Katarak Senilis

Definisi

Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract dan Latin Cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. katarak2

Klasifikasi

Katarak dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan, antara lain:

  1. Berdasarkan usia pasien:
  • Katarak kongenital
  • Katarak juvenil
  • Katarak senil
  1. Berdasarkan anatomis lensa yang terkena:
  • Katarak Kortikal Anterior
  • Katarak Kortikal Posterior
  • Katarak Nuklear
  • Katarak Subkapsular
  • Katarak Total
  1. Berdasarkan konsistensinya:
  • Katarak Cair
  • Katarak Lunak
  • Katarak Keras
  1. Berdasarkan stadium penyakitnya:
  • Katarak Insipien
  • Katarak Intumesen
  • Katarak Imatur
  • Katarak Matur
  • Katarak Hipermatur

katar

Katarak kongenital

Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak ini terjadi karena gangguan serat-serat lensa pada saat pembentukan serat lensa akibat infeksi virus atau gangguan metabolisme jaringan lensa pada saat bayi masih dalam kandungan, dan gangguan metabolisme oksigen. Katarak kongenital digolongkan dalam katarak :

  1. Kapsulolentikular dimana golongan ini termasuk katarak kapsular dan katarak polaris
  2. Katarak lentikular termasuk dalam golongan ini katarak yang mengenai korteks atau nukleus lensa saja.

Pada bayi dengan katarak kongenital, akan terlihat bercak putih di depan pupil yang disebut dengan leukokoria.

Katarak Juvenil

Katarak juvenil adalah katarak yang terlihat setelah usia 1 tahun. katarak ini dapat terjadi karena lanjutan katarak kongenital yang semakin nyata, komplikasi dari penyakit lain seperti uveitis anterior, ablasio retina dan glaukoma yang mengenai satu mata. Katarak juvenil juga dapat terjadi akibat kelainan sistemik seperti diabetes melitus. Biasanya katarak juvenil ini merupakan katarak yang dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Katarak Senil

Katarak senil adalah kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu diatas usia 50 tahun. Proses  degenarasi lensa terjadi secara perlahan-lahan, oleh sebab itu penglihatan pasien menurun secara perlahan.

Katarak senil secara klinik dikenal dalam 5 stadium yaitu:

  • Stadium Insipien

Dimana mulai timbul katarak akibat proses degenerasi lensa. Kekeruhan lensa yang tidak teratur. Pada staium ini, proses degenerasi belum menyerap cairan mata kedalam lensa sehingga kedalaman bilik mata depan akan tampak normal. Tajam penglihatan pasien mulai menurun tapi belum terganggu.

  • Stadium Intumesen

Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratif menyerap air. Masuknya air ke dalam lensa menyebabkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibandingkan dalam keadaan normal. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan menyeabkan miopia lentikular.

  • Satdium Imatur

Sebagian lensa keruh dan belum mengenai seluruh lapisan lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder. Pada pemeriksaan shadow test, maka akan terlihat bayangan iris pada lensa. Uji shadow test (+).

  • Stadium Matur

Pada stadium ini terjadi kekeruhan lensa secara menyeluruh. Tekanan cairan di dalam lensa sudah seimbang dengan cairan di dalam mata, sehingga ukuran lensa kembali normal. Pada pemeriksaan iris dalam posisi normal, bilik mata depan normaldan shadow test (-). Tajam penglihatan sangat menurun dan hanya dapat melihat proyeksi sinar.

  • Stadium Hipermatur

Pada stadium ini katak mengalami proses degenerasi lanjut, dan korteks mencair sehingga nukleus lensa tenggelam di dalam korteks lensa. Pada staium ini juga terdapat degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa yang cair keluar dan masuk kedalam kedalam bilik mata depan. Pada stadium ini akan tampak lensa berukuran yang lebih kecil dari normal, sehingga dapat terlihat sudut bilik mata depan yang terbuka. Shadow test (-). Shadow test dapat (+), karena bayangan iris terbentuk pada kapsul anterior dengan lensa yang mengecil, sehingga disebut pseudopositif. Akibat dari bahan lensa yang keluar, dapat terjadi proses inflamasi yaitu uveitis, selain itu bahan lensa tersebut dapat menyumbat jaringan trabekula sehingga mengganggu aliran aqueus humor dan timbullah glaukoma fakolitik.

Patofisiologi Katarak Senilis

Patofisiologi dibalik katarak senilis adalah kompleks dan perlu untuk dipahami. Pada semua kemungkinan, patogenesisnya adalah multifaktorial yang melibatkan interaksi kompleks antara proses fisiologis yang bermacam-macam. Sebagaimana lensa berkembang seiring usia, berat dan ketebalan terus meningkat sedangkan daya akomodasi terus menurun. Dengan lapisan-lapisan kortikal yang baru ditambahkan dalam pola konsentrik, nukleus sentral tertekan dan mengeras pada sebuah proses yang disebut sklerosis nuclear.

Bermacam mekanisme memberikan kontribusi pada hilangnya kejernihan lensa. Epitelium lensa dipercaya mengalami perubahan seiring dengan pertambahan usia, secara khusus melalui penurunan densitas epitelial dan differensiasi abberan dari sel-sel serat lensa. Sekali pun epitel dari lensa katarak mengalami kematian apoptotik yang rendah di mana menyebabkan penurunan secara nyata pada densitas sel, akumulasi dari serpihan-serpihan kecil epitelial dapat menyebabkan gangguan pembentukan serat lensa dan homeostasis dan akhirnya mengakibatkan hilangnya kejernihan lensa. Lebih jauh lagi, dengan bertambahnya usia lensa, penurunan ratio air dan mungkin metabolit larut air dengan berat molekul rendah dapat memasuki sel pada nukleus lensa melalui epitelium dan korteks yang terjadi dengan penurunan transport air, nutrien dan antioksidan. Kemudian, kerusakan oksidatif pada lensa pada pertambahan usia terjadi yang mengarahkan pada perkembangan katarak senilis. Berbagai macam studi menunjukkan peningkatan produk oksidasi (contohnya glutation teroksidasi) dan penurunan vitamin antioksidan serta enzim superoksida dismutase yang menggaris-bawahi peranan yang penting dari proses oksidatif pada kataraktogenesis.

Mekanisme lainnya yang terlibat adalah konversi sitoplasmik lensa dengan berat molekul rendah yang larut air menjadi agregat berat molekul tinggi larut air, fase tak larut air dan matriks protein membran tak larut air. Hasil perubahan protein menyebabkan fluktuasi yang tiba-tiba pada indeks refraksi lensa, menyebarkan jaras-jaras cahaya dan menurunkan kejernihan. Area lain yang sedang diteliti meliputi peran dari nutrisi pada perkembangan katarak secara khusus keterlibatan dari glukosa dan mineral serta vitamin.

Katarak senilis dapat diklasifikasikan menjadi tiga bentuk utama; katarak nuklear, katarak kortikal, dan katarak subkapsular posterior. Katarak nuklear merupakan hasil dari sklerosis nuklear yang berlebih dan penguningan dengan konsekuensi pembentukan opasitas lentikular sentral. Pada beberapa keadaan, nukleus dapat menjadi sangat padat dan coklat, yang disebut sebagai katarak brunesen. Perubahan katarak komposisi ionik pada korteks lensa dan perubahan hidrasi pada serat lensa menghasilkan katarak kortikal. Pembentukan kekeruhan seperti plak dan granular terjadi pada korteks sub-kapsular posterior yang seringkali mengarah pada katarak sub-kapsular posterior.

Gejala Klinik

 Karena kekeruhan lensa yang prosesnya berjalan perlahan, maka terjadi penurunan tajam penglihatan akan perlahan sehingga hanya dapat mengenali proyeksi sinar pada proses yang lebih lanjut, dan dapat berakhir kebutaan pada stadium hipermatur. Pada pupil akan terlihat kekeruhan lensa berwarna putih.

Penatalaksanaan Katarak Senil

            Tidak ada obat yang dapat  mengatasi katarak senil kecuali pembedahan. Pengobatan yang diberikan biasanya hanya memperlambat proses, tetapi tidak mengehentikan proses degenerasi lensa. Tindakan pembedahan dilakukan dengan indikasi: katarak matur, katarak hipermatur, katarak yang belum matur namun sudah mengganggu pekerjaan sehari-hari, dan katarak dapat menimbulkan komplikasi (glaukoma dan uveitis).

            Pembedahan dibedakan menjadi ekstraksi lensa intrakapsuler, yaitu operasi katarak dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsulnya, keuntungan dari cara ini yaitu seluruh lensa yang dikeluarkan dari mata sehingga tidak ada resiko katarak sekunder. Sedangkan kerugiannya adalah bisa terjadi prolaps badan kaca. Ekstraksi lensa ekstrakapsuler, yaitu operasi hanya diambil kapsul lensa anterior bagian tengah, korteks dan nukleus, kapsul posterior tetap ditempatnya. Keuntungannya adalah masih utuhnya kapsul posterior, berarti badan kaca terlindung . Kerugian cara ini adalah dapat terjadi kemungkinan katarak sekunder karena sisa badan lensa yang mungkin masih tertinggal. Selain itu ada juga pembedahan dengan fakoemulsifikasi, yaitu katarak yang lunak dapat dipecah-pecah menjadi fragmen-fragmen dan diaspirasi. Keuntungannya hanya diperlukan insisi kecil. Kerugiannya adalah masih tertinggal sisa- sisa bahan lensa di dalam mata sehingga untuk menagani intilensa yang keras diperlukan manipulasi dan waktu pengerjaan yang cukup lama. Setelah pembedahan maka dipasang lensa intraokular. Ada yang diletakkan di depan iris dan ada yang diletakkan dibelakang iris.

Dalam penanganannya, pada penderita katarak dilakukan pembedahan untuk mengangkat kekeruhan lensa dengan harapan, pasca bedah katarak, dapat dicapai tajam penglihatan yang baik. Tindakan bedah perlu dilakukan bila katarak telah mengganggu pekerjaan sehari-hari, telah menimbulkan komplikasi, atau pada katarak matur/hipermatur. Terdapat berbagai macam teknik ekstraksi katarak, yaitu:

  1. Ekstraksi Katarak Intrakapsuler (EKIK)

Ekstraksi jenis ini merupakan tindakan dengan cara lensa dikeluarkan bersama-sama dengan kapsul lensanya dengan memutus zonula zinnii yang telah pula mengalami degenerasi. Keuntungan operasi ini tidak timbul katarak sekunder2 sedangkan kerugiannya bisa terjadi prolaps korpus vitreum dan pecahnya kapsul lensa sehingga lensa tidak dapat dikeluarkan bersama kapsulnya.

2. Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular (EKEK)

Pada EKEK dilakukan pengeluaran nucleus lensa dengan cara membuka kapsul anterior, dengan meninggalkan kapsul posterior tetap pada tempatnya.1 Keuntungannya dengan masih utuhnya kapsul posterior mencegah terjadinya prolaps korpus vitreum. Kerugiannya adalah dapat menimbulkan katarak sekunder2 akibat kemungkinan masih tertinggal sisa bahan lensa dalam mata.

3. Fakoemulsifikasi

Merupakan teknik ekstrakapsular yang menggunakan gelombang ultrasonik untuk mengangkat nukleus dan korteks melalui insisi limbus yang kecil (2-5 mm), sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca-operasi.

Komplikasi intraoperatif bedah katarak yang dapat terjadi adalah: 

A.  komplikasi anestetik

  1. Perdarahan retrobulbar: Hal ini dapat terjadi pada injeksi retrobulbar atau peribulbar. Biasanya terdapat proptosis, bola mata yang tegang, dan kesulitan dalam membuka kelopak mata. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah pemijatan dengan tangan sesegera mungkin selama 15-20 menit. Hal ini akan menghentikan perdarahan. Periksa tekanan intra okular (TIO) dengan palpasi kemudian operasi dapat dilanjutkan. Tekanan intra okular dapat juga diturunkan dengan kantotomi lateral. Jika TIO tidak dapat dikendalikan maka pembedahan ditunda dan berikan obat-obat anti glaukoma.
  2. Perforasi bola mata: Komplikasi ini sering ditemui selama atau dengan injeksi retrobulbar. Terkadang dapat ditemukan juga kerusakan nervus optikus. Untuk menghindari komplikasi ini maka sebaiknya anestesia peribulbar dilakukan dengan jarum pendek. Diagnosis dini perforasi bola mata sangatlah penting. Biasanya terdiagnosis dengan hipotoni mendadak. Penatalaksanannya dengan evaluasi mata yang lengkap untuk mencari tempat perforasi. Lokasi perforasi ini biasanya ditutup dengan krioterapi. Evaluasi perifer untuk mengecek status retina. Jika terjadi break atau ablasio pada retina maka harus ditatalaksana dengan tepat.
  3. Perdarahan subkonjungtiva: Keadaan ini biasanya didapatkan pada anestesia peribulbar, subtenon, dan injeksi retrobulbar. Untuk membedakannya dengan perdarahan retrobulbar; warnanya merah segar dan TIO normal.
  4. Kemosis: Diatasi dengan membuat insisi konjungtiva dan drainase cairan dari pembengkakan.

B. Terlepasnya membran Descemet

C. Hidrasi konjungtiva

D. Prolaps nucleus

E. Hifema

F. Trauma iris

G. Ruptur kapsul posterior

Leave a comment

Filed under Ilmu Penyakit Mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s