DEMENSIA

DEFINISI

Demensia adalah suatu sindrom di mana diperoleh kerusakan yang progresif dan menyeluruh pada fungsi kognitif, yang tidak disertai gangguan derajat kesadaran. Selain itu demensia juga merupakan penyakit yang mana otak kehilangan fungsinya, hal ini bukanlah hanya satu penyakit saja. Melainkan, demensia menunjukan kesuatu kelompok penyakit yang meliputi masalah pada memori, tingkah laku, proses pembelajaran, dan komunikasi. Dimana masalah ini sangat progresif, yang mana makin lama semakin parah.

EPIDEMIOLOGI

Prevalensi demensia meningkat seiring dengan harapan hidup terutama dinegara barat. Di Australia pada tahun 2006 diperkirakan prevalensi demensia 1,03% dari seluruh populasi. Penyakit ini mempunyai hubungan yang erat dengan usia dimana, 2% berusia antara 65-69 tahun, 5% berusia 75-79 tahun dan 20% berusia penderitanya berusia 80-89 tahun atau lebih dari 1/3 dari orang berusia lebih dari 90 tahun dari moderat hingga berat. Setengah dari mereka yang menderita demensia juga terserang penyakit Alzheimer.

KLASIFIKASI

Berdasarkan penyebabnya

  • Alzheimer
  •  Cerebrovasukar  : Demensia Multi infark, Penyakit Binswanger
  • Neurodegeneratif : Penyakit Pick, Penyakit Huntington, Penyakit Parkinson
  • Infeksi : Penyakit Creutzfeld-jacob, HIV, Progresif multifokal leukoenchelopati
  •  Hidrochepalus comunika
  •  Nutrisi : Wernicke korsakoff ( defisiensi tiamin ), Defisiensi B12, Defisiensi folat
  • Metaboik :Hipoksia kronik, uremia, gagal hati, hipoglekemia, gangguan elektrolit; Penyakit endokrin, hipoteroid, paratiroid, kelainan adrenal; Obat : Psikatropika; Logam : alumunium
  •  Inflamasi kronik : Penyakit vascular kolagen dan vaskulitis, Multiple sclerosis
  •  Trauma : Cedera kepala, Sindrom punch drunk
  •  Tumor otak

Alzheimer merupakan 60% dari semua demensia, penyebab terbanyak kedua adalah penyakit cerebrovaskular 20% dan sisanya disebabkan oleh yang lain.

Berdasarkan letaknya

  • Demensia Cortical :
    • Alzheimer
    • Degenerasi lobus frontalis
    • Penyakit Pick
  • Demensia Subcortical
  1. Parkinson
  2. Penyakin hutington
  3. Kelumpuhan supranuclear yang progresif
  4. Penyakit Wilson
  5. Degenerasi spinocerbellar
  6. Kalsifikasi basal ganglia
  7. Degenerasi kirtocoid basal ganglia
  8. Penyakit Lewi body
  9. Hidrochepalus komunika
  10. Depresi
  11. Multiple sclerosis, HIV encephalopati, leukodistropi.
  12. Demensia Vascular : Lacunar strates, Binswanger
  • Dementia campuran  ( antara cortical dan subcortikal ) : Demensia Multiinfarct; Penyakit Creutzfeldt-jacob, neurosyphilis, meningitis-tuberkulosa kronik, jamur, HIV

MANIFESTASI KLINIS

Demensia biasanya dimulai secara perlahan dan makin lama makin parah, sehingga keadaan ini pada mulanya tidak disadari. Gejala – gejalanya sebagai berikut :

  • Gangguan memori,

dalam bentuk ketidakmampuan untuk belajar tentang hal – hal yang baru, atau lupa akan hal – hal yang baru saja dikenal, dikerjakan atau dipelajari dan ketidakmampuan untuk mengingat masa lalu. Seperti ketidakmampuan untuk berhitung, berpikiran abstrak, dan juga terdapat disorientasi waktu, tempat., nama, ruang yang tampak, ketidakmampuan untuk menginteprasi dari lingkungan sekitarnya. Bila hal ini berlangsung lebih serig dan tidak dapat dijelaskan dapat dijadikan indikasi penurunan fungsi memori.

  • Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi
  • Menurunnya kemampuan untuk memecahkan masalah dan untuk mengambil keputusan.
  • Perubahan kepribadian

Dengan bertambahnya usia kepribadian seseorang dapat berubah meskipun sedikit. Orang yang menderita demensia kepribadiannya dapat berubah secara tiba-tiba atau dalam periode yang lama. Seseorang yang semula ramah bisa secara tidak tetrduga menjadi pemarah, iri ataupun penakut.

  • Halusinasi dan delusi
  • Perubahan sensasi atau persepsi
  • Agnosia, dimana terdapat ketidakmampuan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda meskipun fungsi sensoriknya utuh. Contohnya pasien tidak dapat mengenali kursi, pena, dan pada akhirnya anggota keluarganya dan bahkan dirinya sendiri yang tampak pada cermin.
  • Perubahan pola tidur, dimana terdapat insomnia, atau meningkatnya kebutuhan untuk tidur, atau terdapat gangguan atau perbahan diri siklus bangun tidur.
  • Gangguan system motorik
    • Apraksia, dimana terdapat ketidakmampuan untuk melakukan gerakan meskipun kemampuan motorik, fungsi sensorik dan pengertian yang diperlukan tetap baik, Contohnya pasien kesulitan dalam menggunakan sesuatu seperti menyisir, menggambar, mengancingkan baju, dll.
    • Perubahan gaya berjalan, gerakan – gerakan yang tidak tepat, dll.
  • Afasia, dimana terdapat ketidakmampuan atau kesulitan untuk menyebutkan nama orang atau benda, membaca, menulis, mengeja yang buruk, kemampuan berbicara yang buruk, mengulang kalimat, dll.
  • Selain itu dapat disertai dalam gangguan menelan, inkontinensia urin dan feses, dan juga dapat terjadi kejang tetapi sangat jarang ditemukan.

DIAGNOSIS 

 Diagnosis demensia ditegakkan berdasarkan penilaian menyeluruh, dengan memperhatikan usia penderita, riwayat keluarga, awal dan perkembangan gejala serta adanya penyakit lain

  1. Pemeriksaan Memori

Pada pemeriksaan ini pasien diminta untuk mencatat, menyimpan, mengingat dan mengenal informasi baru. Pasien diminta untuk mengulang kata – kata ( registration ), mengingat kembali informasi tadi setelah istirahat beberapa menit ( retention, recall ) dan mengenal kata – kata dari banyak daftar ((recognition ). Kemampuan itu untuk mengingat informasi dievaluasi dengan memperkenalkan nama-nama dari 3 obyek kepada pasien-pasien, yang diminta untuk mengulang nama-nama dengan segera. Jika pasien-pasien tidak bisa melakukannya, masalah itu adalah biasanya perhatian, bukan memori. Jika pasien-pasien dapat mengingat informasi, ingatan jangka pendek yang diuji: Setelah 5 menit, pasien diminta untuk mengingat 3 nama. Pasien dengan demensia melupakan informasi yang sederhana di dalam 1 seperti sampai 5 menit. mintalah pasien untuk menyebut object di dalam kategori-kategori (misalnya, binatang-binatang, barang-barang kesenian pakaian, potongan-potongan dari mebel) adalah tes yang bermanfaat Pasien dengan demensia kesulitan  untuk menyebut beberapa; mereka yang tanpa demensia dengan mudah menyebut banyak. Functional Activities Questionnaire, tersedia dari Asosiasi Alzheimer, digunakan untuk mengevaluasi apakah perusakan/pelemahan teori mempengaruhi suatu kemampuan pasien untuk melaksanakan aktivitas kompleks lain

  1. Pemeriksaan kemampuan berbahasa

Pada pemeriksaan ini pasien diminta untuk menyebutkan nama benda di dalam ruangan atau bagian dari tubuh, mengikuti perintah atau aba – aba atau mengulang ungkapan.

  1. Pemeriksaan apraksia

Dimana keterampilan motorik pasien dapat diperiksa dengan cara meminta pasien untuk melakukan gerakan tertentu, misalnya memasang / menyusun balok – balok, atau menyusun tongkat dalam desain tertentu, dll

4.  Pemeriksaan daya abstraksi

Daya abstraksi dapat diperiksa dengan berbagai cara, misalnya menyuruh pasien untuk menghitung sampai sepuluh, menyebut seluruh alphabet, menhitung dalam kelipatan tujuh, dll.

  1. Mini Mental State Examination ( MMSE )

Pemeriksaan ini diciptakan oleh Folstein et al pada tahun 1975. MMSE    meliputi 30 pertanyaan sederhana untuk memperkirakan kognisi utama pada orang – orang tua. Hasil positif palsu dapat diperoleh dari pasien usia tua dengan depresi. Namun depresi dapat dikeluarkan dengan menggunakan Griatric Deprssion Scale. Skor MMSE berkisar antara 0 samapi 30 orang lanjut usia, normal menunjukan akor 24 – 30. Depresi dengan gangguan kognitif mempunyai skor 9 – 27, sementara itu senile mental decline memiliki skor < 23 dan dmensia senilai dengan skor < 17.

Pasien dengan skor 24 atau kurang benar – benar menunjukan gangguan kognitif. Sementara itu MMSE tidak sensitif untuk awal demensia, dengan  demikian skor normal tidak berarti meniadakan kemungkinan adanya demensia.

        6.    Pemeriksaan laboratorium

Darah rutin menguji adalah juga biasanya dilaksanakan untuk menyingkirkan penyebab yang bisa diatasi. Pemeriksaannya meliputi  vitamin B12, asam folat, hormon merangsang gondok (TSH), protein C reaktif, jumlah sel darah rutin, elektrolit,calsium, enzim-enzim fungsi ginjal dan hati. Kelainan-kelainan dapat menunjukkan defisiensi vitamin, infeksi atau masalah lain yang menyebabkan kebingungan atau disorentasi di usia. lanjut Penggunaan kronis dari alkohol dapat juga menjadi predisposisi pasien kearah demensia

7.   Pemeriksaan radiology

Dapat dilakukan CT scan kepala dan MRI dimaksudkan untuk menentukan adanya tumor, atau stroke. Jika pada seorang lanjut usia terjadi kemunduran ingatan yang terjadi secara bertahap, maka diduga penyebabnya adalah penyakit Alzheimer. Diagnosis penyakit Alheimer terbukti hanya jika dilakukan otopsi terhadap otak, yang menunjukkan banyaknya sel saraf yang hilang. Sel yang tersisa tampak semrawut dan di seluruh jaringan otak tersebar plak yang terdiri dari amiloid (sejenis protein abnormal). Metode diagnostic yang di gunakan untuk mendiagnosis penyakit ini adalah pemeriksa pungsi lumbal dan PET (positron emission tomography), yang merupakan pemeriksaan skening otak khusus dan juga dapat dilakukan EEG (electroencephalograph).

Diagnosis banding  

  1. Delirium

Gangguan memori terjadi baik pada delirium maupun demensia.Delirium juga dicirikan oleh menurunnya kemampuan untuk mempertahankan dan memindahkan perhatian secara wajar. Gejala delirium bersifat fluktuatif, sementara demensi menunjukan gejala yang relative stabil. Gangguan kognitif yang bertahan tanpa perubahan selama beberapa bulan lebih mengarah kepada demensi. Delirium dapat menutupi segala demensi, bila terdapat kesulitan untuk menuntukan diagnosis maka dianjurkan untuk memilih demensi sebagai didiagnosis sementara, dan mengamati pasien lebih lanjut secara cermat untuk menentukan jenis gangguan yang sebenarnya.

  1. Amnesia

Amnesia dicirikan oleh gangguan memori yang berat tanpa gangguan fungsi kognitif lainnya, namun didahului dengan gangguan derajat kesadaran.

  1. Retardasi mental

Retardasi mental dicirikan oleh fungsi intelektual dibawah rata-rata,yang diiringi oleh gangguan dalam penyesuaian diri, yang awaitannya di bawah 18 tahun. Apabila demensi tampak pada usia di bawah 18 tahun, diagnosis demensi dan retardasi mental dapat ditegakkan bersama-sama asal kriterianya terpenuhi.

  1. Skizofrenia

Pada skizofrenia mungkin terjadi gangguan kognitif multipleks, tetapi skizofrenia muncul pada usia lebih muda, disamping itu dicirikan oleh pola gejala yang khas tanpa disertai etiologi yang spesifik. Yang khas gangguan kognitif pada skizofrenia jauh lebih berat daripada gangguan kognitif pada demensia.

  1. Depresi

Depresi yang berat dapat disertai keluhan tentang gangguan memori, sulit berfikir dan berkonsentrasi, dan menurunkan kemampuan intektual secara menyeluruh. Kadang-kadang menunjukan penampilan yang buruk pada pemeriksaan status mental dan neuropsikologi. Pada pasien lanjut usia sering kali sulit untuk menentukan apakah gejala gangguan kognitif merupakn gejala demensia atau depresi. Hal ini dapat dipecahkan melalui pemeriksaan medik yang menyeluruh dan evaluasi awitan gangguan yang ada, urutan muncul gejala depresi dan gangguan kognitif, perjalanan penyakit,riwayat keluarga serta hasil pengobatan.

Dementia Depression
Insidious onset

Progresive deterioration

Tidak ada riwayat depresi

Pasien tidak sadar dan tidak mengeluh adanya gangguan memori

Somatic complaints uncommon

Variable affect

Few vegetative symptoms

Impairment often worse at night

Pemeriksaan neurologi dan laboratorium tidak normal

Abrupt onset

Plateau of dysfunction

Ada riwayat depresi sebelumnya

Pasien sadar dan mengeluh adanya gangguan memori

Somatic complaints or hypochondriacis common

Depressed affect

Prominent vegetative syimptoms

Impairment usually not worse at night

Pemeriksan neurologi dan laboratorium normal

 

Komplikasi 

  • Kehilangan kemampuan untuk dapat berfungsi atau merawat dirinya sendiri.
  • Kehilangan kemampuan untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
  • Meningkatnya risiko terkena infeksi.
  • Menurunnya angka harapan hidup.
  • Merasa teraniaya atau menjadi stress berat dengan perawatan yang diberikan.
  • Efek samping dari pengobatan yang diberikan

Terapi 

Karena tidak ada obat untuk demensia, yang terbaik yang dapat dilakukan setiap individu adalah mencegahnya berkembang dari tempat awal. Pencegahan ini meliputi hidup yang aktif baik fisik maupun mental. Pada penatalaksanaan hal yang paling utama adalah dapat mengontrol gejala demensia yang timbul. Pengobatan yang diberikan tergantung pada kondisi yang menyebabkan demensia, ada beberapa pasien yang harus dirawat jangka waktu singkat dirumah sakit.

Menghentikan atau mengubah pengobatan yang telah dijalani yang di mana obat – obatan tersebut memperburuk keadaan pasien, mungkin dapat meningkatkan fungsi otak. Contoh obat – obatan tersebut adalah anticholinergic, analgetik, cimitidine, central nervous system depressants, dan lidocaine. Selain itu juga perlu diperbaiki dari keadaan pasien seperti gagal jantung, hipoksia, penyakit tiroid, anemia, gangguan nutrisi, infeksi, depresi,dll

Obat-obat yang digunakan:

Penghambat-penghambat asetilkolinesterase

Tacrine (Cognex), donepezil (Aricept), galantamine (Reminyl), dan rivastigmine (Exelon) disetujui oleh Administrasi pangan dan  Pemberian Obat Amerika Serikat dan (FDA) untuk perawatan dari Demensia yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer. Obat-obat ini bisa bermanfaat untuk penyakit-penyakit yang serupa yang lain yang menyebabkan demensia seperti Parkinsons atau demensia  vaskuler

N-methyl-D-aspartate Blockers

Obat-obat di dalam kelas ini yang dikenal sebagai N-methyl-D-aspartate (NMDA) blockers termasuk memantine (Namenda), yang sudah disetujui oleh FDA untuk perawatan dari demensia moderate hingga berat.

Amiloid deposit inhibitor

Minocycline dan Clioquinoline, antibiotik, dapat membantu mengurangi deposit amiloid di dalam otak-otak dari orang-orang dengan Alzheimer

Obat-obat antipsikotik

Haloperidol (Haldol), risperidone (Risperdal), olanzapine (Zyprexa), dan quetiapine (Seroquel) sering digunakan untuk membantu mengatasi penyakit kejiwaan(psikotic) dan peradangan. Pengobatan dari demensia berhubungan penyakit demensia atau peradangan diharapkan mengurangi gejala-gejala psikotik (sebagai contoh, paranoia, delusi, halusinasi-halusinasi), jeritan, atau kekerasan

Obat-obat Antidepressan

Depresi adalah sering dihubungkan dengan demensia dan secara umum bertambah buruk derajat kognitif dan perusakan/pelemahan tingkah laku. Antidepressan bisa sangat menolong di dalam mengurangi gejala-gejala kognitif dan perilaku oleh pengaturan pengambilan kembali neurotransmiter melalui pengambilan kembali dari serotonin, noradrenalin dan dopamine.

Obat antiansietas

Banyak pasien-pasien dengan demensia mengalami gejala-gejala kecemasan. Meski benzodiazepin seperti diazepam (Valium) telah digunakan untuk,mengatasi kecemasan, obat tersebut sering dihindari karena dapat meningkatkan agitasi pada penderita demensia Buspirone (Buspar) sering pada awalnya dicoba untuk ansietas ringan hingga moderat.

Prognosis

Prognosisnya sangat bervariasi. Demensia biasanya semakin lama akan menjadi semakin buruk dan mengakibatkan menurunnya kualitas hidup dan angka harapan hidup.

Leave a comment

Filed under Ilmu saraf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s