Endoftalmitis

PENDAHULUAN

Endoftalmitis merupakan penyakit yang memerlukan perhatian pada tahun terakhir ini karena dapat memberikan penyulit yang gawat akibat suatu trauma tembus atau akibat pembedahan mata intra-okular.

Endoftalmitis adalah salah satu diagnosis yang paling dahsyat dalam oftalmologi. Merupakan gangguan inflamasi intraokular serius yang mempengaruhi rongga vitreous yang berasal dari penyebaran eksogen atau endogen  organisme penginfeksi ke dalam mata

Dengan adanya hubungan dengan bulbus mata, ada potensi untuk memperkenalkan inokulum infeksi yang cukup besar untuk menyebabkan infeksi intraokuler. Hal ini paling sering terlihat setelah operasi intraokular, tetapi juga dapat terjadi sebagai komplikasi dari trauma tembus mata atau infeksi dari jaringan periokular berdekatan. 

Endophthalmitis endogen kurang umum terjadi karena terjadi penyebaran sekunder secara hematogen  dan menyebar dari sumber infeksi yang jauh  dari dalam tubuh. Pada pasien dengan endophthalmitis endogen, predisposisi faktor risiko biasanya ada. Dalam kebanyakan kasus, tidak bergantung pada etiologinya, gambaran endophthalmitis terdiri dari penglihatan kabur atau kurang, mata merah, nyeri, dan kelopak mata bengkak.

Vitritis progresif adalah salah satu bentuk temuan dalam endophthalmitis, dan hampir 75% dari pasien dapat mengalami hypopyon. Perkembangan penyakit dapat menyebabkan panophthalmitis, infiltrasi kornea, dan perforasi,  mempengaruhi stuctur orbital dan ptisis bulbi.

Secara umum, kejadian endophthalmitis telah menurun pada dekade terakhir ini. Meskipun demikian, tingkat keparahan dan prognosis memerlukan pengobatan yang tepat dan waktu efektif untuk memberikan hasil visual yang memuaskan.

 

Vitreous Humour

Anatomi dan Fisiologi Vitreous Humour

Vitreous humour atau badan kaca menempati daerah belakang lensa. Struktur ini merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 90%) sehingga tidak dapat lagi menyerap air. Juga terdiri  sedikit kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan vitreous mengandung sangat sedikit sel yang menyintesis kolagen dan asam hialuronat. Sesungguhnya fungsi badan kaca sama dengan fungsi cairan mata, yaitu mempertahankan bola mata agar tetap bulat. Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina. Badan kaca melekat pada bagian tertentu jaringan bola mata. Perlekatan itu terdapat pada bagian yang disebut ora serata, pars plana dan papil saraf optik. Kebeningan badan kaca disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhan badan kaca akan memudahkan melihat bagian retina pada pemeriksaan oftalmoskopi.

1

Gambar 1 anatomi penampang sagital bola mata

 

  ENDOFTALMITIS

  1. Definisi

Endoftalmitis merupakan radang purulen pada seluruh jaringan intraokuler, disertai dengan terbentuknya abses di dalam badan kaca. Bila terjadi peradangan lanjut yang mengenai ketiga dinding bola mata, maka keadaan ini disebut panoftalmitis.

Ada 2 jenis endophthalmitis yaitu endogen (yaitu, metastasis) dan eksogen. Endophthalmitis endogen hasil dari penyebaran hematogen organisme jauh dari sumber infeksi (misalnya, endokarditis). Endophthalmitis eksogen hasil dari inokulasi langsung sebagai komplikasi operasi mata, benda asing, dan / atau trauma tumpul atau penetrasi okular.

                                           2

                                                              Tabel 1. Pembagian Endoftalmitis 

  1. Etiologi

Penyebab peradangan ini adalah :

  • Endogen akibat sepsis, selulitis orbita, dan penyakit sistemik lainnya
  • Eksogen, yang sering terjadi akibat trauma tembus, tukak perforasi, dan penyulit infeksi pada pembedahan.

Kuman penyebab biasanya disebabkan oleh Staphylococcus albus, Staphylococcus aureus, proteus dan pseudomonas dengan masa inkubasi 24-72 jam. Bila endoftalmitis terjadi dalam 2 minggu setelah trauma, maka keadaan ini mungkin disebabkan karena infeksi bakteri, sedangkan bila gejala terlambat mungkin infeksi disebabkan oleh jamur

                                           3

                                     Tabel 2. Macam macam organism penyebab Endoftalmitis 

  1. Manifestasi klinis

       Gejala

  • Severe ocular pain
  • Mata merah
  • Lakrimasi
  • Penurunan visus
  • Fotofobia

       Tanda 

  • Kelopak mata bengkak dan eritema
  • Konjungtiva tampak chemosis
  • Kornea edema, keruh, tampak infiltrate
  • Hypopion (lapisan sel-sel inflamasi dan eksudat di ruang anterior)
  • Iris odem dan keruh
  • Pupil tampak yellow reflek
  • Eksudat pada vitreus
  • TIO meningkat atau menurun

               4

 Gambar 2. Peradangan ruang anterior, edema kornea ringan dan hipopion pada endoftalmitis bakteri

Jenis Jenis Endoftalmitis

Endoftalmitis Akut Pasca Bedah Katarak

Merupakan bentuk yang paling sering dari endoftalmitis, dan hampir selalu disebabkan oleh infeksi bakteri. Tanda-tanda infeksi dapat muncul dalam waktu satu sampai dengan enam minggu dari operasi. Namun, dalam 75-80% kasus muncul di minggu pertama pasca operasi. Sekitar 56-90% dari bakteri yang menyebabkan endoftalmitis akut adalah gram positif, dimana yang paling sering adalah Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Bakteri Gram negative 7-29% dari kasus endophthalmitis, dan Proteus aeruginoza dan Haemophilus telah dilaporkan sebagai bakteri yang paling sering.

Pada pasien dengan endoftalmitis akut pasca operasi biasa ditemui Injeksi silier, hilangnya reflek fundus, hipopion, pembengkakan kelopak mata, fotofobia, penurunan visus dan kekeruhan vitreus. 

Menurut data,  endophthalmitis akut setelah operasi katarak menggunakan metode modern operasi phaco sangatlah  bervariasi, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, meskipun menerapkan langkah-langkah modern, sudah mencapai 0,1%. Mayoritas penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam frekuensi endophthalmitis pada pasien ekstraksi katarak ekstrakapsular dan operasi fakoemulsifikasi. 

Karakteristik klinis dari endophthalmitis akut setelah operasi katarak diwujudkan dengan munculnya rasa sakit dan penurunan tak terduga dalam ketajaman visual, diikuti oleh pembengkakan kelopak mata dari berbagai tingkat serta tanda-tanda ditandai dari hyperemia silia dan fotofobia.

Munculnya infiltrat dan presipitat  kornea, bersama dengan tanda-tanda  eksudat fibrin dan hipopion, juga merupakan tanda-tanda karakteristik  endophthalmitis. Sakit mata dan hypopyon terjadi pada 75% kasus. Eksudat fibrin terutama terlihat di iris, dan biasanya berhubungan dengan munculnya sinekia posterior. 

Tanda-tanda klinis sering adalah hilangnya aferen pupil refleks, kekeruhan dalam vitreous (vitritis) dari berbagai derajat, yang biasanya menyebabkan hilangnya refleks merah. Dalam kasus berat, dapat terjadi retinitis, periphlebitis, edema retina, serta edema inflamasi papilla saraf optik pada fundus.

Tanda-tanda ditandai peradangan dapat ditemui pada kornea, ruang anterior, lensa dan badan vitreous, dalam situasi dimana retina biasanya sulit dijangkau untuk pemeriksaan. Peradangan yang mempengaruhi struktur trabeculum dan badan siliar dapat menyebabkan glaukoma sekunder, atau sebaliknya, dan menyebabkan hipotoni mata. 

Masalah yang paling serius muncul adalah  kerusakan retina neurosensorik dan epitel pigmen retina, yang dapat menyebabkan kerusakan permanen dari proses fotokimia dasar dalam pembentukan penglihatan.

Dibandingkan  retina yang kaya vascularisasi, badan vitreous dan ruang anterior yang avaskular dan terpisah dari sirkulasi sistemik, keberadaannya menimbulkan hambatan tidak hanya untuk mediator seluler dan humoral terhadap peradangan tetapi juga hambatan pemberian antimikroba dan anti-inflamasi secara sistemik. Masalah lain adalah sensitivitas sel fotoreseptor retina bila diterapkan pemberian obat langsung ke dalam badan vitreous. Sel-sel ini sangat sensitif tidak hanya dengan bakteri  yang menyebabkan peradangan tetapi juga dengan antibiotik dosis tinggi diberikan secara lokal untuk pengobatan infeksi.

Saat ini, aplikasi antibiotik intravitreal dianggap menjadi pilihan terapi yang paling penting dalam pengobatan endophthalmitis. Oleh karena itu, sangat penting untuk menentukan konsentrasi antibiotik yang menghasilkan efek terapi yang sesuai, tanpa efek toksik pada fotoreseptor retina. Tiga antibiotik yang paling banyak digunakan untuk pemberian intravitreal adalah Vancomicin (9.1 mg), Amikacin (0,4 mg) dan Ceftazidim (2,2 mg).  Baru-baru ini, banyak penulis lebih menyukai Ceftazidim dibandingkan Amikacin, karena Aminoglikosida memiliki efek toksik. Dalam prakteknya, biasanya dua antibiotik diterapkan dalam kombinasi antara Vancomicin dan Amikacin, atau Vancomycin dan Ceftazidim. 

Dengan cara itu, antibiotik seperti Amikacin dan Ceftazidim, bertindak melawan bakteri gram positif dan gram negatif, sedangkan penerapan Vancomycin memberikan efek pada kokus coagulase positif dan koagulase-negatif. Penerapan terapi antibiotik topikal sangatlah bermakna, terutama adanya mekanisme perubahan blood-ocular barrier selama inflamasi.

Dalam prakteknya, gentamisin dan vankomisin mata tetes sering diberikan, setiap 30-60 menit, dan dalam beberapa tahun terakhir telah banyak diberikan fluoroquinolon generasi ketiga dan keempat. Dalam kasus dugaan atau terbukti infeksi jamur,  Amfotericin B atau Fluconazol harus diberikan dalam terapi.

Karena  pemberian yang signifikan dari fluoroquinolon dalam beberapa tahun terakhir, namun masih dilakukan intravitreal karena efek toksik fluoroquinolon. Reaksi inflamasi okular karena adanya bakteri gram positif dimulai dengan pertumbuhan dan kehadiran produk metabolisme bakteri. Injeksi lipopolisakarida intravitreal menginduksi infiltrasi sel inflamasi dan memindahkan protein ke dalam ruang chamber. Antibiotik yang mengubah permeabilitas dinding sel atau komponennya dapat menyebabkan peningkatan peradangan intraokular selama pengobatan endophthalmitis. Meskipun aplikasi intravitereal antibiotik memberikanpemulihan yang baik pada sebagian besar kasus, namun pada kasus besar tindakan vitrectomy cukup sangat diperlukan.

Tindakan bedah, penghisapan badan kaca dan penggantiannya dengan cairan yang seimbang, dapat mengurangi bakteri, sel-sel inflamasi dan zat zat beracun dari struktur mata dalam.

Juga, selama operasi, mungkin untuk dilakukan pembasmian dengan infus antibiotic  untuk memberikan penglihatan yang lebih baik dari retina serta pemulihan nya yang cepat.

5

                                                    Gambar 3 Endoftalmitis Akut Pasca Bedah Katarak

Endoftalmitis Pseudofaki Kronik

Endoftalmitis pseudofaki kronik biasanya berkembang empat minggu hingga enam minggu. Biasanya, keluhan pasien ringan dengan tanda-tanda mata merah, penurunan ketajaman visus dan adanya fotofobia. Sedangkan tanda-tanda yang dapat ditemui yaitu adanya eksudat serosa dan fibrinous dari berbagai derajat dapat diamati, dihubungkan dengan adanya hipopion dan tanda-tanda moderat dari kekeruhan dan opacity dalam badan kaca. 

Salah satu yang khas dari endoftalmitis pseudofaki kronik adalah adanya plak kapsul putih dan secara proporsional tingkat kekeruhan badan vitreous yang lebih rendah dibandingkan dengan endophthalmitis akut. Hal ini dianggap bahwa penyebab endoftalmitis pseudofaki kronik adalah adanya beberapa bakteri yang memiliki virulensi rendah, dengan tanda-tanda inflammation yang berjalan lambat. Frekuensi paling sering yang menjadi penyebab dari chronic endophthalmitis adalah Propionibacterium acnes dan Corynebacterium species.

Seperti dalam kasus endophthalmitis akut, perlu untuk menetapkan diagnosis yang benar berdasarkan pemeriksaan klinis dan USG, karena ada banyak kondisi dengan karakteristik yang sama.  Dianjurkan untuk melakukan pungsi dari badan anterior dan sampling cairan badan vitreus untuk analisis mikrobiologi. Dalam kasus vitritis perlu untuk melakukan pungsi dari badan vitreous untuk menentukan diagnosis yang lebih tepat. Jika terapi tidak efektif, sangat penting untuk eksisi implan lensa intraocular dan mengirimkan  ke  analisis bakteriologi. Dalam terapi endophthalmitis kronis, pemberian eritromisin dianjurkan.

Klaritromisin 250 mg per hari dalam jangka waktu dua minggu sangatlah efektif,  ditandai dengan penetrasi yang baik ke dalam badan vitreous dan bertindak terhadap bakteri gram positif dan Haemophilus. Jika respon anti-inflamasi yang baik tidak diperoleh, menghilangkan lensa intraokular direkomendasikan sama baiknya dengan vitrectomy dikombinasikan dengan  capsulotomy posterior. Sebelum membuat keputusan ini, pemberian vankomisin dan cefalozin intravitreal mungkin diperlukan dalam durasi satu minggu. 

                                                      5

                                                   Gambar 4.  Endoftalmitis Pseudofaki Kronik 

Endoftalmitis Pasca Operasi Filtrasi Antiglaukoma

Dari semua kasus endoftalmitis pasca operasi, komplikasi ini terjadi pasca operasi yang terjadi sebanyak 10 % dari kasus. Dari total jumlah kasus dengan operasi filtrasi antiglaukoma, endoftalmitis terjadi dalam persentase yang sama seperti pada katarak (0,1%). Trabeculectomy dan trepanotrabeculectomy, sebagai metode yang tersering, membentuk  filtrasi fistula yang mengarahkan cairan ke ruang bawah konjungtiva. Akumulasi cairan ini memungkinkan menjadi tempat peradangan yang dapat disebabkan oleh inokulasi bakteri selama operasi, atau bisa terjadi selama periode pasca operasi. 

Tanda-tanda endoftalmitis muncul empat minggu setelah operasi pada 19% pasien, atau bahkan kemudian dalam sebagian besar kasus. Infeksi juga dapat terjadi satu tahun berikutnya setelah operasi. Manfestasi klinis yang terjadi sangat mirip dengan salah satu endoftalmitis akut dengan tanda-tanda kumpulan pus di tempat  akumulasi cairan dan kerusakan nekrotik dari sclera sebagai konsekuensi dari efek toksik. Bakteri penyebab paling umum adalah jenis Streptococcus dan Staphylococcus aureus, disamping itu Haemophilus influenza juga menjadi salah satu penyebabnya .

Endoftalmitis Pasca Trauma

Setelah terjadinya cedera mata, endoftalmitis terjadi dalam persentase tinggi (20%), terutama jika cedera ini terkait dengan adanya benda asing intraokular. Dengan temuan klinis berupa luka perforasi, infeksi berkembang sangat cepat. Tanda-tanda infeksi biasanya berkembang segera setelah cedera, tapi biasanya diikuti oleh reaksi post-traumatic jaringan mata yang rusak.

Informasi yang sangat penting dalam anamnesis adalah apakah pasien berasal dari lingkungan pedesaan atau perkotaan, cedera di lingkungan pedesaan lebih sering diikuti oleh endoftalmitis (30%) dibandingkan dengan pasien dari lingkungan perkotaan. (11%). Secara klinis, Endoftalmitis pasca-trauma ditandai dengan rasa sakit, hiperemi ciliary, gambaran hipopion dan kekeruhan pada vitreous body. Dalam kasus endoftalmitis pasca-trauma, agen causative paling umum adalah bakteri dari kelompok Bacillus dan Staphylococcus.

Dalam Endoftalmitis post-traumatik, khususnya dengan masuknya benda asing, sangat  penting untuk dilakukan vitrekomi sesegera mungkin, dengan membuang benda asing intraokular dan aplikasi terapi antibiotik yang tepat (Mistlberger A, et al., 1997; Sherwood, et al., 1989). 

Mirip dengan endophthalmitis pasca operasi, 2/3 dari bakteri merupakan kelompok bakteri gram positif, sedangkan 1-15% termasuk dalam kelompok bakteri gram negatif.

Bertentangan dengan kasus endophthalmitis pasca operasi, spesies bakteri Bacilus virulen adalah penyebab paling umum endophthalmitis pasca-trauma (20%). Pada daerah pedesaan, bakteri ini menyebabkan endophthalmitis pasca-trauma sebesar 42%. Endophthalmitis ini ditandai dengan tanda-tanda yang kuat dari peradangan dan hilangnya penglihatan.

Selain trauma mata, endophthalmitis juga dapat dikaitkan dengan infeksi jamur pada 10-15% kasus. Kasus endophthalmitis jamur biasanya berkembang satu minggu sampai satu bulan setelah mengalami cedera, dan dapat dikaitkan dengan infeksi bakteri juga.

Dalam endophthalmitis pasca-trauma, terutama akibat benda asing, adalah penting untuk melakukan vitrectomy sesegera mungkin, dengan menghilangkan benda asing intraokular dan penerapan terapi antibiotik yang tepat.

Jika benda asing intraokular tidak ada, terapi sama dengan endophthalmitis pascaoperasi akut, tetapi dengan prognosis jauh lebih buruk. Ketajaman visual 0,2 atau lebih dapat dicapai dalam 26-54% kasus endophthalmitis pasca trauma, sedangkan dalam kasus endophthalmitis pasca operasi persentase ini terasa lebih tinggi (85%).

Endoftalmitis Endogen

Pada bentuk endoftalmitis ini tidak ada riwayat operasi mata ataupun trauma mata. Biasanya ada beberapa penyakit sistemik yang mempengaruhi, baik melalui penurunan mekanisme pertahanan host atau adanya fokus sebagai tempat potensial terjadinya infeksi. Dalam kelompok ini penyebab tersering adalah; adanya septicaemia, pasien dengan imunitas lemah, penggunaan catethers dan Kanula intravena kronis. Agen bakteri yang biasanya menyebabkan endoftalmitis endogen adalah Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan spesies Streptococcus. Namun, agen yang paling sering menyebabkan Endoftalmitis endogen adalah jamur (62%), gram positive bakteri (33%), dan gram negatif bakteri dalam 5% dari kasus (Sherwood, et al., 1989; (Lunstrom M, 2007).

                                                    Gambar 5  Endoftalmitis Endogen

 Fungal Endoftalmitis

Fungal endoftalmitis dapat berkembang melalui mekanisme endogen setelah beberapa trauma atau prosedur bedah dengan inokulasi langsung ke ruang anterior atau vitreous body, atau transmisi secara hematogen dalam bentuk candidemia. Tidak seperti fungal chorioretinitis  yang disebabkan oleh kandidiasis, yang disertai dengan tanda peradangan minimal pada vitreous body, fungal endoftalmitis merupakan penyakit serius dengan karakteristik tanda-tanda endoftalmitis akut. 

Meskipun topik utama dari artikel ini adalah endophthalmitis bakteri, jamur endophthalmitis dapat diamati sebagai penyakit terpisah yang, ketika bergabung dengan infeksi bakteri, dapat menjadi sangat penting untuk diagnosis dan prosedur terapi.

                                                                 Gambar 6. Fungal Endoftalmitis

Terapi untuk endophthalmitis jamur meliputi terapi antijamur sistemik serta penerapan suntikan intravitreal amfoterisin B. Kemajuan terapi terbaru menggunakan obat antimycotic, termasuk triazole generasi kedua triazole agen vorikonazol dan caspofungin echinocandin, mungkin menawarkan pilihan pengobatan baru untuk mengelola endophthalmitis jamur, tetapi obat ini perlu evaluasi lanjut.

  1. Diagnosis

Laboratorium

  • Endoftalmitis eksogen: sampel vitreous (vitreous tap) diambil untuk diteliti mikroorganisme penyebab dari endoftalmitis.
  • Endoftalmitis endogen: darah lengkap dan kimia darah mengetahui sumber infeksi

Studi Imaging

  • B-scan (USG): tentukanapakahadaketerlibatan  peradangan vitreous. Hal inijugapentinguntukmengetahui dariablasi retinadanChoroidal, yang nantinyapentingdalam pengelolaan dan
  • Chest x-ray – Mengevaluasi untuk sumber infeksi
  • USG Jantung – Mengevaluasi untuk endokarditis sebagai sumber infeksi

Prosedur Diagnosa (evaluasi ophtalmologi)

  • Periksa visus
  • Slit lamp
  • Tekanan intraokular
  • Melebar funduscopy
  • Ultrasonografi

Diagnosis banding

6.1 Retensi fragmen lensa 

Retensi korteks lensa atau nukleus dapat menyebabkan peradangan intraokular yang signifikan dalam keadaan akut atau kronis. Hasil operasi dari ahli bedah katarak dan hasil visualisasi fragmen dapat membantu dalam membedakan kondisi ini dari endophthalmitis.

6.2 TASS, toxic anterior segment syndrome 

Kondisi ini disebabkan peradangan, ditandai karena zat non infeksi yang masuk ke dalam mata, seperti toksin bakteri, pengawet, senyawa pembersih atau solusi intraokular. Kondisi ini kadang-kadang dapat dibedakan dari endophthalmitis oleh onset yang cepat (dalam 12-24 jam setelah operasi atau injeksi intravitreal), kurangnya rasa sakit atau kemerahan, edema kornea difus dan kurangnya organisme terisolasi dengan pewarnaan atau kultur.

Pencegahan

7.1 Faktor Risiko

Risiko endophthalmitis pascaoperasi akut dikaitkan dengan sejumlah faktor seperti adanya penyakit pada kelopak mata atau konjungtiva, kondisi umum pasien seperti diabetes, penyakit kulit, penggunaan obat imunosupresif, operasi intraokular yang dilakukan, dan komplikasi intraoperatif. Tabel 4 menguraikan risiko faktor yang terkait dengan endophthalmitis menurut kategori.

                                Tabel 3. Faktor risiko terjadinya endoftalmitis 

  • Profilaksis
  • Preoperative

Pengobatan blepharitis, konjungtivitis, patologi kelopak mata (ektropion atau entropion) dan obstruksi duktus nasolakrimalis penting sebelum operasi intraokular elektif. Faktor risiko sistemik seperti diabetes dan imunosupresi harus dioptimalkan. Gambar 1 adalah garis besar dari satu pendekatan untuk profilaksis terhadap endophthalmitis pada operasi katarak.

                        Gambar 7.  Guideline profilaksis pada postoperative endoftalmitis akut pada operasi katarak 

 

  • Intraoperative

Sebuah tinjauan literatur oleh Ciulla et al. didukung peran Povidine-yodium sebagai profilaksis terhadap endophthalmitis. Povidine-Iodine sebagai  profilaksis telah terbukti mengurangi risiko endophthalmitis dalam studi prospektif. Campuran dari Povidine-Iodine harus diinstilasi ke dalam kantung konjungtiva, bulu mata dan kulit di sekitar periocular dalam bidang bedah. Beberapa penulis menganjurkan ini dalam semua kasus trauma mata tembus, sementara yang lain merekomendasikan bila terdapat factor risiko. Rejimen direkomendasikan termasuk Vancomycin 1 mg / 0.1cc dan Ceftazidime 2.25mg / 0.1cc.

  • Postoperative

Penggunaan antibiotik topikal pasca operasi adalah praktek yang umum meskipun bukti-bukti yang terbatas. Antibiotik topikal seperti fluoroquinolones generasi keempat memiliki penetrasi yang baik dan dapat mencapai konsentrasi terapeutik di ruang anterior. Namun, konsentrasi ini tidak dicapai dalam rongga vitreous. Ia telah mengemukakan bahwa antibiotik pasca operasi dapat lebih tepat digunakan dalam dosis tinggi dan jangka waktu pendek untuk mengurangi risiko resisten bakteri.

  1. Terapi

Pengobatan tergantung pada penyebab yang mendasari endophthalmitis. Hasil akhir ini sangat tergantung pada penegakan diagnosis dan pengobatan tepat waktu. Tujuan dari  terapi endophthalmitis adalah untuk mensterilkan  mata, mengurangi kerusakan jaringan dari produk bakteri dan peradangan, dan mempertahankan penglihatan. Dalam kebanyakan kasus terapi yang diberikan adalah antimikroba intravitreal, periokular, dan topikal. sedangkan dalam kasus yang parah, dilakukan vitrectomy.

8.A. Non Farmakologi

  1. Menjelaskan bahwa penyakit yang diderita memiliki prognosa yang buruk yang  mengancam bola  mata dan nyawa apabila tidak tertangani.
  2. Menjelaskan bahwa penyakit tersebut dapat mengenai mata satunya, sehingga perlu dilakukan pengawasan yang ketat tentang adanya tanda-tanda inflamasi pada mata seperti mata merah, bengkak, turunnya tajam penglihatan, kotoran pada mata untuk segera untuk diperiksakan ke dokter mata.
  3. Menjelaskan bahwa penderita menderita diabetes yang memerlukan pengontrolan yang ketat baik secara diet maupun medikamentosa. Hal ini disebabkan oleh karena kondisi hiperglikemia akan meningkatkan resiko terjadinya bakteriemi yang dapat menyerang mata satunya, atau bahkan dapat berakibat fatal  jika menyebar ke otak.
  4. Perlunya menjaga kebersihan gigi mulut, sistem saluran kencing yang memungkinkan menjadi fokal infeksi dari endoftalmitis endogen.

 

8.B. Farmakologi

  1. Antibiotik

Terapi antimikroba empiris harus komprehensif dan harus mencakup semua kemungkinan patogen dalam konteks pengaturan klinis.

Intravitreal antibiotik 

Pilihan pertama : Vancomicin 1 mg dalam 0.1 ml + ceftazidine 2.25 mg dalam 0.1ml

Pilihan kedua : Vancomicin 1 mg dalam 0.1ml + amikacin 0.4 mg dalam 0.1 ml

Pilihan ketiga : Vancomicin 1 mg dalam 0.1ml + gentamicin 0.2 mg dalam 0.1 ml

Antibiotik topikal

  • Kombinasi dari dua macam obat
  • Penggunaan nya setiap jam untuk setiap obat topikal

Antibiotik sistemik (jarang)

  • Merupakan suportif, bukan pilihan utama
  • Dapat membantu mempertahankan kadar antibiotic dalam badan kaca untuk waktu yang lama.

                           Tabel 4. Sediaan antibiotic intravena 

  1. Terapi steroid
    • Dexamethasone intravitreal 0.4 mg dalam 0.1 ml
    • Dexamethasone 4 mg (1 ml) OD selama 5 – 7 hari
    • Steroid sistemik. Terapi harian dengan prednisolone 60 mg diikuti dengan 50 mg, 40 mg, 30 mg, 20 mg, dan 10 mg selama 2 hari.
  1. Terapi suportif
  • Disarankan tetes mata atropin 1% atau bisa juga hematropine 2% 2 – 3 hari sekali.
  • Obat-obat antiglaucoma disarankan untuk pasien dengan peningkatan tekanan intraokular. Acetazolamide (3 x 250 mg) atau Timolol (0.5 %) 2 kali sehari
  • Vitamin

 8. C. Operatif

Vitrectomy adalah tindakan bedah dalam terapi endophthalmitis. Bedah debridemen rongga vitreous terinfeksi menghilangkan bakteri, sel-sel inflamasi, dan zat beracun lainnya untuk memfasilitasi difusi vitreal, untuk menghapus membran vitreous yang dapat menyebabkan ablasio retina, dan membantu pemulihan penglihatan. Endophthalmitis vitrectomy Study (EVS) menunjukkan bahwa di mata dengan akut endophthalmitis operasi postcataract dan lebih baik dari visi persepsi cahaya. Vitrectomy juga  memainkan peran penting dalam pengelolaan endoftalmitis yang tidak responsif terhadap terapi medikamentosa.

Prognosis

  • Prognosis sangat variabel karena berbagai organisme yang terlibat. Ketajaman visual pada saat diagnosis dan agen penyebab yang paling prediktif hasil.
  • Hasil endophthalmitis endogen umumnya lebih buruk daripada endophthalmitis eksogen karena profil dari organisme biasanya terlibat dengan bentuk (misalnya, organisme yang lebih ganas, tuan rumah berkompromi, keterlambatan dalam diagnosis).
  • Pasien dalam subkelompok traumatis, terutama yang disebabkan oleh infeksi Bacillus biasanya memiliki hasil visual yang miskin.
  • Dalam studi vitrectomy kelompok endophthalmitis, 74% dari pasien mengalami pemulihan visual 20/100 atau lebih baik.

KESIMPULAN

Endophthalmitis adalah adanya peradangan hebat intraokular, terjadi yang diakibatkan dari bakteri, jamur atau keduanya. Tanda dan gejala yang ditunjukan antara lain adanya penurunan visus, hiperemi konjungtiva, nyeri, pembengkakan, dan hipopion. Konjungtiva chemosis dan edema kornea. Sedangkan jenis dari endoftalmitis ini sendiri Endoftalmitis akut pasca bedah katarak, Endoftalmitis pseudofaki kronik, Endoftalmitis pasca operasi filtrasi anti-Glaukoma, Endoftalmitis pasca trauma, Endoftalmitis endogen, Endoftalmitis jamur. Pemeriksaan penunjang untuk endoftalmitis adalah vitreous tap untuk mengetahui organisme penyebab sehingga terapi yang diberikan sesuai. Terapi operatif (vitrectomy) dilakukan pada endoftalmitis berat. Prognosis dari endoftalmitis sendiri bergantung durasi dari endoftalmitis, jangka waktu infeksi sampai penatalaksanaan, virulensi bakteri dan keparahan dari trauma. Diagnosa yang tepat dalam waktu cepat dengan tatalaksana yang tepat mampu meningkatkan angka kesembuhan endoftalmitis.

Vitrectomy tampaknya memberikan beberapa manfaat besar dalam pengobatan endophthalmitis dan tetap diterima sebagai pilihan pengobatan tambahan terapi antimikroba intravitreal pada pasien dengan penyakit endoftalmitis sedang atau berat.

Secara umum, untuk pengobatan endophthalmitis eksogen, antibiotik intravitreal tidak perlu dilengkapi dengan antibiotik intravena. Sebaliknya, sebagian besar kasus endophthalmitis endogen, di mana fokus utama infeksi di luar mata, memerlukan terapi antimikroba sistemik. Tambahan supportive aplikasi obat intravitreal dan vitrectomy dapat diberikan.

Pada endophthalmitis jamur, vitrectomy dan amfoterisin B intravitreal ditunjukkan pada kasus keterlibatan vitreous yang parah. Kemajuan terapi terbaru menggunakan obat antimycotic, termasuk triazole generasi kedua triazole agen vorikonazol dan caspofungin echinocandin, mungkin menawarkan pilihan pengobatan baru untuk mengelola endophthalmitis jamur, tetapi obat ini perlu evaluasi lanjut.

Leave a comment

Filed under Ilmu Penyakit Mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s