Hidramnion / Kelebihan cairan ketuban

Pendahuluan

            Hidramnion adalah sebuah nama yang salah untuk menjelaskan definisi yang sebenarnya. Nama yang sebenarnya dari keadaan yang disebut hidramnion adalah polihidramnion. Polihidramnion berasal dari kata Poly (=banyak) Hydra (=air ; cairan) dan amnion sehingga bila disatukan akan memiliki arti yaitu cairan amnion yang berjumlah banyak, dan dari kata polihidramnion tersebut sebenarnya kita sedikit banyak sudah memiliki gambaran yang terjadi dari keadaan hidramnion tersebut.       

Cairan amnion adalah cairan yang terdapat dalam kantung yang diliputi oleh selaput janin yang terdiri dari lapisan amnion dan korion. Volume cairan amnion pada hamil cukup bulan sekitar 1000 – 1500 ml, berwarna putih, agak keruh, serta mempunyai bau yang khas, agak manis dan manis.1 Cairan ini dengan berat jenis 1.008, terdiri atas 98% air. Sisanya terdiri dari garam anorganik serta bahan organik dan bila diteliti benar terdapat lanugo, sel-sel epitel, dan verniks kaseosa. Protein ditemukan rata-rata 2,6% g/L, sebagian besar sebagai albumin. Cairan amnion masih belum diketahui asalnya dengan pasti. Ada teori yang mengatakan bahwa cairan amnion berasal dari urine, keringat dan eksudasi alveolar janin. Volume cairan amnion akan meningkat sampai  pada kehamilan 32 minggu, dan kemudian menurun dan relatif stabil pada volume antara 700 – 800 ml, lalu menurun sampai kehamilan aterm dan mencapai volume sekitar 400 ml pada kehamilan 42 minggu.

            Polihidramnion adalah jumlah volume cairan amnion yang lebih dari 2000 cc. Polihidramnion menggambarkan kelainan (abnormalitas) pada janin atau status maternal dan tingginya risiko terhadap tingkat kematian dan tingkat keabnormalan.

            Secara umum, cairan amnion memberikan beberapa manfaat potensial untuk kehamilan. Cairan amnion mendukung fetus dalam mengatasi trauma, memiliki sifat-sifat antibakteria, dan membekali janin dengan cairan gan gizi (nutrisi). Cairan amnion juga dibutuhkan untuk pengembangan morfologi kesehatan janin. Volume atau kandungan amnion yang memadai sangat penting bukan hanya untuk evolusi dan kematangan paru-paru janin, tetapi juga untuk pengembangan sistem gastrointestinal dan sistem muskuloskeletal. Perubahan dramatis pada volume cairan amnion mungkin menggambarkan keabnormalan apakah pada status fetal maupun status maternal, dan mungkin menyebabkan meningkatnya angka kematian dan kecacatan.

Definisi

            Hidramnion atau polihidramnion adalah keadaan cairan amnion yang berlebihan, yaitu lebih dari 2000 ml atau ICA lebih dari 24. Jumlah cairan yang berlebihan tersebut dilaporkan dapat mencapai sebanyak 15 L. Penambahan air ketuban ini dapat mendadak dalam beberapa hari yang disebut hidramnion akut atau secara perlahan-lahan yang disebut hidramnion kronis. Bila dilihat dari usia kehamilan, hidramnion dikatakan akut bila terjadi sebelum usia kehamilan 24 minggu dan dikatakan kronis bila diagnosis dibuat pada trimester III.

            Dahulu definisi hidramnion dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis, bukan berdasarkan pemeriksaan jumlah cairan amnion yang diproleh dari pemeriksaan ultrasonografi. Pada tahun 1984 Chamberlain dkk, mendefinisikan batas atas jumlah cairan amnion normal adalah cairan ketuban yang mempunyai ukuran vertikal lebih dari sama dengan 8 cm. Tahun 1987 Phelan dkk, memperkenalkan indeks cairan amnion (ICA/AFI= Amnion Fluid Indeks) untuk menghitung volume cairan amnion. Dengan metode ICA Carlson mendefinisikan diagnosis pasti hidramnion dengan ICA > 24 cm. Usia kehamilan antara 26 – 39 minggu, batas atas normal pada ICA melampaui 24 cm, oleh karena itu kriteria hidramnion yang lebih besar daripada 97,5% dihubungkan dengan usia kehamilan.

Insiden

Hydramnion yang diidentifikasi pada semua kehamilan mencapai sekitar 1 persen. Dengan menggunakan indeks 25 cm atau diatasnya, Biggio dan rekan (1999) pada Universitas Alabama melaporkan 1 persen insiden dari 36.450 pada wanita yang diperiksa.

Pada penelitian sebelumnya oleh Hill dan rekan (1987) dari Klinik Mayo, lebih dari 9.000 pasien prenatal yang menjalani pengukuran ultrasonik secara rutin hingga mendekati trimester ketiga. Insiden (kasus) hydramnion menunjukan 0,9%. Hydramnion ringan – ditetapkan sebaga ukuran kantung antara 8 hingga 11 cm menurut dimensi vertikal yang terdapat 80% dari kasus dengan adanya kelebihan cairan. Hydramnion sedang – ditetapkan sebagai kantung yang. hanva memuat sebagian kecil yang diukur pada kedalaman 12 cm hingga 15 cm, yang ditemukan 15% dari kasus. Hanya 5% yang termasuk hydramnion berat yang ditetapkan dengan fetus yang mengapung bebas (free-floating fetus) yang ditemukan pada kantung cairan sedalam 16 cm atau lebih. Meskipun dua pertiga dari semua kasus termasuk idiopathic, sepertiga kasus lainnya berhubungan dengan kelainan (anomali), diabetes maternal, atau masa kehamilan multifetal (multifetal gestation). Golan dan rekan (1863) melaporkan hasil penelitian serupa pada 14.000 wanita.

Klasifikasi

Berdasarkan onset hidramnion dibagi menjadi :

  1. Akut : Onset tiba-tiba, dimana penambahan cairan ketuban terjadi

mendadak dan uterus akan mengalami distensi yang nyata dalam beberapa hari. Biasanya terjadi pada trimester II dan kehamilan sering berakhir pada usia 28 minggu.

  1. Kronik : Onset perlahan-lahan dan terjadi pada trimester III.

Berdasarkan Maksimum Vertical Pocket (MVP), hidramnion dibagi menjadi :

  1. Hidramnion ringan : Ukuran vertikal kantong cairan amnion 8 – 11 cm.
  2. Hidramnion sedang : Ukuran vertikal kantong cairan amnion 12 – 15 cm.
  3. Hidramnion berat : Ukuran vertikal kantong cairan amnion > 16cm. Dan ditemukan fetus yang bebas mengapung

Berdasarkan Indeks Cairan Amnion (ICA), hidramnion dibagi menjadi :

  1. Meningkat (>24 cm)
  2. Normal (10-24cm)
  3. Rendah normal (5,1-9,9 cm)
  4. Menurun (<5 cm)

Etiologi

Sampai sekarang etiologi hidramnion belum jelas, tetapi diketahui bahwa hidramnion terjadi bila produksi air ketuban bertambah, bila pengaliran air ketuban terganggu atau kedua-duanya. Ada beberapa fakta yang berpengaruh, antara lain :

  • Idiopathic (60%)
  • Sindrom genetik/Kelainan Janin (19%)

– Sistem Gastrointestinal

– Sistem Saraf Pusat

– Sistem Jantung

– Sistem Genitourinary

– Sistem lain

  • Kehamilan Rangkap (7,5%)
  • Diabetes (5%)
  • Macrosomia (4%)
  • Isoimmunisasi (1,7%)

Prevalensi yang dilaporkan mengenai polihydramnion berkisar antara 0,4% hingga 3,5%, tergantung pada luasnya definisi yang dipilih. Beberapa kondisi fetal dan maternal merupakan penjajakan mengenai sebab-sebab yang diketahui. Ben-Cherit telah meneliti 120 kasus yang didiagnosa pada trimester ketiga. Pada penelitian ini, polyhydramnion idiopathic menunjukkan 60% dari kasus, sedangkan 19% kasus berhubungan dengan kelainan fetal, 7,5 % berhubungan dengan kehamilan rangkap, 5% berhubungan djabetes melitus, 4% berhubungan fetus makrosomia dan 1,7% berhubungan dengan sensitisasi Rh.5 Bila kelainan janin diklasifikasi, kelainan saluran gastrointestinal akan mencapai 39% dari kasus (duodenal atresia, hernia diafragmatika, atresi esophagus, dan omphalocele) diikuti dengan kelainan CNS (26%), gangguan Jantung (22%), dan kelainan saluran genitourinary (13%).5 Penelitian ini melaporkan beberapa kelainan CNS dibandingkan dengan beberapa penelitian terdahulu, yang menemukan beberapa lesi yang sudah umum. Bagaimanapun, perbedaan yang berkaitan dengan kelebihan deteksi terhadap kelainan CNS pada trimester kedua dan pengakhiran beberapa kehamilan menghadapi gangguan akibat beberapa kelainan.

Tiga mekanisme potensial yang dianggap sebagai penyebab kelebihan cairan amnion pada kasus dimana kelainan janin (fetal) berhubungan dengan polyhydramnion.

Gangguan Penerimaan Fetal

Gangguan Gastrointestinal bagian atas, susunan leher (contoh goiter atau treatoma), kelainan sistem skeletal yang berhubungan dengan thorax rawan/lembut, kelainan CNS, lesi penempatan ruang thorax (diafragmatic hernia, efusi pleura, atau kelainan adenomatoid cystic bawaan, dan gangguan saraf/neurologis (contoh, myotonic dystrophia) yang dapat menyebabkan gangguan penerimaan fetal.

Transudasi Cairan pada beberapa lesi membran

Meskipun tidak semua anencephaly menyebabkan hidramnion, yaitu hanya 67% dari kasus, tetapi disimpulkan bahwa faktor-faktor lain, seperti transudasi meningeal, atau kekurangan vasopressin (ADH) dapat menyebabkan kelebihan cairan pada beberapa kasus.

Kegagalan Jantung Congestive yang disebabkan oleh Penyakit Jantung Bawaan, anemia berat, atau lesi massa

Selanjutnya apa yang dapat menyebabkan perusakan pembuluh, seperti kelainan adenomatoid cystic bawaan pada paru-paru, atau disebabkan oleh gangguan output yang tinggi, seperti sacrococcygeal teratoma.

Polyhydramnion akut – berbeda dengan bentuk kronisnya – yaitu sebagai kondisi  berat atau parah   dimana   volume cairan amnion mengalami peningkatan   secara cepat pada periode waktu singkat. Sebagian kasus terjadi sebelum  24 minggu. Polyhydramnion akut   adalah gejala yang umum yang dapat diamati dengan sindrom kembar-kembar (TTTS), atau berhubungan dengan kelainan janin (fetal). Bagaimanapun, kasus vang berkaitan dengan polyhydramnion telah dilaporkan pada kehamilan singleton dengan fetus normal secara anatomi.

Patofisiologi

Meskipun terdapat jalur rangkap untuk masuk atau keluarnya cairan ke dalam ruang amnion, hanya terdapat dua sumber penting dan dua rute penting sebagai jalan cairan amnion selama masa kehamilan terakhir. Dua sumber penting dari cairan amnion adalah urine janin dan cairan paru-paru dengan melibatkan kontribusi kecil yang disebabkan pada sekresi melalui katup oral-nasal fetal. Dua rute penting dari cairan amnion akan memindahkan fetal swallow dan penyerapannya ke dalam perfusi permukaan fetal pada plasenta. Jalur potensial akhir untuk pertukaran antara cairan amnion dengan darah maternal pada dinding uterus. Jalur terakhir berhubungan dengan jalur “transmembran”, sedangkan rute untuk pertukaran antara cairan amnion dengan darah fetal pada permukaan fetal plasenta berhubungan dengan jaiur “intra-membran” rute selanjutnya telah disesuaikan yang melibatkan semua pertukaran pasif antara cairan amnion dengan darah fetal yang mungkln terjadi pada permukaan lain seperti kulit fetal dan umbilical cord. Dua Pertukaran pasif selanjutnya tidak memperlihatkan hubungan bermakna selama masa gestasi (masa kehamilan).

Maka, terdapat enam rute dimana air dan larutan mungkin akan masuk atau keluar dari ruang amnion. Pada setiap rute, air dan larutan selalu bergerak atau pindah dengan arah yang sama (misalnya arus gabungan) kecuali untuk jalur intra-membran dan jalur trans-membran, air atau larutan mana yang dapat pindah dengan arah yang berlawanan (misalnya arus osmotic air dan diffusi larutan). Satu rute terbesar yang mempengaruhi volume cairan amnion adalah urin janin, rute lain yang cukup bermakna adalah penelanan oleh janin dan reabsorpsi usus, diketahui dari adanya debris epidermal termasuk lanugo pada mekonium. Dimana terdapat jalur intramembanous (amnion dengan plasenta janin maupun amnion dengan tali pusat dan kulit janin), sekresi dari traktus respiratorius, sekresi oral-nasal, dan jalur transmembranous (amnion dengan darah ibu) yang turut berperan dalam mengatur jumlah volume cairan amnion.

Volume cairan amnion dikendalikan dengan sejumlah cara. Pada awal kehamilan, rongga amnion akan terisi oleh cairan yang komposisinya serupa dengan komposisi cairan ekstrasel. Selama trimester pertama transfer air dan molekul kecil lainnya tidak berlangsung hanya lewat selaput amnion tetapi juga melalui kulit fetus.

Pada trimester kedua, janin mulai memperlihatkan kegiatan urinasi, menelan dan menghisap cairan amnion. Proses ini hampir selalu mempunyai peranan penting dalam mengendalikan volume cairan amnior meskipun sumber utama cairan amnion pada kasus hidramnion dianggap terdapat pada epitel amnion, namun perubahan riwayat dalam amnion atau perubahan kimia pada cairan amnion tidak ditemukan.

Menelan pada janin diperkirakan menjadi salah satu mekanisme untuk mengendalikan volume cairan amnion. Kebenaran teori ini dibuktikan dengan hidramnion terjadi saat refleks menelan terganggu, misalnya pada kasus atresia esophagus. Namun demikian, refleks menelan bukan satu-satunya mekanisme untuk nencegah terjadinya hidramnion.

Pada anensefalus dan spina bifida, peningkatan transudasi cairan dari meningen yang terbuka ke dalam rongga amnion adalah faktor penyebab hidramnion. Keadaan lain yang mungkin menerangkan terjadinya hidramnion pada anensefalus adalah refleks menelan hilang serta pengeluaran urin berlebihan yang dapat terjadi akibat stimulasi pada pusat serebrospinal yang kehilangan penutup pelindungnya dan penekanan pada efek antidiuretik karena kekurangan sekresi vasopresin arginin.

Pada janin dengan facial clefts (palatoschisis dll) ataupun dengan massa di leher, reflek menelan akan lebih susah sampai hilang.

Tumor pada plasenta seperti chorioangioma juga dapat menyebabkan hidramnion. Tumor tersebut berasal dari satu vili yang terdiri dari pembuluh-pembuluh darah dan jaringan penyambung yang hyperplasia. Keadaan tersebut dapat meningkatkan transudasi cairan ke kantung amnion.

Pada hidramnion yang berkaitan dengan kehamilan kembar monozigot, dikemukakan hipotesis yang mengatakan bahwa salah satu janin yang menggunakan bagian terbesar dari sirkulasi darah bagi kedua janin akan mengalami hipertrofi jantung yang selanjutnya akan mengakibatkan peningkatan pengeluaran urin. Naeye dan Blane (1972) menemukan dalam sindrom tersebut tubulus renal yang berdilatasi, kandung kemih  yang membesar dan peningkatan ekskresi urin dalam periode neonatus dini, yang semuanya menunjukkan bahwa peningkatan produksi urin janin bertanggungjawab terhadap terjadinya hidramnion.

Hasil pengamatan Duonhoelter dan Prichard (1976) terhadap janin yang normal mempunyai potensi untuk pertukaran cairan dengan volume yang relatif besar akibat inspirasi cairan amnion. Paru-paru yang hiperplastik dapat mengganggu lintasan pengeluaran cairan amnion ini.

Hidramnion yang sering dijumpai pada diabetes maternal selama trimester ketiga tetap tidak jelas penyebabnya. Diyakini dengan peningkatan gula darah ibu, gula darah fetus juga meningkat, kemudian terjadi diuresis yang berlebihan sehingga akhirnya menyebabkan hidramnion.

Gejala Klinik

Gejala klinik pada hidramnion terjadi karena faktor mekanik sebagai akibat penekanan uterus yang besar terhadap organ-organ sekitarnya. Keluhan sesak akan dirasakan karena penekanan diafragma akibat uterus yang terlalu besar. Penekanan vena-vena yang besar menyebabkan edema terutama di kedua tungkai dan abdomen. Kadangkala, oliguri berat dapat terjadi akibat obstruksi ureter oleh uterus yang besar.

            Pada hidramnion akut, distensi tersebut dapat menimbulkan gangguan yang cukup serius sehingga mengancam keselamatan ibu. Tanpa adanya penanganan, rasa nyeri akan menjadi begitu intensif dan gejala dispnoe menjadi begitu berat sehingga pada kasus-kasus ekstrim ibu hanya bisa bernafas dalam keadaan tegak. Ibu dapat menjadi sangat gelisah akibat desakan tekanan uterus yang sangat tegang pada organ-organ yang berdekatan.

Pada hidramnion kronis, penumpukan cairan berlangsung secara bertahap dan pasien dapat mentoleransi distensi abdomen yang berlebihan dan hanya merasa sedikit tidak nyaman.

Gejala-gejala yang umum terjadi pada hidramnion meliputi pertumbuhan cepat pada uterus dimana :inggi uterus lebih tinggi dari waktu amenoreanya, ketidaknyamanan dalam abdomen, kontraksi uterus. Pada hidramnion palpasi anak sulit dan bunyi jantung sering tidak terdengar.

Diagnosis

            Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan fisik dapat juga denganultrasound dengan mengukur kantong cairan amnion untuk menghitung volume total.

HIDRAMNION AKUT

A Anamnesis

  1. Abdomen membesar melebihi usia kehamilan
  2. Abdomen membesar dalam beberapa hari
  3. Biasanya terjadi pada usia kehamilan dibawah 20 minggu
  4. Nyeri perut karena perut tegang
  5. Mual dan muntah
  6. Pada proses akut dan perut besar sekali bisa menyebabkan syok
  7. Pemeriksaan Fisik
  8. Tinggi fundus uteri melebihi usia kehamilan
  9. Edema tungkai, mungkin bersama dengan tanda-tanda preeklamsia
  10. Bisa ditemui tanda-tanda syok karena proses akut
  11. Palpasi bagian kecil janin sulit dan bunyi jantung sulit terdengar.

HIDRAMNION KRONIK

Anamnesis

  1. Dyspnoe.terutama pada posisi berbaring

    2   Palpitasi

  1. Edema pada tungkai, vulva, perut dan hemoroid

Pemeriksaan Fisik

Mungkin terdapat tanda-tanda preeklamsia

  1. Inspeksi

– Abdomen terlihat besar, sangat buncit, tidak sesuai umur kehamilan

– Kulit abdomen dapat terlihat tegang, mengkilat, dengan striae yang lebar

  1. Palpasi

– Fundus lebih tinggi dari usia kehamilannya

Fluid thrill dapat dirasakan di semua tempat

– Bagian-bagian janin, presentasi dan letak sukar dikenal karena banyaknya cairan

–  Kesalahan letak janin dapat terjadi karena janin dapat bergerak bebas.

  1. Auskultasi

– Denyut jantung sukar didengar atau kalau dapat terdengar halus sekali.

  1. Pemeriksaan dalam

– Serviks terdorong ke atas dan dilatasi

– Ketuban terasa tegang dan menonjol bila diraba melalui lubang pembukaan.

Pemeriksaan Penunjang

Ultrasonografi (USG)

Hidramnion, asites dan kista ovarium yang besar dapat dibedakan tanpa kesulitan dengan USG Cairan amnion yang banyak dapat dilihat sebagai ruang non-echoik yang besar dan abnormal. Kadang-kadang abnormalitas janin seperti anensefalus atau defek neural tube lainnya, ataupun anomali traktus. gastrointestinal dapat terlihat.

Hidramnion dinilai dengan cara semikuantitatif untuk menghitung volume cairan amnion berdasarkan indeks cairan amnion (ICA) > 24 cm. Pertama kali digambarkan oleh Phelan dkk, metode ini membagi uterus menjadi 4 kuadran dengan umbilikus dan linea nigra sebagai titik acuan dan memperhitungkan ICA dengan menjumlahkan kantung vertikal maksimum (MVP) dari masing-masing kuadran.

Penilaian ICA:

        Meningkat (>24 cm)

Peningkatan ICA adalah sebuah indikasi untuk tes antepartum, termasuk pengukuran ICA berse aetidaknya aetiap minggu. Sebuah pemeriksaan ultrasound lengkap harua dilakukan untuk manca adanya anomali pada janin dan plasenta seperti yang terjadi pada hidramnion.

          Normal (10-24 cm)      Rendah normal (5,1-9,9 cm)         Menurun ( <5 cm)

Radiografi

Daerah radiolusen yang luas di sekeliling skeleton janin menunjukkan adanya hidramnion meskipun massa jaringan lunak seperti tumor juga dapat memberikan gambaran yang sama. Adanya kelainan kongenital anensefalus mudah terdeteksi dengan pemeriksaan ini.

Amniografi dengan bahan kontras Hypaque dapat membantu mengenali cairan amnion yang berlebihan, tumor jaringan lunak yang menonjol dari tubuh janin dan kegiatan menelan pada janin. Namun sekarang pemeriksaan ini kurang populer.

Pemeriksaan darah

ABO dan Rh

Rhesus isoimunisasi dapat menyebabkan hydrops fetalis dan asites pada janin.

Gula darah post prandial dan tes toleransi glukosa bila diperlukan.

Penatalaksanaan

Prinsip penatalaksanaan hidramnion adalah untuk mengatasi ketidaknyamanan, mengetahui penyebabnya dan untuk menghindari dan mengatasi komplikasinya.

Penatalaksanaan spesifik hidramnion dapat dilakukan berdasarkan keadaan kehamilan, keadaan umum dan riwayat penyakit ibu, derajat penyakit, toleransi untuk pengobatan spesifik, prosedur dan terapi.

         Pada hidramnion harus melakukan monitoring ketat jumlah cairan amnion. Hidramnion ringan jarang membutuhkan terapi. Bahkan hidramnion sedang
terkadang tidak membutuhkan terapi walaupun ada ketidaknyamanan sampai saat persalinan atau sampai ketuban pecah. Apabila rasa ketidaknyamanan benar-benar mengganggu, maka dibutuhkan bed rest ataupun hospitalisasi.

         Amniosintesis (memasukkan jarum melalui uterus dan masuk ke kantong cairan amnion) dilakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan ibu dengan melakukan drainase cairan amnion. Amniosintesis dapat dilakukan berulang, terutama dilakukan pada hidramnion akut. Cairan amnion dapat dikeluarkan sebanyak 500 cc/jam, dapat mencapai 1500 – 2000 cc sekali pengeluaran. Ibu dengan hidramnion dimana bayinya menderita cacat kongenital, dilakukan terminasi kehamilan tanpa mempedulikan usia kehamilan.

Penatalaksanaan  lain  dari  hidramnion  adalah  pemakaian  indomethasin.   Indomethasin (1,5mg/kgBB/hari) mengurangi produksi cairan paru-paru dan meningkatkan penyerapan, serta mengurangi produk urin fetus, serta meningkatkan aliran cairan yang melintasi membran fetus. Tetapi terapi ini sangat potensi menyebabkan penutupan lebih awal dari duktus arteriosus fetalis.

Komplikasi

Komplikasi ibu antara lain persalinan preterm, pregnancy-induced hypertension, ketuban pecah dini kesulitan bernapas. Komplikasi intraparturn antara lain solutio plasenta, prolaps tali pusat, inersia uteri, insufisiensi plasenta dan bertambahnya insiden sectio caesar. Perdarahan post partum adalah komplikasi yang paling dikhawatirkan. Kematian janin dapat terjadi, dimana penyebab utama kemartian janin adalah kelainan kongenital yang tidak memungkinan janin untuk hidup serta prematuritas.

Prognosis

Pada umumnya semakin berat hidramnion, semakin tinggi angka mortalitas perinatal, sehingga bayi dalam kehamilan dengan derajat berat menunjukkan prognosis yang lebih buruk. Dalam beberapa penelitian oleh Hill dkk (1987), hampir sebanyak 80 % ibu dengan hidramnion ringan melahirkan bayi sehat dan atern Sebaliknya, separuh ibu dengan hidramnion sedang hingga berat mempunyai janin dengan kelainan. Meskipun hasil pemeriksaan penunjang tidak tampak kelainan, tidak menjamin prognosis yang balk pada janin, karena insidens terjadinya malformasi janin sekitar 15 – 20 % (Landy dkk 1987).

Penyebab prognosis kurang baik ialah cacat bawaan, prematuritas, prolapsus funikuli, eritroblastosis, preeklamsi, diabetes mellitus. Prognosis yang buruk pada ibu dikarenakan bahaya terjadinya solutio plasenta. inersia uteri, perdarahan postpartum.

Leave a comment

Filed under Obstetri Ginekologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s