan neurologist disertai gangguan aktivitas sehari-hari, yang tidak diketahui sebabnya.
  • Sarkoma kaposi

          Infeksi HIV akan menimbulkan penyakit yang kronik dan progresif sehingga setelah bertahun-tahun tampaknya mengancam jiwa. Pengobatan yang tersedia sekarang dapat memperpanjang masa hidup dan kualitas hidup dengan cara memperlambat penurunan sistem imun dan mencegah infeksi oportunistik. Terdapat variasi yang luas dari respon imun terhadap efek patologik HIV. Karena itu mungkin saja sebagian dari mereka tetap hidup dan sehat dalam jangka panjang sedangkan sekitar 40-50% dari mereka menjadi AIDS dalam waktu 10 tahun.

  1. Patofisiologi

HIV merupakan virus RNA retrovirus. HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual dan non seksual. Di dalam tubuh HIV akan menginfeksi sel yang mempunyai reseptor CD4 seperti sel limfosit, monosit dan makrofag dan beberapa sel tertentu walaupun tidak mempunyai reseptor CD4 misalnya sel-sel glia dan sel langerhans.

                            Gambar 2. Patogenesis HIV AIDS 

Secara umum ada dua kelas sel di mana HIV bereplikasi sel T-Limfosit dan di dalam makrofag, karena itu disebut T-tropik atau syncytium inducing isolates dan Makrofag tropik atau non-syncytium inducing isolates. Isolat M-tropik lebih sering tertular, sehingga isolate T-tropik terlihat pada 50% dari infeksi HIV stadium lanjut dan menimbulkan progresivitas penyakit yang sangat cepat. Bahkan diketahui bahwa yang menimbulkan perbedaan tropisme adalah kadar ko-reseptor yang penting yaitu CXCR4 dan CCR5. 

Sebagai akibatnya akan terjadi dua kelompok gejala utama yaitu :

  1. Akibat penekanan pada sistem kekebalan tubuh, sehingga mudah terjadi infeksi, nyeri kepala yang spesifik dan penurunan berat badan yang drastis.
  2. Disfungsi neurologik baik susunan saraf pusat maupun susunan saraf perifer.

HIV memasuki SSP pada saat kejadian infeksi primer dan dapat muncul secara tidak jelas, acute self-limited syndrome atau kelainan kronik. Hal ini disebabkan oleh HIV itu sendiri, infeksi opportunistik sekunder atau neoplasma, kelainan metabolik, riwayat medis atau gangguan nutrisi. Bagaimana HIV itu sendiri memasuki SSP masihlah tidak diketahui. Mekanisme yang memungkinkan mencakup transport intraseluler HIV memasuki SSP pada saat kejadian infeksi primer dan dapat muncul secara tidak jelas, acute self-limited syndrome atau kelainan kronik. Hal ini disebabkan oleh HIV itu sendiri, infeksi opportunistik sekunder atau neoplasma, kelainan metabolik, riwayat medis atau gangguan nutrisi. Bagaimana HIV itu sendiri memasuki SSP masihlah tidak diketahui. Mekanisme yang memungkinkan mencakup transport intraseluler melewati blood-brain barrier dalam makrofag yang terinfeksi, penempatan virus bebas pada leptomeningen, atau virus bebas setelah replikasi dalam pleksus khoroideus atau epithelium vaskular.

  1. Manifestasi klinis

Infeksi HIV primer dapat bersifat asimptomatik, atau pada 50-70% penderita muncul dalam bentuk akut,  self-limiting mononucleosis-like illness dengan demam, nyeri kepala, mialgia, malaise, lethargi, sakit tenggorokan, limfadenopati, dan bintik makulopapular. Infeksi akut ditandai dengan viremia, dijumpai angka replikasi virus yang tinggi, mudahnya isolasi virus dari limfosit darah perifer dan level serum antigen virus p24 yang tinggi. Diikuti limfositosis, khususnya limfosit CD8, dengan inversi perbandingan CD4/CD8.

Perjalanan alamiah infeksi HIV dapat dibagi dalam tahapan sebagai berikut: Infeksi virus (2-3 minggu) →sindrome retroviral akut (2-3 minggu) →gejala menghilang + serokonversi → infeksi kronis HIV asimptomatik (rata-rata 8 tahun, di negara berkembang lebih pendek) → infeksi HIV/AIDS simptomatik (rata-rata 1,3 tahun) →kematian.

Gejala dan tanda neurologi terjadi pada 30-70% kasus infeksi HIV. Kelainan neurologi yang timbul pada penderita AIDS secara umum dapat dikelompokkan menjadi: (a) Primer/ komplikasi langsung terlibat pada sistem saraf yang terinfeksi HIV yaitu apabila perubahan patologi diakibatkan langsung oleh HIV itu sendiri, dan (b) Sekunder/komplikasi tidak langsung sebagai akibat dari proses immunosupresi konkomitan berupa infeksi opportunistik dan neoplasma.

Gambar 3. Timeline sejak pertama kali eksposure hingga HIV dapat dideteksi

Kelainan neurologi dapat muncul pada setiap stadium dari infeksi pertama dan terjadinya serokonversi pada AIDS. Sebagian besar kelainan neurologi terbatas pada stadium simptomatik dari infeksi HIV (AIDS dementia complex).

Kelainan neurologi dapat muncul dalam waktu 10 minggu dari infeksi HIV. Pendapat lain menyatakan dalam waktu 6 minggu dari infeksi.Di samping pengaruh langsung kelainan neurologi pada infeksi HIV, bermacam kelainan opportunistik, baik fokal maupun non fokal, dapat muncul pada beberapa penderita. Kelainan neurologi yang timbul dari infeksi opportunistik akibat HIV bergantung pada lokalisasi neuroanatomi yang terlibat.

Infeksi HIV/AIDS pada susunan saraf pusat berupa :

  • Toksoplasmosis serebral – adanya defisit hemisfer lokal (hemiparesis, disfasia, gangguan ekstrapiramidal), serebelar (ataksia), atau deficit nervus kranialis pada pasien AIDS kemungkinan disertai dengan nyeri kepala dan kejang, dan pada CT atau MRI ditemukan ensefalitis fokal atau multifocal. Kasus seperti ini sebaiknya diberi terapi antitoksoplasma dengan pirimetamin, asam folat, dan sulfadiazine atau klindamisin. Biopsi otak dilakukan hanya pada kelompok yang tidak responsif terhadap terapi. Penegakan diagnosis toksoplasma serebri berdasarkan klinis, laboratoris (IgG dan IgM) dan radiologis (CT Scan kepala).
  • Meningitis kriptokokal – jamur Cryptococcus neoformans adalah penyebab tersering meningitis pada pasien AIDS. Manifestasi klinis berupa nyeri kepala akut atau subakut, demam, dan kadang kejang tetapi jarang ditemukan deficit neurologis fokal. Pemeriksaan cairan serebrospinal (setelah CT scan untuk menyingkirkan kemungkinan lesi masa intrakranial) menunjukkan limfositosis, biasanya dengan kadar protein tinggi dan kadar glukosa yang rendah. Kriptokokus dapat diidentifikasi dengan preparat pewarnaan tinta India, atau dengan deteksi antigen pada cairan serebrospinal atau darah. Terapinya adalah dengan kombinasi obat-obat antijamur (amfoterisin B atau flusitosin) walaupun dapat saja tidak berhasil. Meningitis kriptokokal dapat menjadi komplikasi keadaan supresi imun lainnya, misalnya pasca transplantasi organ. 

                                      Gambar 4. Gambaran MRI toksoplasmosis serebri pada pasien AIDS 

(a) T1-Weighted Axial MR image showing multiple hypointense lesions with perilesional edema. (b) T2-Weighted Axial MR image showing multiple hyperintense lesions of varying sizes with marked surrounding vasogenic edema. (c) Post contrast sagittal T1 image showing multiple lesions with enhancement in the periphery and centre. (d) Post contrast coronal image showing multiple supratentorial and infratentorial ring enhancing lesions with eccentric nodules: the “target sign”. (e) Diffusion weighted axial MR image showing multiple ring enhancing lesions of varying sizes.

  • Infeksi cytomegalovirus (CMV)

Dapat muncul bersamaan dengan infeksi lain. Gejala ensefalitis CMV termasuk lemas pada lengan dan kaki, masalah pendengaran dan keseimbangan, tingkat mental yang berubah, demensia, neuropati perifer, koma dan penyakit retina yang dapat mengakibatkan kebutaan. Infeksi CMV pada urat saraf tulang belakang dan saraf dapat mengakibatkan lemahnya tungkai bagian bawah dan beberapa paralisis, nyeri bagian bawah yang berat dan kehilangan fungsi kandung kemih. Infeksi ini juga dapat menyebabkan pneumonia dan penyakit lambung-usus.

  • Ensefalitis viral

Penegakan diagnosis ensefalitis viral berdasarkan klinis, laboratoris lumbal punksi, radiologis (CT Scan kepala) dan pemeriksaan imunologi IgG, IgM dan CMV, pada umumnya didapatkan kadar IgG dan IgM yang bermakna.

                       Tabel 1. Gambaran klinis pasien ensefalitis viral 

  • Herpes virus

Infeksi sitomegalovirus sering terjadi pada pasien AIDS dan dapat mengakibatkan ensefalitis atau keterlibatan medula spinalis. Herpes virus lainnya, misalnya herpes simpleks dan herpes zoster, dapat menyebabkan ensefalitis fokal atau difus. 4  Virus herpes zoster yang menyebabkan cacar dan sinanaga, dapat menginfeksi otak dan mengakibatkan ensepalitisdan mielitis (peradangan saraf tulang belakang). Virus ini umumnya menghasilkan ruam, yang melepuh dan sangat nyeri di kulit akibat saraf yang terinfeksi. Pada orang yang terpajan dengan herpes zoster, virus dapat tidur di jaringan saraf selama bertahun-tahun hingga muncul kembali sebagairuam. Reaktivasi ini umum pada orang yang AIDS karena sistem kekebalannya melemah. Tanda sinanaga termasuk bentol yang menyakitkan (serupa dengan cacar), gatal, kesemutan (menggelitik) dan nyeri pada saraf.

Pasien AIDS mungkin menderita berbagai bentuk neuropati, atau nyeri saraf, masing-masing sangat terkait dengan penyakit kerusakan kekebalan stadium tertentu. Neuropati perifer menggambarkan kerusakan pada saraf perifer, jaringan komunikasi yang luas yang mengantar informasi dari otak dan saraf tulang belakang ke setiap bagian tubuh. Saraf perifer juga mengirim informasi sensorik kembali ke otak dan saraf tulang belakang. HIV merusak serat saraf yang membantu melakukan sinyal dan dapat menyebabkan beberapa bentuk neuropati. Distal sensory polyneuropathy menyebabkan mati rasa atau perih yang ringan hingga sangat nyeri atau rasa kesemutan yang biasanya mulai di kaki dan telapak kaki. Sensasi ini terutama kuat pada malam hari dan dapat menjalar ke tangan. Orang yang terdampak memiliki kepekaan yang meningkat terhadap nyeri, sentuhan atau rangsangan lain. Pada awal biasanya muncul pada stadium infeksi HIV lebih lanjut dan dapat berdampak pada kebanyakan pasien stadium HIV lanjut. 5

  • Neurosifilis

Neurosifilis, akibat infeksi sifilis yang tidak diobati secara tepat, tampak lebih sering dan lebih cepat berkembang pada orang terinfeksi HIV. Neurosifilis dapat menyebabkan degenerasi secara perlahan pada sel saraf dan serat saraf yang membawa informasi sensori ke otak. Gejala yang mungkin baru muncul setelah puluhan tahun setelah infeksi awal dan berbeda antar pasien, termasuk kelemahan, refleks yang menghilang, jalan yang tidak mantap, pengembangan degenerasi sendi, hilangnya koordinasi, episode nyeri hebat dan gangguan sensasi, perubahan kepribadian, demensia, tuli, kerusakan penglihatan dan kerusakan tanggapan terhadap cahaya. Penyakit ini lebih sering pada laki-laki dibandingkan perempuan. Penyakit ini umum biasa mulai pada usia setengah baya.

  • Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML)

                  Terutama berdampak pada orang dengan penekanan sistem kekebalan (termasuk hampir 5% pasien AIDS). PML disebabkan oleh virus JC, yang bergerak menuju otak, menulari berbagai tempat dan merusak sel yang membuat mielin – lemak pelindung yang menutupi banyak sel saraf dan otak. Gejala termasuk berbagaitipe penurunan kejiwaan, kehilangan penglihatan, gangguan berbicara, ataksia (ketidakmampuan untuk mengatur gerakan), kelumpuhan, lesi otak dan terakhir koma. Beberapa pasien mungkin mengalami gangguan ingatan dan kognitif, dan mungkin muncul kejang. PML berkembang terus-menerus dan kematian biasanya terjadi dalam enam bulan setelah gejala awal.

  • Kelainan psikologis dan neuropsikiatri dapat muncul dalam fase infeksi HIV dan AIDS yang berbeda, dan dapat berupa bentuk yang beragam dan rumit. Beberapa penyakit misalnya demensia kompleks terkait AIDS yang secara langsung disebabkan oleh infeksi HIV pada otak, sementara kondisi lain mungkin dipicu oleh obat yang dipakai untuk melawan infeksi. Pasien mungkin mengalami kegelisahan, depresi, keingingan bunuh diri yangkuat, paranoid, demensia, delirium, kerusakan kognitif, kebingungan, halusinasi, perilaku yang tidak normal, malaise, dan mania akut.
  • Stroke yang disebabkan oleh penyakit pembuluh darah otak jarang dianggap sebagai komplikasi AIDS, walaupun hubungan antara AIDS dan stroke mungkin jauh lebih besar dari dugaan. Para peneliti di Universitas Maryland, AS melakukan penelitian pertama berbasis populasi untuk menghitung risiko stroke terkait AIDS dan menemukan bahwa AIDS meningkatkan kemungkinan menderita stroke hampir sepuluh kali lipat. Para peneliti mengingatkan bahwa penelitian tambahan diperlukan untuk mengkonfirmasi hubungan ini. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa infeksi HIV, infeksi lain atau reaksi sistem kekebalan terhadap HIV, dapat menyebabkan kelainan pembuluh darah dan/atau membuat pembuluh darah kurang menanggapi perubahan dalam tekanan darah yang dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah dan stroke.
  • Leukoensefalopati multifokal progresif

Disebabkan oleh infeksi oportunistik papovavirus yang mengakibatkan lesi multipel pada substansia alba hemisfer serebsri, batang otak dan serebelum sehingga menunjukkan demensia progresif dan defisit fokal, misalnya hemiparesis dan disfasia. Biasanya dalam beberapa bulan terjadi kematian. Penyakit ini juga dapat terjadi pada keadaan defisiensi imun lainnya, misalnya keganasan hematologis, tuberkulosis dan sarkoidosis.

  • Limfoma serebral

Dapat terjadi dengan penyakit fokal atau multifokal hemisfer serebri dan fosa posterior, baik secara klinis dan pada CT scan  atau MRI. Diagnosis dapat ditegakkan dengan biopsi otak pada kelompok yang tidak berespons dengan terapi antitoksoplasma.  Limfoma serebral adalah tumor ganas yang mulai di otak atau akibat kanker yang menyebar dari bagian tubuh lain. Limfoma SSP hampirselalu dikaitkan dengan virus Epstein-Barr (jenis virus herpes yang umum pada manusia). Gejala termasuk sakit kepala, kejang, masalah penglihatan, pusing, gangguan bicara, paralisis dan penurunan mental. Pasien AIDS dapat mengembangkan satu atau lebih limfoma SSP. Prognosis adalah kurang baik karena kekebalan yang semakin rusak.

  • HIV associated dementia

Ensefalopati terkait HIV, muncul terutama pada orang dengan infeksi HIV lebih lanjut. Gejala termasuk ensefalitis (peradangan otak), perubahan perilaku, dan penurunan fungsi kognitif secara bertahap, termasuk kesulitan berkonsentrasi, ingatan dan perhatian. Orang dengan ADC (AIDS dementia complex) juga menunjukkan pengembangan fungsi motor yang melambat dan kehilangan ketangkasan serta koordinasi. Apabila tidak diobati, ADC dapat mematikan. 

Semua komplikasi ini jarang terjadi di negara maju karena ditemukannya terapi antiretroviral yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, HARRT).

Retrovirus selain HIV juga bersifat neurotropik. Sehingga virus HTLV-1, dengan prevalensi tinggi di beberapa area, misalnya di kepulauan Karibia, menyebabkan paraparesis spastik tropis (mielopati yang berhubungan dengan HTLV-1/HTLV1-associated myelopathy, HAM). 

  1. Kriteria Diagnosis
  • Fase I – Infeksi HIV primer (Infeksi HIV akut)
  • Fase II – Penurunan imunitas dini (sel CD4 > 500/ul)
  • Fase III – Penurunaan imunitas sedang (sel CD4 500 – 200/ul)
  • Fase IV – Penurunan imunitas berat (sel CD4 < 200/ul)

Kriteria diagnosis presumtif untuk indikator AIDS :

  1. Kandidiasis Esofagus : nyeri retrosternal saat menelan dan bercak putih di lidah dasar kemerahan.
  2. Retinitis virus sitomegalo
  3. Mikobakteriosis
  4. Sarkoma Kaposi : bercak merah atau ungu pada kulit atau selaput mukosa.
  5. Pneumonia Pnemosistis karini : Riwayat sesak napas / batuk nonproduktif dalam beberapa bulan terakhir
  6. Toksoplasmosis otak

Pemeriksaan penunjang :

  • Enzymlinked immunosorbent assay (ELISA) dan aglutinasi partikel.

ELISA memiliki sensitifitas dan spesifisitas lebih dari 98%. Hasil positif harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan Western Blot (WB).

 Gambar 5. Peralatan ELISA rapid test

  • Western Blot Analysis, indirect immunofluorescence assays (IFA) dan radio nonprecpitation assays (RIPA)
  • Biakan darah, urin, dan sifilis
  • Antigen/antibodi HIV

Pemeriksaan antigen (Ag) HIV (dengan cara pembiakan virus, antigen p24 dan  Polymerase Chain Reaction (PCR)). Pemeriksaan antigen p24 bermanfaat dalam deteksi dini infeksi HIV, monitoring aktivitas penyakit dan respons terapi.

PCR merupakan metode yang sangat sensitif. Memiliki sensitivitas 97-100%. Manfaatnya adalah: deteksi infeksi awal dan laten (antibodi tidak terdeteksi), deteksi infeksi pada bayi atau anak yang membawa antibodi IgG dari ibu dan konfirmasi EIA (+) dan WB indeterminate.

  • Lymphosit cell CD4 dan CD8
  • Viral Load

                                                    Gambar 6. Gambaran viral load tanpa pengobatan 

  • Serologi sifilis, antigen kriptokokus
  • Lumbal Pungsi

Pemeriksaan lumbal pungsi lebih berguna pada kasus infeksi sifilis dan fungal atau tuberkulosa. Virus jarang dikultur dari cairan lumbal. Amplifikasi PCR pada lumbal pungsi dapat berguna dalam  diagnosa infeksi CMV, toxoplasmosis atau PML.1

  • Pemeriksaan tinta India cairan cerebrospinal
  • Brain CT scan, MRI

Pemeriksaan computed tomography (CT) atau magnetic resonance imaging (MRI) berguna dalam membedakan lesi fokal dari lesi otak diffus. Imaging memainkan peranan yang penting dalam mendiagnosa PML (Progressive multifocal leukoencephalo-pathy). Biopsi otak dapat diperlukan untuk diagnosis.

  • Electromyography (EMG)
  • Electroencephalography (EEG)

Pemeriksaan electroencephalography (EEG) dapat menunjukkan adanya lesi fokal bila scans bersifat nondiagnostik.

  • Memory test
  • Roengent thorax
  • Mikroskopis dan biakan dahak
  1. Diagnosis banding
  • Massa intrakranial
  • TBC

Sesuai dengan kepustakaan yang menulis bahwa di Amerika Serikat, meningitis tuberkulosis ditemukan pada 32% kasus meningitis. Di Indonesia hampir 50% kasus dalam stadium AIDS menderita tuberkulosis paru, karena itu meningitis tuberkulosis selalu ada dalam diferensial diagnosis pasien AIDS. 

  • Polineuropati karena penyebab lain
  • Demensia karena penyebab lain

Komplikasi

Infeksi HIV (Human immunodeficiency virus) dapat menyebabkan komplikasi neurologis karena dua sebab. Pertama, virus ini memiliki afinitas terhadap jaringan saraf yaitu bersifat neurotropik selain limfotropik. Dapat terjadi meningitis pada serokonversi. Pada tingkat lanjut, dapat terjadi demensia progresif lambat dan keterlibatan bagian lain sistem saraf terutama medulla spinalis dan saraf perifer. Sebab kedua komplikasi neurologis adalah risiko infeksi oportunistik dan neoplasma yang tidak biasa yang melibatkan sistem saraf pada pasien AIDS full-blown.

Komplikasi kelainan neurologi pada pasien HIV lebih dari 40%, tetapi bila berdasarkan hasil otopsi didapatkan prevalensi abnormal neuropatologis sebesar 80%, dengan angka kematian yang sangat tinggi.

  1. Terapi

               Penatalaksanaan HIV/AIDS terdiri dari pengobatan, perawatan/rehabilitasi dan edukasi. Pengobatan pada pengidap HIV/penderita AIDS ditujukan terhadap: virus HIV (obat antiretroviral), infeksi opportunistik, kanker sekunder, status kekebalan tubuh, simptomatis dan suportif.

Obat-obat antiretroviral dapat memperbaiki morbiditas pada HIV dan dapat memperpanjang survival. Sesuai perkembangan pada terapi HIV terdapat tiga kelas obat antiretroviral yang telah diakui penggunaannya yaitu: nucleoside reverse transcriptase inhibitors(NRTIs), nonnucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs), dan protease inhibitors (PIs). Agar tercapainya penggunaan obat secara potensial maka digunakan paling sedikit tiga jenis obat dari paling sedikit dua kelas obat antiretroviral. Secara khusus meliputi dua obat NRTIs dan lainnya satu NNRTIs atau PIs.

 Pengobatan untuk infeksi opportunistik dan kanker sekunder bergantung pada penyakit infeksi atau kanker apa yang ditimbulkan. Pengobatan status kekebalan tubuh dengan menggunakan  immune restoring agents, diharapkan  dapat memperbaiki fungsi sel limfosit, dan menambah jumlah limfosit. Perjalanan alamiah penyakit AIDS belum diketahui dengan pasti. Diperkirakan bahwa infeksi HIV yang berulang dan pemajanan terhadap infeksi-infeksi lain mengakibatkan progresifitas penyakit. Median survival pasein AIDS adalah 1-2 tahun untuk negara maju dan kurang dari 1 tahun untuk negara yang sedang berkembang.

Paduan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk lini pertama adalah (Pedoman Nasional 2011)

Mulailah terapi antiretroviral dengan salah satu dari paduan di bawah ini:

Tabel 2. Paduan Lini Pertama yang direkomendasikan pada orang dewasa yang belum pernah mendapat terapi ARV (treatment-naïve)

Kegagalan terapi menurut kriteria WHO :

  1. Kegagalan klinis:

Munculnya IO dari kelompok stadium 4 setelah minimal 6 bulan dalam terapi ARV. Beberapa penyakit yang termasuk dalam stadium klinis 3 (TB paru, infeksi bakteri berat) dapat merupakan petunjuk kegagalan terapi.

  1. Kegagalan Imunologis

Definisi dari kegagalan imunologis adalah gagal mencapai dan mempertahankan jumlah CD4 yang adekuat, walaupun telah terjadi penurunan/ penekanan jumlah virus.

                                         Gambar. Pola kegagalan imunologis terapi ARV

Pola 1 : CD4 < 100 / mm³

Pola 2 : Setelah satu tahun terapi CD4 kembali atau lebih rendah daripada awal terapi ARV

Pola 3 : CD4 sebesar 50% dari nilai tertinggi yang pernah dicapai selama terapi terapi ARV (bila diketahui)

Jumlah CD4 juga dapat digunakan untuk menentukan apakah perlu mengubah terapi atau tidak. Sebagai contoh, munculnya penyakit baru yang termasuk dalam stadium 3, dimana dipertimbangkan untuk mengubah terapi, maka bila jumlah CD4 >200 /mm³ tidak dianjurkan untuk mengubah terapi.

  1. Kegagalan Virologis:

Disebut gagal virologis jika:

viral load tetap > 5.000 copies/ml (lihat gambar.4), atau

viral load menjadi terdeteksi lagi setelah sebelumnya tidak terdeteksi.

Kriteria klinis untuk gagal terapi yang timbul dalam 6 bulan pertama pengobatan tidak dapat dijadikan dasar untuk mengatakan gagal terapi. Perlu dilihat kemungkinan penyebab lain timbulnya keadaan klinis tersebut, misal IRIS. 

Kriteria virologi dimasukkan dalam menentukan kegagalan terapi di buku ini, untuk mengantisipasi suatu saat akan tersedia sarana pemeriksaan viral load yang terjangkau. Viral load masih merupakan indikator yang paling sensitif dalam menentukan adanya kegagalan terapi. Kadar viral load yang optimal sebagai batasan untuk mengubah paduan ARV belum dapat ditentukan dengan pasti. Namun > 5.000 copies/ml diketahui berhubungan dengan progresi klinis yang nyata atau turunnya jumlah CD4. 

KESIMPULAN

HIV merupakan suatu virus ribonucleid acid (RNA) yang termasuk retrovirus (famili lentivirus). HIV mempunyai enzim reverse transcriptase yang terdapat di dalam inti HIV dan akan mengubah informasi genetika dari RNA virus menjadi deoxy-ribonucleid acid (DNA).

Bagaimana HIV itu sendiri memasuki SSP masihlah tidak diketahui. Mekanisme yang memungkinkan mencakup transport intraseluler melewati blood-brain barrier dalam makrofag yang terinfeksi, penempatan virus bebas pada leptomeningen, atau virus bebas setelah replikasi dalam pleksus khoroideus atau epithelium vaskular.

Infeksi HIV primer dapat bersifat asimptomatik, atau pada 50-70% penderita muncul dalam bentuk akut,  self-limiting mononucleosis-like illness dengan demam, nyeri kepala, mialgia, malaise, lethargi, sakit tenggorokan, limfadenopati, dan bintik makulopapular.

Diagnosa banding dari infeksi opportunistic dan neoplasma pada SSP yang berhubungan dengan infeksi HIV diantaranya yaitu: Ensefalitis Cytomegalovirus, Meningitis (Cryptococcus dan Tuberkulosa), Toxoplasmosis, Progressive multifocal leukoencephalo-pathy (PML), Limfoma SSP, AIDS Dementia Complex (ADC) (HIV Dementia).

Penatalaksanaan HIV/AIDS terdiri dari pengobatan, perawatan/rehabilitasi dan edukasi. Pengobatan pada pengidap HIV/penderita AIDS ditujukan terhadap: virus HIV (obat antiretroviral), infeksi opportunistik, kanker sekunder, status kekebalan tubuh, simptomatis dan suportif.

Leave a comment

Filed under Ilmu saraf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s