Ruptur uteri

Ruptura uteri pada kehamilan, merupakan salah satu dari komplikasi obstetri yang sangat serius. Komplikasi ini berhubungan erat dengan angka kematian dan angka kesakitan dari bayi dan ibu bersalin. Jika pasien dapat selamat, ada kemungkinan fungsi reproduksinya berakhir dan proses penyembuhannya sering kali memakan waktu yang cukup lama. Pada sebuah penelitian selama 10 tahun, yaitu dari tahun 1987-1997 di Nova Scotia, Kanada, didapatkan 114.933 persalinan dengan 39 kasus ruptura uteri: 18 ruptura komplit dan 21 inkomplit (dehisensi). 36 wanita memiliki riwayat seksio sesarea: 33 dengan insisi low transverse, 2 insisi klasik, dan 1 dengan insisi low vertical. Dari 114.933 persalinan tersebut, sebanyak 11.585 (10%) adalah wanita sengan riwayat seksio sesarea dan angka kejadian ruptura uteri komplit adalah sebanyak 2,4 per 1000 persalinan dan dehisensi sebanyak 2,4 per 1000 persalinan. Tidak terjadi kematian maternal, namun terdapat 2 kematian perinatal pada ruptura uteri komplit.

     Di Indonesia sendiri  frekuensi ruptura uteri di rumah sakit-rumah sakit besar berkisar antara 1:92 sampai 1:294 persalinan. Angka-angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Sebagai penyebab utama terjadinya ruptura uteri adalah trauma dorongan, yang biasanya dilakukan oleh para dukun saat menolong persalinan. Hal ini sesuai dengan kesimpulan dari Hassel pada penelitian tentang ruptura uteri di daerah Jawa Tengah.

      Berdasarkan kepustakaan yang ada beberapa faktor yang merupakan penyebab terjadinya ruptura uteri di antaranya adalah : 1) parut uterus (seksio sesaria, miomektomi, abortus sebelumnya), 2) trauma (kelahiran operatif: versi, ekstraksi bokong, forceps perangsangan oksitosin yang berlebihan, kecelakaan, pemasangan misoprostol yang berlebihan), 3) ruptura uteri spontan yang tidak berparut (disproporsi kepala panggul, malpresentasi janin, anomali janin, leiomioma uteri dan distosia bahu), 4) faktor-faktor lain (plasenta akreta, inkreta,panyakit trofoblas invasif).

  Dari beberapa kepustakaan disebutkan bahwa multipara merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya ruptura uteri. Hal ini mungkin disebabkan karena pada multipara dinding uterus sudah lemah, karena persalinan sebelumnya menyebabkan luka-luka kecil sehingga di tengah-tengah miometrium terdapat penambahan jaringan ikat yang mengakibatkan kekuatan dinding uterus menjadi berkurang; akibat selanjutnya pada waktu terjadi regangan saat persalinan berikutnya lebih mudah terjadi ruptura uteri.

  Sebagai tindakan terapi terdapat 2 pilihan yakni: histerektomi atau histerorafi. Yang lebih banyak dikerjakan adalah histerektomi dibandingkan dengan histerorafi. Alasan dipilih histerektomi adalah adanya kekhawatiran terjadinya ruptura uteri kembali pada kehamilan berikutnya.

I. DEFINISI  

    Ruptura uteri digolongkan menjadi ruptura uteri lengkap dan ruptura uteri tidak lengkap, tergantung apakah laserasi tersebut berhubungan dengan kavum peritonei (lengkap) atau dipisahkan dari kavum tersebut oleh peritoneum viseralis uterus atau oleh ligamentum kardinale (tidak lengkap). Ruptura uteri yang tidak lengkap bisa berubah menjadi lengkap.

Untuk Lengkap nya klik here

Advertisements

Leave a comment

Filed under Obstetri Ginekologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s